Quotessence
Home / Quotes / Quote by Mehmet Murat Ildan

Quote by Mehmet Murat Ildan

Author

Mehmet Murat Ildan
Mehmet Murat Ildan

Mehmet Murat Ildan is a renowned Turkish writer born on May 16, 1965. His works span various literary forms including novels, essays, and poetry, and have gained widespread popularity among readers. more

You May Also Like

“Khajuraho I Madu, di pelataran kuil ini aku ingin melukis dirimu sekali lagi. Saat lesap senja menjemput senyap di puncak candi dan kelam hasratku menudungi samar-samar wajahmu dengan tirai kabut misteri. Tidakkah engkau dengar bulan berbisik: Madu tidurlah. Tidurlah Madu, tidurlah. Tapi jangan kaukunci pintu hatimu supaya aku bisa merasuk ke dalam mimpimu. Ijinkan aku mengirai sepasang sayapku dalam surgamu yang rumit namun sekaligus juga sederhana. Lelap, lelaplah engkau dalam pelukanku atau lenalah di atas pangkuanku. Duh Madu, Maduku. Lelaplah, lenalah engkau dalam langut tembang sirep yang aku lantunkan, supaya dalam gulita sanggar pamujan keramat ini aku dapat menangkap samar auramu yang suci. Kau tak perlu malu sebab hujan akan turun malam ini, dan tubuhmu molek belaka. Semolek cendayan tubuhmu masih serupa dulu ketika aku sering membayangkan dirimu dari balik gerbang malam yang tertutup ini. Dengan coreng-moreng kembang boreh pada wajahmu yang putih jenaka. Dengan segulung setagen hitam yang longgar menggoda. Dengan kemben tanpa bunga dan jarit lusuh yang itu-itu juga. Itulah tatahan yang telanjur sempurna dan tersimpan rapi dalam ingatan. Gambaran yang tak akan pernah tergantikan oleh apa pun. Seperti sunggingan abadi jari-jemari seorang empu, dalam lingkung taman kecil tapi menyenangkan ini: semesta tumpukan batu-batu yang tak kunjung usai engkau tata dan pahatan asmaragama yang betapa gelora kehangatannya seperti wangi setanggi yang tak mau pergi. Serta tentu saja, cermin bersurat yang tersemat di setiap pintu menuju relung hatimu, yang dengan licin memantulkan wajah seorang jejaka kolokan tertawan cinta yang berusaha menyapa dirimu dengan bibir mesumnya dan juga tatap mata masa lalunya yang selalu sedih. Sesedih masa lalu yang menatap dirimu dari balik kesedihan daun-daun palma masa lalunya sendiri. Sudah begitu lama wajah kasmaran itu menghuni pikiranku, seperti tak ingin berpaling dari ingatan sempurna jelita ayu parasmu. Duh Madu. Maduku. Laksmi pelipur rinduku Kurma penawar dahagaku. Engkaulah itu Kharjuravāhaka mengalunlah suaramu dalam alir darahku. Biar bunyi desah nafasmu yang lembut membelai hijau rerumputan dan debar detak jantungmu seketika menyingkap rimbun dedaunan. Embun tajali yang tersembunyi di dalam reruntuhan dadaku yang paling pilu. Sayap-sayap Jatayu yang meneluh gemetar jejari waktu yang pelan-pelan berusaha menyibak rahasiamu, membongkar kesakralanmu dengan segala keisengan dan mungkin kenakalan seorang perjaka dibantun cinta. Duh Madu, betapa ingin aku menyentuh tubuhmu, membelai ujung gunung membusung yang menantang kelelakianku. Menelusuri ceruk-ceruk rahasiamu yang sarat hikmat purbawi. Elok prasasti yang terhampar permai di hadapanku. Dan lalu diam-diam kukecup padma di telapak Siwa yang tengah mekar di permukaan kolam hayatmu. Hanya untuk menguji betapa aku tidak sedang terbawa arus mimpi Sungai Godavari. Serupa kuda Uccaihsrawa yang lepas kendali sungguh tak hendak aku pungkiri, betapa keras hasratku untuk menundukkanmu membolak-balik semesta tubuhmu dan bila mungkin menelanjangimu. Supaya aku dapat menyelam jauh ke dalam lubuk pesonamu yang paling liar, melawan mantramu yang paling bangkar, hanya untuk mengungkap teka-teki chakra yantra dalam sunyi samadi. Menjinakkan detya, meremukkan asura dan lalu menyusun batu-batu parasmu sekali lagi. Akan tetapi, ketika kelelapanmu menyihir mata batinku, aura mistis yang meneluh panca inderawiku berasa seperti mencubit dan menyentil kesadaranku betapa sungguh dalam kepasrahanmu itu engkau tampak begitu indah. Secercah aruna namun jauh lebih indah dari sekadar basah hujan lukisan mimpi lepas dini hari. November 2015”