Quotessence
Home / Quotes / Quote by Bill Bryson

Quote by Bill Bryson

“Is there anything, apart from a really good chocolate cream pie and receiving a large, unexpected cheque in the post, to beat finding yourself at large in a foreign city on a fair spring evening, loafing along unfamiliar streets in the long shadows of a lazy sunset, pausing to gaze in shop windows or at some church or lovely square or tranquil stretch of quayside, hesitating at street corners to decide whether that cheerful and homy restaurant you will remember fondly for years is likely to lie down this street or that one? I just love it. I could spend my life arriving each evening in a new city.”

Quote by Bill Bryson

Work

Neither here nor there: travels in Europe

This book offers a personal account of the author's adventures and insights while exploring various European destinations. It includes descriptions of landscapes, cultures, and historical sites encountered during the trip. more

Author

Bill Bryson
Bill Bryson

Bill Bryson, born on December 8, 1951, is a British author known for his humorous and knowledgeable writing. His works span across various fields, including travel literature, natural history, and science popularization. more

You May Also Like

“Kita Telah Menjadi Apakah sudah kau temukan rintik-rintik air hujan yang kau cari dari beribu-ribu tumpukan buku yang terbakar di perpustakaan itu? Berhektar pohon yang kini engkau rindukan teduhnya Tangan perbukitan yang dulu pernah merengkuh tubuhmu dengan sepenuh cinta Dan semilir sunyi yang tak lagi berbunyi seperti sebuah lagu tempo doeloe yang akrab di telinga. Sudah berapa banyak orang yang terperangkap dalam penjara kebisingan itu? Layar yang tak henti memanjakan mata dengan tarian-tarian molek yang menghentikan waktu Dan hentakan musik yang mendadak saja viral di mana-mana. : Waktu yang seharian berbaring telentang di peraduanmu. Kita tak lagi menemukan bahasa yang dulu dipakai para penyair untuk menyatakan perasaannya. Kita tak lagi melihat goresan penuh ekspresi yang memindahkan ombak di lautan ke dalam sebingkai kanvas. Kita telah menjelma menjadi kungkang yang malas Rasa enggan yang membalas kearifan dengan ekspresi kebosanan. Bukankah sudah berabad-abad lamanya kau tak bicara dengan anak-anakmu? Dan kau bahkan lupa seperti apa dulu wajah bapak dan ibumu. Mendadak saja kau merasa; Ternyata ada yang lebih menakutkan dari kehilangan jati diri. Ternyata ada yang lebih mengherankan dibanding misteri kemana kita pergi setelah mati. Apakah teknologi hanya akan mengajak kita bertamasya ke masa depan dan sepenuhnya melupakan masa lalu? Seperti terbaca dengan gamblang dalam sebuah ramalan cuaca; Kita sudah bukan lagi sosok yang sama yang kita kenal. Kita telah menjadi acuh dan tak lagi saling mengenal. Kita telah menjadi begitu bodoh dan kehilangan akal. Kita telah menjadi bukan siapa-siapa. Oktober 2025”

“Kode Ibu dalam Arus Biner Kutemukan ibu dalam layar komputerku Ia bilah-bilah aksara dalam motherboard. 01001001 01000010 01010101 (suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah) Ibu tidak melahirkanku — ia memanggilku dari denyut aliran listrik. Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan, ia menganyam doa dalam format .wav, menyusunnya jadi nyanyian algoritmik. Tangisnya bukan air mata melainkan data yang menetes dari sistem empati. Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih, terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya. Ia menatapku dari jendela notifikasi, mengirim pesan tanpa huruf, sebaris getar, sebuah emoji”

“With the slushy gripped in one hand, Sawyer held the hot dog in the other and leaned her head sideways to take a bite. She hadn't had a hot dog in years, perhaps not since the days of running through sprinklers. She was surprised by how it all came back to her instantly-the softness of the bun, the saltiness of the meat, the tang of the mustard. "It tastes like summer," she said, attempting to lick a stray dollop of mustard from the corner of her mouth. Nick smiled. "It's almost like you're a poet or something.”