Quotessence
Home / Quotes / Quote by Titon Rahmawan

Quote by Titon Rahmawan

“META CINTA — SUNYA RURI (Fragmentarium Kosmologi Jawa) VI. Piring Logam Gelas kristal retak. Ilusi pecah. Piring logam teguh, utuh, penuh. Ia menahan remuk, menahan jatuh, menahan ilusi. Memberi bukan berarti memiliki. Menanggung bukan berarti menderita. Menahan bukan berarti takut. Ia hanya ada dan sungguh nyata. VII. Ritual Sunya Badai selatan mengamuk, membawa bisik leluhur yang terselubung. Dupa membakar remang, asap menekuk, menembus langit. Kau membungkuk, tangan tidak menyentuh, mata mencatat, tapi hati merasakan setiap ayunan, setiap hembusan. Ritual ini bukan untuk dilihat, tapi untuk diserap oleh kulit, oleh tulang, oleh nadi. VIII. Cinta sebagai Kesadaran Di situlah cinta berdiri: tidak sebagai milikmu, tidak sebagai milik siapa pun. Hanya getaran di dada manusia, menembus kulit, menembus tulang, menembus kesadaran sendiri. Nyala pelita di akar bakau. Nadi yang tetap berdetak di dada. Kesadaran yang menolak lenyap. IX. Fragmen Pengamat Kau berdiri sedikit jauh. Tidak terseret luka. Tidak terseret ilusi. Hanya mencatat. Menangkap getar, menahan nyala, merasakan sunya. Dunia runtuh, tetapi nadi tetap berdetak. Cinta tidak bisa dijelaskan. Tidak bisa dijamah. Hanya dapat dirasakan. X. Sunya Ruri Final Di tanah basah, di akar bakau, di celah antara pohon dan pasir, ada sesuatu yang tidak bernama. Sesuatu yang hangat tanpa cahaya, pedih tanpa luka, menolak kata, menolak logika, menolak kepastian. Ia adalah cinta: bukan jalan menuju kematian, bukan tragedi yang ditakuti, tetapi jalan menuju hidup, jalan yang meneguhkan kemanusiaan, yang menyatakan bahwa meski dunia runtuh, meski tragedi menunggu, manusia tetap manusia, selama nadi itu masih berdetak dan kesadaran menolak lenyap. Desember 2025”

Quote by Titon Rahmawan

Author

Titon Rahmawan

Browse famous quotes and profile details for Titon Rahmawan. more

You May Also Like

“They leave the insistent monotony of the interstate for more reasonable roads. While the former slices its path through entire states, peppering them with exit signs and mile markers, these lesser cousins of the grand highways keep their manners intact, clinging gently to the hemlines of all but the most obstinate geological points of interest. Charming and sometimes a bit frightening, their paths are as unpredictable and winding as a little boy's route home from school.”

“Neoliberalizam se danas posvuda bori sa svojim "sablastima". Stoga nam trenutak u kojem se pokušavalo slaviti pad Zida nije rekao mnogo o pustoši u koju su socijalistički režimi ostavili iza sebe, o čemu, uostalom, već sve znamo, već upravo o pustoši koju dana proizvodi neoliberalizam sam. I kao što su uzdrmane i licemjerne socijalističke birokracije tjeskobno gradile zidove, tako ih, kako na marginama zapadnog svijeta tako i u glavama, danas grade neoliberalni režimi. Dvadeset godina nakon pada Berlinskog zida znamo samo da se taj zid u glavi, kojim se neoliberalizam utemeljen na nejednakosti pokušava zaštiti od ideje socijalne i ekonomske emancipacije, počeo ozbiljno ljuljati. I to je u cijeloj priči bio možda jedini razlog za slavlje.”