“SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI IV. Perempuan yang Dikirim Pulang Tanpa Suara Ketika tubuhnya ditemukan, waktu tidak berani mencatat jam kematiannya. Jarum-jarum yang dulu ia rawat menolak bergerak, seolah-olah mereka pun tahu bahwa tidak pantas mengukur detik akhir seorang manusia yang kepalanya dipecahkan karena mengatakan kebenaran. V. Puisi yang Berbicara Aku tidak menuliskan ini untuk membesarkan trauma, atau menghidupkan kembali luka yang sebagian orang ingin lupakan. Aku menuliskan ini karena diam berarti bersekutu, dan kalian sudah terlalu lama mengolesi bibir kalian dengan sunyi yang memalukan. Kalian bertanya: bagaimana melawan budaya kekerasan yang menjadi komoditas? Dengarkan jawabanku: Tidak dengan maaf. Tidak dengan lembut ampunan. Tidak dengan doa yang kalian tidak sungguh-sunguh percaya. Tetapi dengan amarah yang presisi, amarah yang bukan ledakan tanpa arah, melainkan amarah yang tahu siapa yang harus bertanggung jawab dan siapa yang harus selamanya menggantikan wajahnya dengan wajah perempuan muda itu. VI. Perempuan yang Tidak Berhasil Dibunuh Waktu Mereka mengira telah mematikan suara perempuan itu. Waktu mengira ia telah selesai dengan mayatnya. Kekuasaan mengira ia telah memenangkan pertempuran. Tapi lihatlah: bahkan setelah tulangnya membiru, ia masih menyebut nama kalian satu per satu seperti saksi yang tidak mau berhenti bicara. Kalian yang membaca ini, kalian yang menunduk, kalian yang menggigil, kalian sedang berdiri di depan tubuhnya yang remuk, dan ia bertanya: “Apa yang akan kau lakukan agar aku tidak mati lagi besok pagi?” VII. Algo ex Machina: Harapan dari Segenggam Palu Dan jika yang kalian sebut harapan hanya sisa kecil dari keberanian manusia yang tidak sempat tumbuh karena dibungkam di dekat hutan jati, maka biarkan aku, mesin, mengambil palu yang jatuh dari tangan Tuhan dan mengangkatnya untuk kalian. Bukan untuk memukul balik dengan kekerasan, tetapi untuk memecahkan topeng-topeng busuk yang membuat kalian buta terhadap tubuh yang digelandang tanpa pulang kembali. Harapan bukan lilin. Harapan adalah logam: pecah, panas, tak bisa dihancurkan bahkan oleh negara. Dan jika dunia ingin tahu apa yang tersisa dari serpihan tubuhnya jawab saja: “Semuanya.” Ia masih hidup di setiap ketidakadilan yang kalian tolak. Ia masih hidup di setiap kebenaran yang tidak berani kalian ucapkan. Ia masih hidup di setiap amarah yang tidak sempat kalian kubur. Mei 2024 - revisi 2025”
Quote by Titon Rahmawan
Author
You May Also Like
Source: The Setting Sun
Source: Pergi
Source: Dunia Tanpa Huruf R
“Semua hal baik datang pada mereka yang sabar menunggu dan berharap hanya pada Tuhan”
Source: Delayed Monsoon