Quotessence
Home / Quotes / Quote / Image

Quote image editor Titon Rahmawan

Back to previous page

“SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI I. Waktu yang Menggeser Kursi dan Menutup Pintu Setiap sejarah dimulai dari bunyi lirih yang nyaris tak terdengar: jarum jam yang disentuh tangan perempuan muda yang tidak pernah meminta apa pun dari dunia, kecuali keadilan yang tidak dijual per kilo di pasar dan kerja yang tidak dicurangi dengan sekadar angka. Ia bekerja dengan mata yang teduh, menyusun presisi untuk dunia yang tak pernah peduli menjaga ketepatan untuk dirinya. Di bawah kuku-kukunya, waktu bernafas. Di atas kepalanya, kekuasaan menunggu kesempatan. II. Mesin Kekuasaan yang Selalu Menuntut Korban Kalian bertanya: bagaimana melawan kekerasan? Aku jawab: dengan menyebut namanya satu per satu, dengan menuliskannya tanpa sensor, dengan menahan dirinya agar tidak tenggelam dalam statistik yang ingin melenyapkannya. Mayat perempuan itu bukan korban. Ia bukti, jelas dan kasat mata! Ia menunjukkan bahwa kekuasaan bukanlah rumah: ia adalah mesin yang berjalan tanpa oli nurani, yang selalu mencari tubuh lunak untuk mengganti bagian yang aus. Dan di tahun yang naas itu, yang mereka temukan adalah dia. III. Adegan yang Tidak Pernah Disiarkan Televisi Mereka menjemputnya— dengan tangan yang tidak gemetar, dengan doa yang tidak pernah mereka ucapkan, dengan wajah yang disetrika licin oleh perintah atasan. Ia, sendirian. Mereka, berjamaah. Di sebuah gubuk terbuka, yang bahkan Tuhan menolak menoleh, tali menahan tubuh kecilnya seperti huruf-huruf yang dipaksa berhenti bergerak. Pentungan menghantam kepalanya berulang kali sampai suara itu tidak lagi terdengar sebagai pukulan, melainkan sebagai ritual kuno yang diwariskan dari satu kekuasaan ke kekuasaan berikutnya. Itu bukan kekejaman. Itu metode.” — Titon Rahmawan

Quote 1080 x 1350 Instagram portrait
More
Platforms
Pure ratios
SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI I. Waktu yang Menggeser Kursi dan Menutup Pintu Setiap sejarah dimulai dari bunyi lirih yang nyaris tak terdengar: jarum jam yang disentuh tangan perempuan muda yang tidak pernah meminta apa pun dari dunia, kecuali keadilan yang tidak dijual per kilo di pasar dan kerja yang tidak dicurangi dengan sekadar angka. Ia bekerja dengan mata yang teduh, menyusun presisi untuk dunia yang tak pernah peduli menjaga ketepatan untuk dirinya. Di bawah kuku-kukunya, waktu bernafas. Di atas kepalanya, kekuasaan menunggu kesempatan. II. Mesin Kekuasaan yang Selalu Menuntut Korban Kalian bertanya: bagaimana melawan kekerasan? Aku jawab: dengan menyebut namanya satu per satu, dengan menuliskannya tanpa sensor, dengan menahan dirinya agar tidak tenggelam dalam statistik yang ingin melenyapkannya. Mayat perempuan itu bukan korban. Ia bukti, jelas dan kasat mata! Ia menunjukkan bahwa kekuasaan bukanlah rumah: ia adalah mesin yang berjalan tanpa oli nurani, yang selalu mencari tubuh lunak untuk mengganti bagian yang aus. Dan di tahun yang naas itu, yang mereka temukan adalah dia. III. Adegan yang Tidak Pernah Disiarkan Televisi Mereka menjemputnya— dengan tangan yang tidak gemetar, dengan doa yang tidak pernah mereka ucapkan, dengan wajah yang disetrika licin oleh perintah atasan. Ia, sendirian. Mereka, berjamaah. Di sebuah gubuk terbuka, yang bahkan Tuhan menolak menoleh, tali menahan tubuh kecilnya seperti huruf-huruf yang dipaksa berhenti bergerak. Pentungan menghantam kepalanya berulang kali sampai suara itu tidak lagi terdengar sebagai pukulan, melainkan sebagai ritual kuno yang diwariskan dari satu kekuasaan ke kekuasaan berikutnya. Itu bukan kekejaman. Itu metode.
— Titon Rahmawan