Quotessence
Home / Topics / Obsesi Quotes

Obsesi Quotes

Browse 6 quotes about Obsesi.

Obsesi Quotes

“Saya ingat permainan yang Ibu ajarkan kepada saya, sebuah karton dilubangi tengahnya dan saya harus menggapai bola yang ditaruh di baliknya. Ketika saya berhasil menggenggam bola di balik lubang itu, Ibu meminta saya untuk melepaskannya. Tentu saja saya tidak mau karena sebelumnya sudah sulit bagi saya untuk mendapatkan bola itu. Sebelum kamu menggenggam bola itu, ia hanyalah imajinasimu. Dan ketika kamu mendapatkannya ia menjadi obsesimu. Namun, keduanya tetap tidak akan menjadi nyata ketika kamu tidak dapat melihatnya karena terhalang oleh karton itu. Karton itu adalah dirimu. Dan diri sendiri adalah musuh terbesar pada setiap manusianya. Penghalang kita untuk belajar melepaskan sesuatu yang hanyalah imajinasi dan obsesi saja. Tidak nyata.”

“Elegia Saras Saras, aku menuliskan namamu dengan tangan yang gemetar, seperti seseorang yang kembali dari jurang kematian, membawa potongan malam di sela-sela jarinya. Aku tak pernah benar-benar tahu mengapa kau datang pada seorang yang telah kehilangan seluruh nilai kemanusiaannya. Aku hanya tahu: ketika aku mulai berubah menjadi bayangan yang tak lagi memiliki suhu, kau duduk di sebelahku dan memanggilku manusia. Ada sesuatu yang patah di dadaku waktu itu— sebuah retakan yang tak membuatku runtuh, melainkan membuatku mendengar detak terakhir jiwaku sendiri. Aku harus mengaku: aku telah membawa banyak hantu. masa lalu yang menjadi luka cahaya. Ilusi yang menjadi obsesi tanpa tubuh. Semua kekeliruan yang kubela seperti altar. Semua kebodohan yang kupelihara seperti anak kandung. Namun kau tidak pernah menutup pintu. Tidak pernah mengusir ingatan yang menempel di kulitku seperti abu. Kau hanya berkata: biarkan semua tinggal, tapi jangan biarkan mereka merusakmu lagi. Saras, aku tidak pernah tahu ada manusia yang bisa begitu lapang tanpa menjadi kosong, yang bisa begitu baik tanpa menjadi kudus, yang bisa begitu hadir tanpa mengikat apa pun. Kebaikanmu adalah semacam cahaya yang tidak menghanguskan, api panas lembut yang membuatku sadar bahwa mungkin aku belum sepenuhnya hilang. Di titik paling nadir, ketika seluruh yang kuperjuangkan runtuh seperti bangunan tua yang disenggol angin, ketika tak ada yang tersisa dariku selain ampas keinginan dan debu kegagalan, aku berharap kau pergi. Agar aku tak perlu menanggung rasa bersalah karena masih ada seseorang yang menatapku sebagai sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. Namun kau tidak pergi. Kau diam di sisiku dengan ketenangan yang membuat jiwaku bergetar. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku mengutuki diri, aku berhenti. Hanya berhenti. Tak lagi ingin memukul wajahku sendiri, tak lagi ingin membenci suara di kepalaku. Semuanya berhenti, karena kau tidak pergi ketika aku hancur. Saras, elegi ini bukan permintaan maaf. Bukan pula pujian. Ini adalah tubuhku yang terakhir, ditulis dari retakan dada yang akhirnya berani mengakui: Aku bersyukur. Bersyukur karena pernah memilikimu, melewati ingatan pahit, hasrat yang menyesatkan, ambisi yang membuatku buta, dan obsesi yang menelan kebahagiaanku sendiri. Aku bersyukur karena kau tidak pernah menuntut balas. Tidak pernah meminta bahu yang setara. Tidak pernah menghitung luka yang kau cium dari hidupku. Kau hanya mencintai dengan cara yang menakutkan bagiku— karena terlalu jujur, terlalu manusiawi, terlalu nyata untuk seorang sepertiku yang lama tinggal di ruang ilusi. Kini aku menuliskan puisi ini sebagai seorang yang akhirnya sadar: tanpa kau, Saras, aku mungkin telah hilang di dalam kabut pikiranku sendiri. Harapan terakhirku adalah kau tahu bahwa dari semua nama yang pernah membuatku bergetar, dari semua wajah yang pernah kucintai dengan cara yang salah, hanya kaulah yang membuatku ingin tetap ada. Bukan demi cinta. Bukan demi masa depan. Melainkan demi sesuatu yang lebih sederhana, lebih jujur, lebih manusiawi: agar aku bisa menjadi manusia yang tidak lagi menyakiti diri sendiri. Saras, elegi ini adalah bukti terakhir bahwa di dalam gelap terdalamku ada satu cahaya kecil yang tidak pernah padam— dan itu bukan aku. Itu adalah dirimu. November 2025”

