Quotessence
Home / Quotes / Quote by Eileen Granfors

Quote by Eileen Granfors

Author

Eileen Granfors

Browse famous quotes and profile details for Eileen Granfors. more

You May Also Like

“Words didn’t come. I couldn’t formulate a thought. I was too startled. These three figures lying in the sand in front of me weren’t surfers at all. They weren’t even people. From their facial features and upper torsos, they looked kind of like women, but all three of them had silver-colored skin. They were bald, with strange ridges marking their skulls. None of them seemed to have ears, only holes in the sides of their heads. No nose was visible, not even a bone or nostrils filled that space between their eyes and mouths. Although their mouths seemed to be moving, they were actually breathing through what looked like gills in their necks. And if that wasn’t weird enough, instead of legs, their upper torsos stretched out into long, scale-covered, silver fishtails. If I had to say what these things stranded in front of me, splattered with oil, appeared to be, I’d say mermaids. And no, they didn’t look like they’d start singing songs or granting me wishes. They looked a little bit scary—but fragile too. Most of all, they looked like they were going to die, and no handsome prince was there to kiss them and keep them from turning into sea foam.”

“Apakah hal yang kamu lakukan baik atau tidak, keren atau tidak keren sama sekali, pada akhirnya yang memiliki arti bukanlah sesuatu yang bisa dilihat, tetapi apa yang bisa dirasakan oleh hatimu. Agar bisa mengerti sebuah nilai, kadang-kadang kamu harus melakukan sesuatu yang buang-buang waktu. Namun, bahkan suatu tindakan yang kelihatannya sia-sia, tidak selamanya berakhir demikian.”

“Pelukis Goenito melengkapi catatan yang telah ditorehkan Pram, Hersri, dan Gumelar tentang apa yang terjadi di Pulau Buru. Jika Anda membaca catatan dan menyimak sketsa di dalam lembaran-lembaran buku ini, lalu Anda merasa dunia seperti bergetar dan gelap, kuatkan hati dan pikiran. Buru dan semua cerita di dalamnya itu nyata. Pertanyaannya kini, bukan lagi soal apakah semua itu nyata dan fakta, tapi apakah dengan semua kita mau menundukkan kepala, mengakui ada yang salah dari masa lalu kita, dan menghaturkan maaf…”

“Gregorius Soeharsojo adalah saksi Pulau Buru dalam rentang 1969–1979. Dia melawan pembinasaan dengan cara-cara paling dasar; bercerita, menyanyi, bikin tonil, dan menggambar. Dengan nyanyian ia tawar kesepian yang merampas kewarasan; dengan tonil ia tapis keterpisahan yang panjang dari kolektivisme; dan dengan gambar/sketsa ia gubah kesakitan menjadi kesaksian. Ini buku penting yang memberitahu kesaksian atas sebuah orde yang berdiri di atas pemusnahan massal dalam kereta sejarah Indonesia modern.”

“Alam menjadi inspirasiku pertamaku --dan mempelajari alam adalah hasrat pertamaku-- yang kemudian membuat aku menjadi fisikawan. [...] Kenangan paling intim dari masa kecilku adalah tentang pemandangan, suara, rasa, dan bau hutan-hutan Himalaya tempat aku bertumbuh; bagiku mereka adalah buaian fisik dan intelektualku. (p. 2)”

“Because Control knew that belief in a scientific process only took you so far. The ziggurats of illogic erected by your average domestic terrorist as he or she bought the fertiliser or made a detonator took on their own teetering momentum and power. When those towers crashed to the earth, they still existed whole in the perpetrator’s mind, and everyone else’s too – just for different reasons.”