“Boston lay in shambles. During the winter months, shivering redcoats had chopped down trees in the Common and ripped apart old buildings for firewood. The Flucker mansion had been looted. Other homes and shops were abandoned, crumbling, ruinous reminders of Boston's pre-Revolutionary splendor.”
Source: Defiant Brides: The Untold Story of Two Revolutionary-Era Women and the Radical Men They Married
“Kalau aku memarahimu, itu berarti aku mencintaimu. Aku melampiaskan marahku kepada orang-orang terdekat dan paling kusayangi. Ibaratnya merekalah papan peredam suaraku.”
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Dalam jangka waktu lama, Indonesia hidup dalam bayangan feodalisme. Tetap neofeodalisme Soekarno lebih jahat dan lebih ganas.”
“Sebuah otobiografi tak berbeda dengan pembedahan mental. Sangat sakit. Melepas plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuka luka-luka itu, banyak diantaranya yang mulai sembuh terasa perih.”
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Jangan bikin kepalamu menjadi perpustakaan. Pergunakan pengetahuanmu untuk diamalkan - Swarni Vivekananda”
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Bukankah hubungan internasional itu adalah hubungan antar manusia dalam skala yang lebih besar?”
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Sering kali aku duduk di beranda Istana Merdeka, seorang diri. Beranda itu tidak begitu bagus. Separuh tertutup awning untuk mengurangi panas dan sinar matahari, satu-satunya perabotannya adalah kursi rotan tanpa kain pelapis yang tidak dicat dan meja bertaplak kain batik bikinan negeriku. Satu-satunya hak khusus yang diberikan padaku karena jabatanku yang tinggi adalah sebuah kursi dengan bantal di atasnya. Itulah yang disebut dengan "Kursi Presiden". Dan aku duduk di sana. Dan menatap. Dan memandang keluar ke taman indah dan menyegarkan, yang tanamannya kuatur dengan tanganku sendiri. Dan aku merasa sangat kesepian.
Aku ingin berbaur dengan rakyat. Itulah yanh menjadi sifatku. Tetapi sekarang aku tidak dapat lagi berbuat demikian. Sering aku merasa tercekik, napasku mau berhenti, apabila aku tidak bisa pergi keluar dan bersatu dengan rakyat jelata yang melahirkanku.”
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Bagaimana aku bisa mengetahui apa yang akan terjadi terhadap diriku? Siapa yang dapat menceritakan bagaimana kehidupanku di masa depan? Itulah sebabnya aku selalu menolak hal ini, karena aku yakin bahwa buruk-baiknya kehidupan seseorang hanya dapat dinilai setelah dia mati.”
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Anda tidak bisa menemui semua orang di seluruh dunia secara pribadi, tetapi Anda bisa menemui mereka lewat halaman-halaman buku. Anda adalah ahli pidato terbesar setelah William Jennings Bryan. Anda menawan hati jutaan pendengar di lapangan terbuka. Mengapa tidak berusaha mencapai jumlah pendengar yang lebih besar lagi?”
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Now that our love is over, I see life from a new perspective. For 20 years, it was all about you. Now, it’s about me. I’m creating more beautiful love songs, loving the journey, and finally letting go of you.”
— Sami Abouzid”