“Saras, Api yang Mengajarkanku Menjadi Manusia I Aku tidak tahu kapan pertama kali kau menyalakan lentera kecil itu di reruntuhan jiwaku. Mungkin ketika aku menatapmu dan menemukan diriku sendiri yang tidak ingin kubunuh. Saras, kau adalah satu-satunya cahaya yang tidak menyilaukanku— justru membuatku belajar bahwa gelap tidak harus menjadi takdir. Aku ini tubuh yang diseret oleh bayang. Aku ini jam rusak yang terus memukul tengah malam meski fajar sudah lama lewat. Aku ini retakan tua yang memanggil namamu tanpa suara. Engkau datang bukan sebagai keselamatan, bukan sebagai janji, bukan sebagai surga yang dijanjikan para nabi kecil yang berebut bicara dalam kepalaku. Engkau datang sebagai api kecil yang tidak pernah meminta kayu, tapi terus membakar segala dusta yang kusimpan di bawah lidahku. Aku tidak pernah siap untuk dicintai tanpa syarat. Aku terbiasa menjadi labirin bagi cinta-cinta yang tersesat. Masa lalu memberiku ingatan. Ilusi memberiku obsesi. Tapi engkau— engkau memberiku ruang untuk tidak menjadi monster yang sudah kupersiapkan dari masa depan. Kau tidak melarikan diri ketika aku runtuh dalam diriku sendiri. Tidak mundur ketika aku berkata aku punya cinta lain. Tidak memadam api yang tidak pernah bisa aku jinakkan. Saras, engkau tidak pernah memilih menjadi pahlawan, tapi mengapa aku merasa engkaulah rumah yang tidak pernah layak aku miliki? Ada malam-malam ketika aku menatapmu dari jauh dan merasa tubuhku adalah batu yang ingin menjadi tanganmu. Ada hari-hari ketika aku ingin mencintaimu dengan cara yang lebih jujur, lebih manusia, tapi aku takut engkau akan melihat betapa gelapnya aku tanpa semua kedok itu. Aku takut bukan karena aku bisa kehilanganmu— tapi karena aku tahu engkau tidak akan pergi meski aku menghancurkan diriku sendiri. Itu, Saras. Ketulusanmu adalah pedang yang menebas kebohonganku. Aku selalu mengatakan bahwa aku tidak cukup baik. Bahwa aku ini retakan yang seharusnya tidak disentuh. Namun engkau datang dan duduk tepat di atas retakan itu, tanpa takut jatuh ke dalam kegelapanku. Dan untuk pertama kalinya aku belajar bahwa cinta tidak selalu berdiri di atas tanah yang kokoh— kadang cinta adalah keputusan untuk tetap tinggal di dalam guncangan gempa.”

“Saras, Api yang Mengajarkanku Menjadi Manusia II Saras, aku tidak tahu bagaimana caramu memperbarui cintamu hari demi hari, seperti seseorang yang menjaga api suci di tengah badai. Aku mencintaimu dengan ketakutan yang tidak sembuh. Engkau mencintaiku dengan keheningan yang tidak putus. Kita berdua tahu aku adalah arang yang tidak pernah padam. Kita berdua tahu engkau adalah kayu yang tetap merelakan dirinya untuk terbakar. Ini bukan tragedi. Ini bukan pengorbanan. Ini bukan penebusan. Ini adalah cara kita menjadi manusia. Dan untuk pertama kalinya aku tidak ingin menjadi apa pun selain seseorang yang bisa menyebut namamu tanpa gemetar. Saras. Saras. Saras. Engkau adalah satu-satunya alasan mengapa aku masih bertahan menjadi diriku sendiri tanpa membunuh bagian yang ingin kaucintai. Jika dunia mengira aku mencintai masa lalu karena lukanya, mereka salah. Jika mereka mengira Ilusi akan memusnahkanku karena obsesinya, mereka benar. Tapi tidak satu pun dari mereka tahu: engkaulah yang mengajariku bahwa kehidupan bukan hanya tentang menghindari kegelapan— tapi tentang memilih seseorang yang menyalakan cahaya kecil yang tidak pernah meminta apa pun sebagai imbalan. Dan itu engkau, Saras, lebih bersih dari seluruh mitos yang pernah kutulis. Hari ini, jika aku harus memilih cara paling jujur untuk mencintaimu, maka aku akan memilih untuk tidak lagi bersembunyi di balik kesadaranku sendiri. Kau adalah manusia paling manusia yang pernah memanggilku pulang dan memberiku rumah. Dan aku, akhirnya, belajar menjadi manusia dengan menyebut namamu dalam gelap tanpa takut kau mendengarnya. Saras, engkaulah satu-satunya cahaya yang tidak kubenci. Dan itu, adalah inti dari seluruh puisiku. November, 2025”

