Quotessence
Home / Quotes / Quote by Titon Rahmawan

Quote by Titon Rahmawan

“Variasi Suluk: Suara yang Tersesat dalam Tubuh Ada suara lama yang memanggilmu. Bukan tembang, bukan kidung, melainkan gema yang kehilangan asal-usulnya, mengambang di udara seperti serpihan mimpi yang tak pernah selesai ditidurkan. Kau mencoba menjadikannya doa. Tapi setiap doa adalah luka yang belum sembuh; ia menetes di antara sela-sela tulang, merembes perlahan ke sumur gelap yang kau gali selama bertahun-tahun. Tubuhmu, yang dulu kau banggakan sebagai altar, kini tinggal reruntuhan yang memantulkan kembali semua hasrat yang kau kira telah kau jinakkan. Ia berdengung pelan, seperti mesin tua yang dipaksa hidup di tengah badai yang tak memilih korban. Kau menyebutnya laku. Padahal lebih tepat disebut pelarian. Segala mantra yang kau pacu ke langit jatuh kembali ke wajahmu, meninggalkan jelaga tipis yang tak pernah sempat kau bersihkan. Ada malam-malam ketika engkau merasa disentuh sesuatu yang lebih tua dari dirimu sendiri. Bukan dewa, bukan malaikat, hanya bayang yang ingin menumpang tidur di tubuh yang kau biarkan terbuka. Setiap keinginan meninggalkan lubang baru. Setiap lubang menuntut satu lagi bagian dari dirimu. Begitu seterusnya, hingga kau tak tahu lagi mana yang lebih dalam: hasratmu, atau kehampaan yang memanggilmu pulang. Ada denting jauh— suara yang mengingatkanmu betapa kecilnya engkau di hadapan gelap yang terus tumbuh. Gelap itu tidak mengancam. Ia hanya menunggu. Seperti seseorang yang tahu bahwa semua jalan, pada akhirnya, akan kembali kepadanya. Kau pernah mengejar ekstase seperti mengejar cahaya yang jatuh dari langit. Kini engkau tahu: setiap cahaya menyisakan abu, dan abunya menempel di napasmu sepanjang malam. Ritual gagal. Bukan karena kurangnya mantra, melainkan karena tubuh tak lagi percaya pada apa pun selain retakan. Engkau mencoba melupakan, tapi bahkan lupa pun memiliki caranya sendiri untuk mengingat. Ia mengintai dari balik kelopak mata, menunggu kau lengah agar bisa merayap masuk dan menduduki detak jantungmu. Pada akhirnya, semua suara yang kau puja kembali padamu— bukan sebagai wahyu, melainkan sebagai sunyi yang tak bisa kaubunuh. Sunyi itu berdiri di ambang pintu, mengangkat wajahnya perlahan, dan kau melihat dirimu sendiri di dalam retakannya. Tidak ada ekstase. Tidak ada penebusan. Hanya tubuh yang menua di hadapan gelap. Dan gelap yang sabar menunggu kau berhenti melawan. Desember 2025.”

