“Sering kali aku duduk di beranda Istana Merdeka, seorang diri. Beranda itu tidak begitu bagus. Separuh tertutup awning untuk mengurangi panas dan sinar matahari, satu-satunya perabotannya adalah kursi rotan tanpa kain pelapis yang tidak dicat dan meja bertaplak kain batik bikinan negeriku. Satu-satunya hak khusus yang diberikan padaku karena jabatanku yang tinggi adalah sebuah kursi dengan bantal di atasnya. Itulah yang disebut dengan "Kursi Presiden". Dan aku duduk di sana. Dan menatap. Dan memandang keluar ke taman indah dan menyegarkan, yang tanamannya kuatur dengan tanganku sendiri. Dan aku merasa sangat kesepian. Aku ingin berbaur dengan rakyat. Itulah yanh menjadi sifatku. Tetapi sekarang aku tidak dapat lagi berbuat demikian. Sering aku merasa tercekik, napasku mau berhenti, apabila aku tidak bisa pergi keluar dan bersatu dengan rakyat jelata yang melahirkanku.”
Quote by Cindy Adams
Work
Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Browse quotes and source details for this work. more
Author
You May Also Like
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Rakyat kecil.”
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Aku boleh saja dianggap tukang bercinta, tetapi aku bukanlah pembunuh seorang gadis remaja.”
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Lebih oenting dari bahasa kata-kata yang tertulis adalah bahasa yang keluar dari lubuk hati.”
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Source: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
