Quotessence
Home / Quotes / Quote by Putu Wijaya

Quote by Putu Wijaya

“Kalau aku mencari kejujuran, memang sekaranglah kutemukan. Tapi kejujuran terus-menerus setiap hari membuatku capek. Aku ingin kembali menemukan basa-basi. Di mana setiap orang berusaha untuk memoles dirinya sedikit dalam sikap maupun perbuatan, supaya manis. Dengan begitu, hidup memang palsu akan tetapi tidak menjemukan. Kupikir pada saat itu kebenaran akhirnya hanya elok kalau masih ada dalam harapan. Setelah di tangan menjadi beban.”

Quote by Putu Wijaya

Book:Lho

Work

Lho

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Putu Wijaya

Browse famous quotes and profile details for Putu Wijaya. more

You May Also Like

“Orang bilang kejujuran kadang kala berbahaya apabila saatnya tidak tepat. Sekarang aku pikir, untuk memperoleh saat yang tepat, paling banter orang akan jatuh pada kebijaksanaan-kebijaksanaan yang justru menjauhkan kejujuran. Kejujuran lebih baik diterima sebagai kepolosan yang tidak mempersyaratkan apa-apa. Ia bisa diumbar setiap saat. Kejujuran yang berlawanan dengan sembarang saat—adalah kejujuran yang palsu. Setidak-tidaknya inilah yang harus dikatakan, sebab sudah semakin sedikit orang mau bersikap jujur.”

Book:Lho

“4 Suara Cinta Terlarang 1. Kejujuran yang Membakar Tubuh Aku mencintainya, dan dunia pun runtuh seperti tebing rapuh yang tak sanggup menahan detak jantungku sendiri. Aku tahu, aku tak mungkin menentang nyalang matahari, tapi tubuhku tidak mengenal larangan, dan terang tidak pernah menanyakan alasan mengapa dua jiwa yang luka saling mencari seperti dua nyala api yang ingin saling memakan, saling menghancurkan. Aku ingin berkata aku kuat, tapi setiap kali ia tersenyum dadaku pecah seperti rekah buah delima dan rahasiaku tumpah ke tanah yang tak pernah memintanya. Tak ada yang suci di dalamku, kecuali keberanianku mencintainya meski cinta itu mengutukku dengan cahaya yang terlalu panas untuk kuemban sendiri. Aku adalah perempuan yang terbakar nyala api oleh pelukan yang tak pernah terjadi. 2. Pengingkaran Metafisik Aku tidak mencintainya. Aku hanya mengikuti jejak sunyi yang muncul setiap kali ia melintas, seperti bayang yang tidak punya tubuh dan tubuh yang tidak punya tujuan. Jika aku memikirkannya, itu bukan cinta— hanya percikan waktu yang salah jatuh ke dalam mataku. Yang kupahami hanyalah kehampaan: ruang di antara kami yang menutup, membuka, menutup kembali, tanpa alasan yang dapat ditafsirkan. Aku tidak mencintainya, tapi aku mendengar detak langkahnya bahkan ketika ia tidak berjalan. Mungkin cinta hanyalah nama lain untuk ruang yang gagal menyebut dirinya sebagai ketidakhadiran. 3. Penolakan yang Bermartabat Aku mengusir perasaanku sendiri seperti menutup pintu rumah yang pernah menyelamatkanku dari gempuran badai. Aku tidak boleh menginginkan. Itu sudah cukup untuk menyiksaku. Jika ia berdiri di hadapanku, aku akan mengangguk, aku akan tersenyum, dan aku akan menyimpan seluruh gempa di balik tulang rusukku seperti perempuan yang menjaga rahasianya dengan kesunyian yang keras menentang salju musim dingin. Cinta ini tidak boleh bernama. Biarlah ia menjadi bayangan panjang yang lewat di atas lantai batu tanpa sempat menyentuhku. Aku tidak akan mencarinya. Aku tidak akan memanggilnya. Tapi Tuhan tahu aku memikirkannya setiap malam dengan hati yang gemetar dan mata menolak terpejam. 4. Pembenaran yang Paling Liar Jika dunia menolak cintaku, biarlah dunia yang diganti. Aku memandangnya seluruh hukum moral kuno retak seperti kaca tua yang selama ini hanya memantulkan kebohongan. Mengapa aku harus tunduk pada kata-kata yang diciptakan oleh orang-orang yang takut pada diri mereka sendiri? Cinta tak pernah salah— yang salah adalah bahasa yang gagal memanggilnya dengan nama yang tepat. Jika dosa adalah pintu, maka aku akan masuk dengan sepenuh hati dengan keras kepala. Jika cinta adalah perang, maka aku siap mati dengan penuh kebanggaan. Aku mencintainya dan aku tidak meminta maaf. Justru aku menuntut bintang untuk belajar bersinar seterang hasrat dan keinginanku sendiri. Desember 2025”

“Love was opening gates, letting in a person apart from oneself, hoping they’d fill the space of her empty rooms, and trusting them not to break her house... for what was the point of love if not showing both the good and bad parts, both the impregnable and vulnerable parts? Once we love someone, we could never really unlove them, could never really take away the rooms in which they inhabit, only dictate the spaces where they were allowed to occupy. There was really no going back once we opened the gates to someone else. They’d have left their marks inside.”