Quote image editor
“Putriku, bagaimana kau tahan sedemikian banyak penderitaan dan kepedihan? Bagaimana aku menahannya bersamamu dulu? Selalu kurasa, putriku, bahwa engkau mampu melakukan apa saja, memindahkan gunung atau menghancurkan batu-batu karang, walaupun tubuhmu kecil dan lemah seperti juga diriku. Namun ketika kaki-kakimu yang kecil mungil menendang-nendang dinding lambungku, aku berkata kepada diriku: Tuhan, kekuatan yang apa ada dalam tubuhku ini? Gerakanmu kuat ketika kau masih sebuah janin dan mengguncangku dari dalam, sebagaimana gunung berapi yang mengguncang bumi. Namun kutahu bahwa engkau sekecil diriku, tulang-tulangmu kecil seperti tulang-tulang ayahmu, setinggi dan serampingnenekmu, sedangkan kedua kakimu sebesar kaki para nabi. Ketika kau lahir, nenekmu mengatupkan bibirnya dalam kesedihan dan berkata: Ah, seorang anak perempuan dan jelek lagi! Bencana ganda! Kutegangkan otot-otot lambungku untuk menahan rasa sakit di rahimku dan menghentikan darah dan sambil bernafas dengan sulit karena kelahiranmu sukar dan aku menderita seakan-akan kulahirkan sebuah gunung, kukatakan kepada nenekmu: Bagiku ia lebih berharga daripada seisi dunia ini! Kudekap engkau ke dadaku dan aku pun tertidur nyenyak. Dapatkah aku, Putriku, kembali menikmati saat tidur nyenyak ketika engkau berada di dalam diriku atau setidak-tidaknya dekat denganku sehingga dapat kuulurkan tanganku untuk menyentuhmu? Atau ketika engkau berada di kamarmu di sebelah kamarku sehingga aku dapat berjingkat untuk menjengukmu waktu kau tidur?” — Nawal El Saadawi