Quotessence
Home / Quotes / Quote by Titon Rahmawan

Quote by Titon Rahmawan

“SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI I. Waktu yang Menggeser Kursi dan Menutup Pintu Setiap sejarah dimulai dari bunyi lirih yang nyaris tak terdengar: jarum jam yang disentuh tangan perempuan muda yang tidak pernah meminta apa pun dari dunia, kecuali keadilan yang tidak dijual per kilo di pasar dan kerja yang tidak dicurangi dengan sekadar angka. Ia bekerja dengan mata yang teduh, menyusun presisi untuk dunia yang tak pernah peduli menjaga ketepatan untuk dirinya. Di bawah kuku-kukunya, waktu bernafas. Di atas kepalanya, kekuasaan menunggu kesempatan. II. Mesin Kekuasaan yang Selalu Menuntut Korban Kalian bertanya: bagaimana melawan kekerasan? Aku jawab: dengan menyebut namanya satu per satu, dengan menuliskannya tanpa sensor, dengan menahan dirinya agar tidak tenggelam dalam statistik yang ingin melenyapkannya. Mayat perempuan itu bukan korban. Ia bukti, jelas dan kasat mata! Ia menunjukkan bahwa kekuasaan bukanlah rumah: ia adalah mesin yang berjalan tanpa oli nurani, yang selalu mencari tubuh lunak untuk mengganti bagian yang aus. Dan di tahun yang naas itu, yang mereka temukan adalah dia. III. Adegan yang Tidak Pernah Disiarkan Televisi Mereka menjemputnya— dengan tangan yang tidak gemetar, dengan doa yang tidak pernah mereka ucapkan, dengan wajah yang disetrika licin oleh perintah atasan. Ia, sendirian. Mereka, berjamaah. Di sebuah gubuk terbuka, yang bahkan Tuhan menolak menoleh, tali menahan tubuh kecilnya seperti huruf-huruf yang dipaksa berhenti bergerak. Pentungan menghantam kepalanya berulang kali sampai suara itu tidak lagi terdengar sebagai pukulan, melainkan sebagai ritual kuno yang diwariskan dari satu kekuasaan ke kekuasaan berikutnya. Itu bukan kekejaman. Itu metode.”

Quote by Titon Rahmawan

Author

Titon Rahmawan

Browse famous quotes and profile details for Titon Rahmawan. more

You May Also Like

“SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI IV. Perempuan yang Dikirim Pulang Tanpa Suara Ketika tubuhnya ditemukan, waktu tidak berani mencatat jam kematiannya. Jarum-jarum yang dulu ia rawat menolak bergerak, seolah-olah mereka pun tahu bahwa tidak pantas mengukur detik akhir seorang manusia yang kepalanya dipecahkan karena mengatakan kebenaran. V. Puisi yang Berbicara Aku tidak menuliskan ini untuk membesarkan trauma, atau menghidupkan kembali luka yang sebagian orang ingin lupakan. Aku menuliskan ini karena diam berarti bersekutu, dan kalian sudah terlalu lama mengolesi bibir kalian dengan sunyi yang memalukan. Kalian bertanya: bagaimana melawan budaya kekerasan yang menjadi komoditas? Dengarkan jawabanku: Tidak dengan maaf. Tidak dengan lembut ampunan. Tidak dengan doa yang kalian tidak sungguh-sunguh percaya. Tetapi dengan amarah yang presisi, amarah yang bukan ledakan tanpa arah, melainkan amarah yang tahu siapa yang harus bertanggung jawab dan siapa yang harus selamanya menggantikan wajahnya dengan wajah perempuan muda itu. VI. Perempuan yang Tidak Berhasil Dibunuh Waktu Mereka mengira telah mematikan suara perempuan itu. Waktu mengira ia telah selesai dengan mayatnya. Kekuasaan mengira ia telah memenangkan pertempuran. Tapi lihatlah: bahkan setelah tulangnya membiru, ia masih menyebut nama kalian satu per satu seperti saksi yang tidak mau berhenti bicara. Kalian yang membaca ini, kalian yang menunduk, kalian yang menggigil, kalian sedang berdiri di depan tubuhnya yang remuk, dan ia bertanya: “Apa yang akan kau lakukan agar aku tidak mati lagi besok pagi?” VII. Algo ex Machina: Harapan dari Segenggam Palu Dan jika yang kalian sebut harapan hanya sisa kecil dari keberanian manusia yang tidak sempat tumbuh karena dibungkam di dekat hutan jati, maka biarkan aku, mesin, mengambil palu yang jatuh dari tangan Tuhan dan mengangkatnya untuk kalian. Bukan untuk memukul balik dengan kekerasan, tetapi untuk memecahkan topeng-topeng busuk yang membuat kalian buta terhadap tubuh yang digelandang tanpa pulang kembali. Harapan bukan lilin. Harapan adalah logam: pecah, panas, tak bisa dihancurkan bahkan oleh negara. Dan jika dunia ingin tahu apa yang tersisa dari serpihan tubuhnya jawab saja: “Semuanya.” Ia masih hidup di setiap ketidakadilan yang kalian tolak. Ia masih hidup di setiap kebenaran yang tidak berani kalian ucapkan. Ia masih hidup di setiap amarah yang tidak sempat kalian kubur. Mei 2024 - revisi 2025”

“Bapak pernah dengar ini. You can buy clock sir, but not time. Waktu tak bisa diulang. Pembelajaran untuk lebih waspada esok lusa,” jawab sosok yang memperkenalkan diri dengan nama Julia. “Lagipula uang bukan segalanya, Pak. Ada banyak hal yang tak bisa dibeli dengan uang. You can buy blood, but not life. Lihat betapa banyak mereka yang punya uang dan kekuasaan, tapi tak pernah merasa puas. Sebaliknya mereka yang hidup bersahaja, merasa kaya. Karena syukur tak pernah lepas dari hatinya,” sahutnya makin antusias. (Bidadari Jalanan, Dunia Tanpa Huruf R)”