Quotessence
Home / Quotes / Quote by Titon Rahmawan

Quote by Titon Rahmawan

“Suluk Suwung: Percakapan yang Tak Pernah Selesai Antara Suwung dan Amongraga 1. AMONGRAGA: Aku mendengarmu dari jauh— gema yang berjalan tanpa tubuh, seperti bayang yang lupa asalnya. Apa yang kau cari di celah-celah gelap ini? SUWUNG: Aku tidak mencari. Aku hanya diam. Diam yang terlalu lama, hingga berubah menjadi bentuk yang tak punya nama. 2. AMONGRAGA: Diam juga bagian dari suluk. Ia jembatan menuju terang. Mengapa kau menjadikannya liang? SUWUNG: Karena terangmu terlalu ribut. Dan setiap mantra yang kau sebut meninggalkan debu di nafas manusia. 3. AMONGRAGA: Aku berjalan dari kidung ke kidung, dari tubuh ke tubuh, hingga segala kenikmatan mengungkit pintu-pintu wahyu. SUWUNG: Aku tahu. Itulah jejak yang kau tinggalkan di dada sejarah. Tapi apa yang kau temukan? Selain tubuh yang terus meminta tanpa pernah selesai? 4. AMONGRAGA: Aku mencari puncak. Puncak yang melampaui dunia. Di sanalah aku menanggalkan daging seperti menanggalkan bayang-bayangku. SUWUNG: Dan aku mencari dasar. Dasar yang menelan dunia. Dasar tempat segala suara berhenti dan hanya retakan yang berbicara. 5. AMONGRAGA: Retakan juga bisa menjadi jendela. Mengapa kau memilih menjadikannya rumah? SUWUNG: Karena rumah yang kau buat ditopang oleh api. Aku lelah menjadi tubuh yang terus kau bakar demi sebuah cahaya yang tak pernah sampai. 6. AMONGRAGA: Lalu mengapa kau datang padaku? Mengapa engkau memanggil namaku dari jauh— seperti anak yang kehilangan jalan pulang? SUWUNG: Aku ingin tahu apakah seseorang sepertimu pernah merasa kosong. Atau kau memang menutupinya dengan nyala yang memabukkan. 7. AMONGRAGA: Aku tak pernah kosong. Aku penuh. Penuh dengan bunyi, dengan tubuh-tubuh, dengan api yang naik turun seperti nafas yang tak mau padam. SUWUNG: Maka di sanalah perbedaan kita. Engkau penuh. Dan aku kosong. Tapi keduanya sama-sama tak menjawab apa-apa. 8. AMONGRAGA: Apa itu yang kau sebut suwung? Hening yang menolak segala bentuk? SUWUNG: Suwung adalah tempat di mana setiap jawaban mati sebelum sempat disebutkan. Sebuah ruang yang tidak ingin menang. Tidak ingin selamat. Tidak ingin terlahir kembali. 9. AMONGRAGA: Jika begitu, apa yang kau inginkan dariku? SUWUNG: Aku ingin melihat apa yang tetap berada pada dirimu ketika seluruh kidungmu aku bungkam. Ketika seluruh tubuhmu aku lepaskan. Ketika seluruh cahaya aku padamkan. 10. AMONGRAGA: Dan apa yang kau lihat? SUWUNG: Hanya satu hal: bahwa bahkan engkau pun, pada akhirnya, adalah pintu yang tidak menuju siapa-siapa. 11. AMONGRAGA: Jika aku pintu, maka mengapa engkau tidak masuk? SUWUNG: Karena tidak ada apa pun di dalam. Dan tidak ada apa pun di luar. Yang ada hanyalah aku. Dan bahkan aku tidak sedang mencari diriku sendiri. 12. AMONGRAGA: Kalau begitu, mengapa engkau tetap berdiri di ambangku? SUWUNG: Karena di antara terangmu yang berisik dan gelapku yang sunyi, ambang adalah satu-satunya tempat yang tidak memaksaku memilih. 13. AMONGRAGA: Engkau suluk yang patah. Suluk yang menolak puncak. SUWUNG: Dan engkau adalah doa yang terlalu keras hingga lupa bagaimana cara menjadi sunyi. Desember 2025”

Quote by Titon Rahmawan

Author

Titon Rahmawan

Browse famous quotes and profile details for Titon Rahmawan. more

You May Also Like

“Sesungguhnya golongan salaf ridhwanullahi alaihim itu sendiri tidak pernah menjadikan pengertian dari perkataan ini sebagai gambaran bagi suatu keperibadian istimewa yang tertentu. Atau pun mereka menjadikannya sebagai suatu logo yang melambangkan kewujudan pemikiran atau perkumpulan khusus yang membezakan mereka dari orang-orang Islam lain. Mereka juga tidak meletakkan keyakinan akidah atau kebaikan perbuatan mereka sebagai model dalam suatu jemaah Islam yang mempunyai falsafah, keperibadian dan pemikiran yang tersendiri. Bahkan mereka dan umat Islam hari ini yang kita panggil sebagai khalaf ada suatu ikatan persefahaman dari segi penghasilan dan pencapaian dalam satu method sahaja demi mengurai rangkaian masalah-masalah tertentu dalam agama.”

“Some people look like they sound better than they actually sound, because they look confident and have good posture," once musician, a veteran of many auditions, says. "Other people look awful when they play but sound great. Other people have that belabored look when they play, but you can't hear it in the sound. There is always this dissonance between what you see and hear" (p.251).”

“At the most basic level, scientists are discovering that nearly all of the chronic diseases that cause so much suffering and are steadily driving up the cost of health care all share mitochondrial dysfunction, excessive inflammation, high cortisol levels, and other markers of broken biochemistry. In a very real sense, we all have the same disease because all diseases begin with broken, incorrect biochemistry and disordered communication within and between our cells. For health to return, the chemistry must revert to normal, and communication within and between our cells must be restored. This is true for every disease.”

“The Internet . . . it can take you from mild stomachache to believing you might have cancer in two clicks. You can convince yourself that just about anything is wrong with you...when, in reality, a symptom is just your body’s way of communicating the need for balance.”