Quote by Titon Rahmawan

Author

Titon Rahmawan

Browse famous quotes and profile details for Titon Rahmawan. more

You May Also Like

“Variasi Suluk Tembang Raras – Genealogi Saras Dialogis Saras berdiri di ambang pintu yang bahkan tidak ia kenali. Di belakangnya masa lalu menetes seperti air yang sulit ia tampung; di depannya masa kini bergetar, kabur, seolah baru saja dicetak dari bayangan yang salah mengingat dirinya. Ia tidak tahu pintu mana yang benar. Ia hanya tahu retakan yang makin melebar itu menggigil, memanggil sesuatu yang lebih tua dari bahasa, lebih tajam dari ketakutan. Maka muncullah suara pertama—dingin, berdebu, seperti batu yang lama disembunyikan malam. SUWUNG: "Kau mencari jawaban, anak waktu. Namun dirimu sendiri masih bayang di balik kaca. Mana yang kau pilih: jejak yang tak dapat kembali, atau dunia yang selalu mengkhianatimu dengan wujud baru?" Saras menunduk. Ia tidak paham apakah ia sedang ditanya, atau sedang dihakimi. Lalu suara kedua muncul—lebih hangat, lebih manusiawi, tapi tetap menyimpan sesuatu yang liar. AMONGRAGA: "Jangan kau kira masa kini lebih benar dari mimpimu. Tubuhmu menyimpan ingatan yang lebih jujur dari akalmu. Mengapa kau biarkan logika dan nafsu bertengkar di ruang sempit dadamu?" Saras menggigit bibirnya. Ia tahu suara itu berbicara tentang kegelisahan yang ia simpan seperti batu panas di bawah lidah: keinginan untuk melompat ke gelap, tapi juga ketakutan akan cahaya yang telanjang. SARAS (berbisik): "Aku tidak tahu mana aku yang sebenarnya. Yang di masa lalu terasa asing, yang di masa kini kabur, yang di masa depan meragukan. Semua pintu bagiku seperti ilusi." Suara Suwung dan Amongraga saling bersilangan, seperti dua arus sungai yang menolak bercampur. SUWUNG: "Itu karena kau terlalu percaya pada batas. Hitam–putih hanyalah cara dunia memudahkan dirinya sendiri. Kesadaranmu bukan padat, ia kabut; biarkan ia bentuk dirinya." AMONGRAGA: "Namun jangan abaikan tubuhmu. Tubuh tahu duluan apa yang rohmu sembunyikan. Tidak semua ilusi adalah kebohongan; kadang ia hanya anak bungsu dari kenyataan." Saras terdiam. Ia tidak ingin menjadi perantara dua dunia; Ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri. Namun setiap kali ia mencari dirinya, yang ia temukan adalah paradoks baru. Suara Suwung merayap lembut: SUWUNG: "Ambang adalah rumahmu. Kau bukan dicipta untuk memilih, tetapi untuk mengungkap apa yang membuat pilihan itu mungkin." Suara Amongraga menambahkan: AMONGRAGA: "Dan jangan takut pada keinginanmu sendiri. Kadang nafsu lebih jujur daripada pikiran yang pura-pura bijak." Saras mengangkat wajahnya. Untuk pertama kali, ia melihat bahwa retakan itu bukan ancaman—melainkan peta. Ia tidak perlu memilih pintu. Ia adalah pintu itu sendiri. Dan ketika ia menyadari itu, suara Suwung dan Amongraga tidak hilang atau pergi— mereka kembali diam di tempat mereka lahir: kedalaman dirinya sendiri. Desember 2025”

