Quotessence
Home / Quotes / Quote by Yusri Abdul Ghani Abdullah

Quote by Yusri Abdul Ghani Abdullah

“(Arnold) Toynbee bertanya-tanya: di mana peran dan kontribusi Inggris dalam sejarah manusia? Peran Inggris tidak lebih dari 250 tahun dan itu pun penuh dengan berbagai kesalahan. Kemudian sejak Perang Dunia II, Inggris mulai meredup dan surut dari percaturan sejarah dunia. Demikian halnya dengan Prancis, Jerman, Rusia, dan Amerika Serikat.”

Quote by Yusri Abdul Ghani Abdullah

Work

Historiografi Islam: Dari Klasik Hingga Modern

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Yusri Abdul Ghani Abdullah

Browse famous quotes and profile details for Yusri Abdul Ghani Abdullah. more

You May Also Like

“Mesir telah menjadi poros sejarah dunia dan peradaban manusia ribuan tahun lamanya semenjak era Firaun, Yunani, Romawi, Qibti dan Byzantium. Mesir telah memberikan pemikiran yang cemerlang kepada dunia dan juga menjadi pusat dunia Islam serta pelopor bangsa Arab. Sekiranya tidak ada kontribusi Mesir maka dunia dan peradaban Islam telah lama lenyap. Mesirlah yang berhasil mengalahkan bangsa Tartar di Ain Jalut dan menyelamatkan kebudayaan Islam dari kehancuran total. Mesir pula yang menyelamatkan dunia Islam dalam Perang Salib di Hittin dan wilayah-wilayah lainnya. Eksistensi al-Azhar as-Syarif telah menyelamatkan identitas kebudayaan Arab dari proses ‘Turkinisasi’ yang dilancarkan oleh Dinasti Uthmaniyah. Jadi, dalam keadaan apa pun Mesir akan tetap menjadi jantung dunia Arab.”

“Dia tahu, bahawa sultan dan pembesar negeri Melaka itu sudah maklum sejak tahun 1448, pasti Portugis akan datang kembali menyerang! Tetapi kenapa Melaka hanya sibuk menyediakan damak untuk racun pada anak panahnya, tetapi tidak menyediakan timah, untuk 38 pucuk meriam besarnya yang dibeli dari Turki? Kenapa Melaka mampu berbelanja untuk dayang-dayang istana, sultan dan pembesar negeri berlebihan waktu dan tenaga untuk menggiliri selir, tetapi tidak berbelanja membina armada? Kenapa Melaka begitu mudah beri gelar laksamana kepada pendekar silat, tetapi tidak membina kekuatan daya tempur angkatan laut?”

“Walaupun kini, sudah berlaku 438 tahun, bahawa jeda antara satu gelombang serangan Portugis itu dengan gelombang serangan berikutnya, ada 25 hari. Oleh sebab itu, sambil membubuh umpan baru, Nakhoda Supuk bertanya dalam hati, empat peringkat soalan: ‘Kenapa Melaka, dalam masa 25 hari itu, tidak melakukan strategi baru, antaranya, daripada taktik bertahan, kepada taktik menyerang senyap-senyap. Melaka boleh gunakan tenaga dan kemahiran Orang Laut, pergi menebuk lambung atas lunas semua galleon dalam armada Portugis itu. ‘Kenapa Melaka tidak kawal pantai, untuk mencegah penduduk Melaka terutama dalam kalangan orang asing, berleluasa berulang-alik dari darat ke semua galleon Portugis itu pergi membekalkan air tawar, kayu api, bekalan makanan, dan timah untuk dituang jadi peluru? ‘Kenapa armada Laksamana Yusof, Pengeran Lor, dari Demak itu, yang sudah mengepung seluruh armada Portugis di Selat Melaka, tetapi sebaliknya, armada Pangeran Lor itu dibakar orang dari daratan Melaka? ‘Kenapa, armada Aceh yang sudah berulang kali menyerang Portugis di Melaka dan mengepung Selat Melaka, tidak pernah sekali pun diberi kerjasama orang di Melaka, untuk menghancurkan Portugis itu?”

“Secara tidak langsung, kisah-kisah dalam buku ini bukan hanya menjelaskan kepada kita tentang motif, tujuan serta latar belakang kegiatan intelligent, tapi juga mengingatkan kita kepada fakta bahwa sejarah yang kita kenal sekarang penuh dengan intrik dan skandal. Maka tepat sekali apa yang dikatakan Napoleon Bonaparte, History is a set of lies agreed upon.”

“Dengan terdirinya kesultanan Melayu, diperkasai dengan agama Islam yang baru dianuti dan sumber perdagangan dan ekonomi, maka peradaban Melayu melalui proses pemantapan institusi politik dengan ideologi pemerintahan yang mengental, selain berkembangnya institusi budaya dan kemasyarakatan, di mana terjadi stratifikasi sosial yang lebih kompleks.”

“Walaupun mereka telah mencapai pelbagai kemajuan, dan hidup aman damai dalam masyarakat Islam yang stabil, namun kerajaan mereka selalunya tidak begitu: perubahan rejim biasanya berlaku secara ganas dan menimbulkan keadaan huru-hara. Dari segi politik, orang Islam menjadi semakin lemah dan berpecah-belah.”