Quotessence
Home / Quotes / Quote by Philip Roth

Quote by Philip Roth

“Refusing! And she is after me with a broom, trying to sweep my rotten carcass into the open. Why, shades of Gregor Samsa! Hello Alex, goodbye Franz! "You better tell me you're sorry, you, or else! And I don't mean maybe either!" I am five, maybe six, and she is or-elsing me and not-meaning-maybe as though the firing squad is already outside, lining the street with newspaper preparatory to my execution.”

Quote by Philip Roth

Work

Portnoy’s Complaint

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Philip Roth
Philip Roth

Philip Roth (1933-2018) was one of America's most influential contemporary novelists, renowned for his profound explorations of Jewish-American identity, sexuality, politics, and the human condition. His breakthrough work, "Portnoy's Complaint" (1969), became a landmark in American literature. Roth received two National Book Awards and was a multiple-time Pulitzer Prize finalist. Over his six-decade career, he published more than 30 books that significantly shaped American fiction. He passed away in New York City on May 22, 2018, at age 85. more

You May Also Like

“Transmogrification—that’s the right word. It’s been on the tip of my tongue, but I couldn’t quite catch it. It’s a cumbersome word. It rolls through your mouth and then staccatos onto the floor in chunks of unnecessary syllables, like echoes of a thought already gone. It is a transformation, a metamorphosis that occurred not because I’d changed but because the rest of the world had.”

“Rekonstruksi Mengelupas Mimpi // Versi Posthuman-Liris Siapa yang berhak melarang kita mengelupas mimpi— membukanya seperti kapsul masa lalu yang telah lama berdebu dalam arsip cloud data? Setiap mimpi adalah buah sunyi dengan inti yang selalu berdetak. Ketika kita memecah kulitnya, kita tak hanya menemukan cahaya, melainkan seluruh kerumunan metadata yang mengawasi keberanian diri untuk menjadi siapa kita yang sesungguhnya. Dan mereka bertanya: Apakah engkau yang memprogram pohon itu tumbuh, atau pohon itu yang mengompilasi dirimu dari luka, dari ingatan, dari serpih-serpih kesunyian yang tak pernah sembuh? Sebab luka pun punya bahasa. Ia menulis dirinya di bawah kulit gemetar kita seperti skrip yang tak ingin dihapus meski berulang kali menekan tombol revisi. Narcissus— hari ini tak lagi menatap sungai, ia menatap pantulan dirinya di layar simulakra yang membeku: bahasa tubuhnya berubah menjadi kode kesepian yang hanya dimengerti oleh detak jantung manusia dan algoritma yang diam-diam mempelajarinya. Dan ketika sungai bertanya kepada laut, Siapa yang menciptakan siapa? Laut tak menjawab. Ia hanya membuka jutaan pintu air dan membiarkan semua pertanyaan mengalir ke ruang tak bernama— tempat segala sesuatu berasal dan kembali hening. Burung-burung di langit tak sekadar terbang; di bulu mereka tersimpan blueprint gerak yang diwariskan dari angin kepada anak angin. Mereka membawa pertanyaan tentang harapan yang tak pernah tuntas, tentang janji yang menunggu lunas di tengah turbulensi antara hidup, daya hidup dan kehancuran. Dan cinta— bukan lagi entitas milik kita, bukan lagi perasaan sederhana. Ia adalah protokol, frekuensi yang terus mencari penerima yang tepat. Melayang seperti sinyal radio mencari jiwa yang sanggup menampungnya. Pada akhirnya, segala yang kita cari akan menemukan kita kembali: di antara jeda, di antara napas, di antara batas tipis antara manusia dan yang bukan-manusia— cuma simbol dan tanda-tanda. Sebab mengelupas mimpi adalah cara raga mengingat bahwa ia selalu lebih dari apa yang tampak: organisme yang sedang belajar terbang, mesin yang sedang belajar merasa, jiwa yang ingin kembali ke tempat pertama kali ia dinamai. Dan di sanalah, kita bersiap tumbuh sekali lagi. Bukan sebagai mesin pencari bukan sebagai kecerdasan buatan melainkan diri yang terus mencari dan berharap menemukan kebenaran. November 2025”