“Rekonstruksi Mengelupas Mimpi // Versi Posthuman-Liris Siapa yang berhak melarang kita mengelupas mimpi— membukanya seperti kapsul masa lalu yang telah lama berdebu dalam arsip cloud data? Setiap mimpi adalah buah sunyi dengan inti yang selalu berdetak. Ketika kita memecah kulitnya, kita tak hanya menemukan cahaya, melainkan seluruh kerumunan metadata yang mengawasi keberanian diri untuk menjadi siapa kita yang sesungguhnya. Dan mereka bertanya: Apakah engkau yang memprogram pohon itu tumbuh, atau pohon itu yang mengompilasi dirimu dari luka, dari ingatan, dari serpih-serpih kesunyian yang tak pernah sembuh? Sebab luka pun punya bahasa. Ia menulis dirinya di bawah kulit gemetar kita seperti skrip yang tak ingin dihapus meski berulang kali menekan tombol revisi. Narcissus— hari ini tak lagi menatap sungai, ia menatap pantulan dirinya di layar simulakra yang membeku: bahasa tubuhnya berubah menjadi kode kesepian yang hanya dimengerti oleh detak jantung manusia dan algoritma yang diam-diam mempelajarinya. Dan ketika sungai bertanya kepada laut, Siapa yang menciptakan siapa? Laut tak menjawab. Ia hanya membuka jutaan pintu air dan membiarkan semua pertanyaan mengalir ke ruang tak bernama— tempat segala sesuatu berasal dan kembali hening. Burung-burung di langit tak sekadar terbang; di bulu mereka tersimpan blueprint gerak yang diwariskan dari angin kepada anak angin. Mereka membawa pertanyaan tentang harapan yang tak pernah tuntas, tentang janji yang menunggu lunas di tengah turbulensi antara hidup, daya hidup dan kehancuran. Dan cinta— bukan lagi entitas milik kita, bukan lagi perasaan sederhana. Ia adalah protokol, frekuensi yang terus mencari penerima yang tepat. Melayang seperti sinyal radio mencari jiwa yang sanggup menampungnya. Pada akhirnya, segala yang kita cari akan menemukan kita kembali: di antara jeda, di antara napas, di antara batas tipis antara manusia dan yang bukan-manusia— cuma simbol dan tanda-tanda. Sebab mengelupas mimpi adalah cara raga mengingat bahwa ia selalu lebih dari apa yang tampak: organisme yang sedang belajar terbang, mesin yang sedang belajar merasa, jiwa yang ingin kembali ke tempat pertama kali ia dinamai. Dan di sanalah, kita bersiap tumbuh sekali lagi. Bukan sebagai mesin pencari bukan sebagai kecerdasan buatan melainkan diri yang terus mencari dan berharap menemukan kebenaran. November 2025” PuisiIdentitasCerminPost HumanPenemuanAmbivalensiKesejatianPencarian Diri Author:Titon Rahmawan
“Begitu kelamnya wajah kejahatan ini, hingga ia bahkan tak mampu bercermin di atas permukaan danau tanpa membuat air danau itu berubah menjadi keruh. - Harsimran Tapasvi, Tawanan Kepedihan” WajahKejahatanCerminTawanan KepedihanDanau Author:Titon Rahmawan
“Banyak orang ingin mengubah hidupnya, tapi sedikit yang mau mengubah dirinya. Mereka lupa bahwa hidup hanyalah cermin, dan cermin tak pernah berdusta. Jika wajahmu tampak kusam di pantulan cermin, bukan kaca yang harus dibersihkan — melainkan wajahmu sendiri. Demikianlah pula kekayaan: ia bukan hadiah dari luar, melainkan refleksi dari dalam. Siapa yang menata batinnya dengan rapi, bersih, memberi kenyamanan akan melihat dunia tersenyum kembali padanya.” HidupUangKekayaanCerminKekuranganKesadaran KemanusiaanKelimpahan Author:Titon Rahmawan
“Jangan mencari cara menjadi kaya, temukanlah dulu kesadaran untuk melayakkan dirimu, bahwa kekayaan itu memang pantas untuk kamu miliki. Karena orang yang tidak siap, akan kehilangan bahkan setiap kali diberi. Karena dalam setiap anugerah Tuhan itu ada makna dan amanah yang Ia titipkan.” “Kesadaran, anakku, adalah pintu pertama menuju kelimpahan. Bukalah pintu itu, dan kau akan menemukan bahwa segala yang kau cari di luar sebenarnya telah lama menunggu di dalam dirimu sendiri.” HidupKekayaanCerminKekuranganKesadaran KemanusiaanKelimpahanPintu Author:Titon Rahmawan
“tiap kali melihat kamu,aku merasa melht diriku sendiri.bhkn sampai stlh belasan tahun tak bersama lagi” Cermin Book:Lelaki Pertama Source: Lelaki Pertama
“Cinta hanyalah sebuah cerita yang mencoba membahagiakan para tokoh tanpa tahu ending-nya bagaimana.” RomanceFictionCermin Book:Cermin Source: Cermin
“Gugur bukan berarti sedih. Bagi angsana, gugur adalah kebahagiaan. Bahagia guguran bunganya menjadi berarti. Setidaknya bagi angin yang menghirup harum bunganya. Menggugurkan sesuatu untuk orang lain adalah awal kebahagiaan jika didasari dengan ketulusan. Seperti pohon angsana yang tulus menggugurkan bunganya untuk dinikmati manusia. Bagi manusia, menikmati guguran bunga angsana merupakan kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, karena memang banyak hal di dunia ini yang tak dapat dijelaskan. Hanya bisa dirasakan.” RomanceFictionCermin Book:Cermin Source: Cermin