Quotessence
Home / Quotes / Quote by Mehmet Murat Ildan

Quote by Mehmet Murat Ildan

Author

Mehmet Murat Ildan
Mehmet Murat Ildan

Mehmet Murat Ildan is a renowned Turkish writer born on May 16, 1965. His works span various literary forms including novels, essays, and poetry, and have gained widespread popularity among readers. more

You May Also Like

“Bagaimana Anda bisa menciptakan lautan air mata? Sesendok saja pun rasanya tidak mungkin. Bukankah Anda telah berbohong? Ya, saya memang telah berbohong, kata penyair itu setuju dengan pendapatku. Semua kita ini para pembohong. Berlindung di balik kata imajinasi dan metafora-metafora kebohongan. Kebohongan adalah kebohongan. Berbohong dan imajinasi itu sama. Berbohong adalah berimajinasi. Oleh sebab itu aku menangis dalam sujud panjangku yang khusyuk, di depan Kabah itu, memohon ampun dari dosa-dosa berbohong. Meminta pengampunan kepada Allah. Tak ada jalan lain untuk menghapus dosa selain meminta pengampunan dari-Nya. Walau keudian aku akan kembali berbohong. Karena itu adalah profesiku. Berbohong untuk sesuap nasi. Tak ada jalan lain kecuali menciptakan kebohongan.”

“Orang itu mengaku seorang pengarang yang selama hidupnya telah menciptakan kebohongan-kebohongan. Imajinasi adalah kebohongan untuk diri sendiri, katanya, mengucapkan makna yang tak kumengerti. Begitu imajinasi dituturkan ataupun dituliskan dan didengar atau dibaca orang lain, kita telah menciptakan kebohongan-kebohongan kepada orang lain. Cerita pendek, novel, puisi, dan karangan fiksi lainnya adalah kebohongan. Kebohongan yang nikmat. Tetapi mereka tidak mau akui kebohongan mereka dan dengan cerdiknya mereka berlindung di balik kata imajinasi. Padahal sesungguhnya tidak ada Sukri membawa pisau belati. Tidak ada wanita muda yang menanggalkan satu per satu pakaiannya dan berkata, maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibimu? Bohong semua itu.”

“I envisioned a world, and I aspired to be a part of that world. I existed in that world like, My every particular visualization is the reality. I conceived of the world on the paradigm of Simulation. Then, the next step was straightforward for me, and I wrote down the world that I imagined, Simulated, and visualized under the formation of The Prime Thinker.”