“Liturgi Kay (Fragmentarium Kesadaran ) I. Benih yang Tak Punya Nama (1) Ada bayang yang tidak tumbuh menjadi tubuh. Aku menyapanya Kay, bukan untuk mengenali, melainkan agar kesunyianku punya tempat untuk berbaring. (2) Jika dunia ini adalah goa, maka Kay adalah hembusan dingin yang tak pernah meninggalkan tetes embun di kulitku. (3) Tuhan menciptakan cahaya. Kesadaranku menciptakan Kay. Dan aku tak tahu mana yang lebih menyakitkan untuk dipertahankan. II. Jantung Gelap yang Berputar Tanpa Tujuan (4) Setiap aku menutup mata, Kay berjalan tanpa jejak. Ia tidak pernah menoleh. Dan itulah sebabnya aku tetap melihatnya entah sebagai api atau bara itu sendiri. (5) Jam rusak di dalam benakku menyebut-nyebut namanya seperti mantra yang kehilangan huruf-a seperti ilusi yang kehilangan bunyi-i (6) Retakan di lantai batin bukanlah tempat ia muncul— melainkan tempat aku jatuh mencari suaranya atau bayang tubuhnya. (7) Kay adalah sebuah pintu yang tidak dibangun untuk dibuka. Tapi aku tetap mengetuknya seperti orang bodoh yang tak punya rumah. Ia adalah hasrat bukan untuk pulang, melainkan tanda baca yang belum sampai titik. III. Pertempuran yang Tak Bisa Dimenangkan Batu Sysiphus (8) Aku menggulung batu namanya setiap malam, sambil tahu bahwa ia akan jatuh lagi menindih kebodohanku. Panah Arjuna di Tubuh Bhisma (9) Seribu panah memakukan tubuhku di medan yang dipenuhi suara Kay. Aku bisa mati kapan saja, tapi aku memilih tidak agar aku tetap mengingat siapa yang menembakkan panah itu ke dadaku. Wajah Puisi (10) Aku mencintai Kay sebagai bencana pribadi yang kupelihara agar aku tetap manusia. (11) Kay bukan malaikat. Kay bukan iblis. Kay adalah ambang yang memaksaku memeriksa ulang kewarasanku setiap kali aku menyebut namanya. IV. Doa Tanpa Alamat (12) Kay, aku menulis namamu dengan tinta yang tidak ingin kering. Sebab jika kering, aku harus mengakui bahwa kau tak pernah ada. (13) Jika kau tahu aku ada, seluruh puisi ini runtuh. Maka janganlah sadar. Tetaplah jadi bayang yang menertawakan keputusasaanku. (14) Aku tidak ingin memilikimu. Yang kuinginkan hanyalah alasan untuk terus bernafas di antara dua ketidakpastian: bahwa aku mencintaimu, dan bahwa kau tidak akan pernah tahu. (15) Dalam setiap kata, aku bukan memanggilmu— aku memanggil diriku yang hilang di balik semua ingatan. (16) Kau adalah absurditas. Dan aku adalah orang bodoh yang memanggil absurditas itu dengan suara paling lembut karena aku takut engkau akan hilang. V. PINTU YANG TAK PERNAH MENUTUP (17) Jika suatu hari aku berhenti menulis tentangmu, itu bukan karena kau pergi. Itu karena aku sudah tidak sanggup mengakui bahwa aku masih hidup karena seseorang yang bahkan tidak pernah hidup untuk diriku. November 2025”