“Suluk Suwung: Percakapan yang Tak Pernah Selesai Antara Suwung dan Amongraga 1. AMONGRAGA: Aku mendengarmu dari jauh— gema yang berjalan tanpa tubuh, seperti bayang yang lupa asalnya. Apa yang kau cari di celah-celah gelap ini? SUWUNG: Aku tidak mencari. Aku hanya diam. Diam yang terlalu lama, hingga berubah menjadi bentuk yang tak punya nama. 2. AMONGRAGA: Diam juga bagian dari suluk. Ia jembatan menuju terang. Mengapa kau menjadikannya liang? SUWUNG: Karena terangmu terlalu ribut. Dan setiap mantra yang kau sebut meninggalkan debu di nafas manusia. 3. AMONGRAGA: Aku berjalan dari kidung ke kidung, dari tubuh ke tubuh, hingga segala kenikmatan mengungkit pintu-pintu wahyu. SUWUNG: Aku tahu. Itulah jejak yang kau tinggalkan di dada sejarah. Tapi apa yang kau temukan? Selain tubuh yang terus meminta tanpa pernah selesai? 4. AMONGRAGA: Aku mencari puncak. Puncak yang melampaui dunia. Di sanalah aku menanggalkan daging seperti menanggalkan bayang-bayangku. SUWUNG: Dan aku mencari dasar. Dasar yang menelan dunia. Dasar tempat segala suara berhenti dan hanya retakan yang berbicara. 5. AMONGRAGA: Retakan juga bisa menjadi jendela. Mengapa kau memilih menjadikannya rumah? SUWUNG: Karena rumah yang kau buat ditopang oleh api. Aku lelah menjadi tubuh yang terus kau bakar demi sebuah cahaya yang tak pernah sampai. 6. AMONGRAGA: Lalu mengapa kau datang padaku? Mengapa engkau memanggil namaku dari jauh— seperti anak yang kehilangan jalan pulang? SUWUNG: Aku ingin tahu apakah seseorang sepertimu pernah merasa kosong. Atau kau memang menutupinya dengan nyala yang memabukkan. 7. AMONGRAGA: Aku tak pernah kosong. Aku penuh. Penuh dengan bunyi, dengan tubuh-tubuh, dengan api yang naik turun seperti nafas yang tak mau padam. SUWUNG: Maka di sanalah perbedaan kita. Engkau penuh. Dan aku kosong. Tapi keduanya sama-sama tak menjawab apa-apa. 8. AMONGRAGA: Apa itu yang kau sebut suwung? Hening yang menolak segala bentuk? SUWUNG: Suwung adalah tempat di mana setiap jawaban mati sebelum sempat disebutkan. Sebuah ruang yang tidak ingin menang. Tidak ingin selamat. Tidak ingin terlahir kembali. 9. AMONGRAGA: Jika begitu, apa yang kau inginkan dariku? SUWUNG: Aku ingin melihat apa yang tetap berada pada dirimu ketika seluruh kidungmu aku bungkam. Ketika seluruh tubuhmu aku lepaskan. Ketika seluruh cahaya aku padamkan. 10. AMONGRAGA: Dan apa yang kau lihat? SUWUNG: Hanya satu hal: bahwa bahkan engkau pun, pada akhirnya, adalah pintu yang tidak menuju siapa-siapa. 11. AMONGRAGA: Jika aku pintu, maka mengapa engkau tidak masuk? SUWUNG: Karena tidak ada apa pun di dalam. Dan tidak ada apa pun di luar. Yang ada hanyalah aku. Dan bahkan aku tidak sedang mencari diriku sendiri. 12. AMONGRAGA: Kalau begitu, mengapa engkau tetap berdiri di ambangku? SUWUNG: Karena di antara terangmu yang berisik dan gelapku yang sunyi, ambang adalah satu-satunya tempat yang tidak memaksaku memilih. 13. AMONGRAGA: Engkau suluk yang patah. Suluk yang menolak puncak. SUWUNG: Dan engkau adalah doa yang terlalu keras hingga lupa bagaimana cara menjadi sunyi. Desember 2025”

“Sesungguhnya golongan salaf ridhwanullahi alaihim itu sendiri tidak pernah menjadikan pengertian dari perkataan ini sebagai gambaran bagi suatu keperibadian istimewa yang tertentu. Atau pun mereka menjadikannya sebagai suatu logo yang melambangkan kewujudan pemikiran atau perkumpulan khusus yang membezakan mereka dari orang-orang Islam lain. Mereka juga tidak meletakkan keyakinan akidah atau kebaikan perbuatan mereka sebagai model dalam suatu jemaah Islam yang mempunyai falsafah, keperibadian dan pemikiran yang tersendiri. Bahkan mereka dan umat Islam hari ini yang kita panggil sebagai khalaf ada suatu ikatan persefahaman dari segi penghasilan dan pencapaian dalam satu method sahaja demi mengurai rangkaian masalah-masalah tertentu dalam agama.”

“Some people look like they sound better than they actually sound, because they look confident and have good posture," once musician, a veteran of many auditions, says. "Other people look awful when they play but sound great. Other people have that belabored look when they play, but you can't hear it in the sound. There is always this dissonance between what you see and hear" (p.251).”

“At the most basic level, scientists are discovering that nearly all of the chronic diseases that cause so much suffering and are steadily driving up the cost of health care all share mitochondrial dysfunction, excessive inflammation, high cortisol levels, and other markers of broken biochemistry. In a very real sense, we all have the same disease because all diseases begin with broken, incorrect biochemistry and disordered communication within and between our cells. For health to return, the chemistry must revert to normal, and communication within and between our cells must be restored. This is true for every disease.”

“The Internet . . . it can take you from mild stomachache to believing you might have cancer in two clicks. You can convince yourself that just about anything is wrong with you...when, in reality, a symptom is just your body’s way of communicating the need for balance.”