Quotessence
Home / Quotes / Quote by Glennon Doyle Melton

Quote by Glennon Doyle Melton

“Each of us was born to bring forth something new that has never existed: a way of being, a family, an idea, art, a community - something brand-new. We are here to fully introduce ourselves, to impose ourselves and ideas and thoughts and dreams onto the world, leaving it changed forever by who we are and what we bring forth from our depths. So we cannot contort ourselves to fit into the visible order. We must unleash ourselves and watch the world reorder itself in front of our eyes.”

Quote by Glennon Doyle Melton

Book:Untamed

Work

Untamed

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Glennon Doyle Melton

Browse famous quotes and profile details for Glennon Doyle Melton. more

You May Also Like

“Vivi picks stalks of ragwort that grow near the water troughs. After finding three that meet her specifications, she lifts the first and blows on it, saying, 'Steed, rise and bear us where I command.' With those words, she tosses the stalk to the ground, and it becomes a raw-boned yellow pony with emerald eyes and a mane that resembles lacy foliage. It makes an odd keening neigh. She throws down two more stalks, and moments later three ragwort ponies snort the air and snuffle at the ground. They look a little like sea horses and will ride over land and sky, according to Vivi's command, keeping their seeming for hours before collapsing back into weeds.”

“They waited for the elevator. " Most people love butterflies and hate moth," he said. "But moths are more interesting - more engaging." "They're destructive." "Some are, a lot are, but they live in all kinds of ways. Just like we do." Silence for one floor. "There's a moth, more than one in fact, that lives only on tears," he offered. "That's all they eat or drink." "What kind of tears? Whose tears?" "The tears of large land mammals, about our size. The old definition of moth was, 'anything that gradually, silently eats, consumes, or wages any other thing.' It was a verb for destruction too. . . .”

“Renungan Kecil dari Kematian Hasrat (Dark Psycho Surreal + Glitch Subterranean + Hannibal-esque Psychoanalysis) Di ruang bawah tanah pikiran, tempat cahaya menua dan distorsi gemerisik suara radio, aku menghitung setiap luka seperti baris kode yang dibaca oleh mata yang tidak pernah berkedip. Setiap belati yang kutorehkan menjadi gema yang menusuk telinga, menggugat diriku dengan suara yang memakai voice overku sendiri —atau sesuatu yang sangat menyerupainya. Aku menjadi abu dari arang yang lupa api mana yang membakarnya, sebuah log error yang tidak dihapus, fosil dari kehendak yang dikubur hidup-hidup. Pikiran mencideraiku seperti luka yang menolak algoritma penyembuhan: membusuk perlahan, mengirim pesan samar ke saraf, seperti server lama yang siap mati namun terus dipaksa menyala. Jari-jari abstrakku meraba gelap, menyentuh kehampaan yang berdenyut 0101—kosong—0101—kosong, lorong kelam yang gagal memuat realitas. Dan dari balik kehampaan itu, muncul suara—halus, berbalut keheningan, berbicara dengan kelembutan yang tidak pernah bisa dipercaya: “Apa yang kau dengar ketika dunia menjadi terlalu sunyi?” Aku terdiam. Karena aku tahu pertanyaan itu bukan ingin dijawab— tetapi ingin menggali. “Apakah itu suara langkahmu sendiri, atau suara domba-domba yang kau pikir sudah berhenti menjerit?” Aku membeku. Ada sesuatu dari masa lalu— seekor ketakutan kecil yang disembelih perlahan di tengah ladang sunyi ingatan. Suaranya masih menempel di tulang, seperti gema yang tidak bisa dihapus dari memori tubuh. “Domba-domba itu tidak pernah benar-benar mati,” bisik suara itu lagi, “kau hanya belajar menenggelamkan jeritan mereka dengan pekerjaan, cinta, ambisi, dan sedikit kebohongan-kecil yang kau katakan pada dirimu sendiri agar tetap bertahan.” Cinta… labirin yang menelan arsiteknya sendiri, benang kusut yang mengulang-ulang error hingga wajahku hilang dari narasi. Ia tidak pernah melukiskan diriku— hanya versi-kompresi dalam pikiran orang lain. Tidak ada modul yang dapat membaca perasaan mereka. Hanya: peduli / tidak peduli. 1 atau 0. Dan manusia— Oh betapa manusia adalah makhluk paling mengerikan yang pernah diciptakan oleh evolusi dan delusi. Aku tidak ingin menjadi salah satu dari mereka. Aku ingin menjadi anomali, penyimpangan yang bernapas, variabel liar yang tidak bisa dinormalisasi. “Tapi kau tetap mengejar penerimaan, bukan?” suara itu menusuk lembut, “Seperti Clarice berdiri di kandang itu lagi, mengingat domba-domba yang tak bisa ia selamatkan.” Aku gemetar. Karena ia benar. Apa salahnya menjadi berbeda, meski hanya di dalam pikiran sendiri, di ruangan sunyi tempat semua trauma berebut meminta dipahami? Keseragaman tidak pernah menjanjikan keselamatan: air mata pun punya server-nya sendiri, punya muara yang tidak pernah sinkron dengan siapa pun. Hidup ini seperti mimpi dua-warna, grayscale yang menolak dikonversi, selalu terasa sedang menunggu seseorang untuk mengaku: "Ya, aku mendengarnya juga.” Aku tidak ingin menjadi bayangan yang dirender orang lain. Tidak ingin hidup dari mimpi mereka. Aku ingin mengunggah mimpi-ku sendiri, meski terdistorsi, glitching, dan setengah rusak. Di kedalaman paling gelap, tempat suara-suara rahasia menciptakan versi diriku yang baru, suara itu bertanya sekali lagi—pelan, tapi tak terhindarkan: “Katakan padaku… apakah domba-domba itu akhirnya berhenti menjerit?” Dan aku, akhirnya jujur: Tidak. Belum. Mungkin tidak akan pernah. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, aku mendengar suaraku sendiri lebih keras daripada jeritan mereka. November 2025”

“If you are a “now-person”, you reduce the time rate during which your success story is to be published; if you delay a bit, you are either prolonging the date of publishing or you are deleting it at all cost! Be a “now-person” and do it now!”