Quotessence
Home / Quotes / Quote by yora

Quote by yora

“Seseorang yang ada di depan matamu, adalah cerminanmu.”

Quote by yora

Author

yora

Browse famous quotes and profile details for yora. more

You May Also Like

“Gugur bukan berarti sedih. Bagi angsana, gugur adalah kebahagiaan. Bahagia guguran bunganya menjadi berarti. Setidaknya bagi angin yang menghirup harum bunganya. Menggugurkan sesuatu untuk orang lain adalah awal kebahagiaan jika didasari dengan ketulusan. Seperti pohon angsana yang tulus menggugurkan bunganya untuk dinikmati manusia. Bagi manusia, menikmati guguran bunga angsana merupakan kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, karena memang banyak hal di dunia ini yang tak dapat dijelaskan. Hanya bisa dirasakan.”

“sebab mencintai tanah air, nak, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat, dengan sesuatu yang disebut Indonesia, atau Jepang, atau Amerika. Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati..”

“Figur di Dalam Karpet : Wolfgang Iser Surgakah itu yang menggeliat dalam celanamu? Sekalipun engkau tahu aku tak sekadar mencomotnya dari sebuah buku yang kau temukan di pasar loak. Tapi rupa-rupanya di sanalah engkau selama ini Menyembunyikan rahasia dari segala asrar: Guru segala ilmu, juru segala kunci, empu segala seni, makam para wali, pohon segala hayat dan bahkan dewa yang serba tahu. Barangkali laparlah itu yang bersemayam di kelangkangmu. Bukan sekadar buah kelakar mimpi, tautan areola sunyi atau benih selingkar nutfah tersaput air ludah. Bukankah hujan yang telah menamatkan seluruh pencarianmu? Tapi mengapa muasal angin, muara samudra dan ihwal semesta masih saja engkau sembunyikan di balik daster warna-warni milik istrimu? Atau jangan-jangan, itu adalah materi leluconmu yang paling mutakhir dan yang bakal mengantarkan dirimu menembus waktu ke masa depan? Sedang warnamu telanjur mengorak sempurna di atas pelaminan, di dalam lipatan selimut, di gelegak darah atau di kandung mimpi. Tapi apakah itu noda yang menempel di janggutmu, benci atau rindu? Sedang apa yang sengaja kau tutupi di balik piama sutra atau yang kau sembunyikan di dalam saku celana adalah dirimu yang sesungguhnya? Bukankah itu mawar hitam sebalik topeng, atau duri ceronggah sebalik wajah? Sedang jantungmu adalah tiruan sempurna dari apa yang tak aku mengerti dari seluruh petuah yang kau ucapkan dalam kitab lengkara. Saat engkau memberinya nama, jadilah ia secuil daging di telapak tanganmu. Saat engkau memberinya hati, jadilah ia kekasih gelapmu. Padanya engkau memberi segala yang mungkin: Segala sedih, segala gembira, segala remuk, segala racun ular berbisa. Seperti sungai yang mengalir dari matamu, bukankah itu ironi dari sungging seulas senyum? Sementara aku masih rajin menjelajahi otakmu, menambang pelupukmu, menggali kupingmu, melubangi ubun-ubunmu. Demi mencoba menemu mana yang sarang lebah, mana yang busut semut? Dan barangkali, menyigi wajahmu di langit-langit kamarku akan membantuku menemukan kira-kira di mana surgu sejati si kayu jati? (Januari 2014)”

“Zikir Malam yang Tak Bernama — (Dark Mystical Visual Spell - Version) I. Takhalli: Panggilan dan Pengosongan pangkal bayang aku datang— tanpa tubuh, tanpa suara, serpih gelap memanggil nama-Mu lewat bisikan lebih tua dari kata. A— L— L— A— H— senyap meregang seperti kulit luka menolak sembuh. retak sunyi cahaya api— menjilat, menelan, memanggilku seperti ibu. II. Pencarian: Kebenaran yang Tersembunyi lorong gelisah perindu langkah gugur di jalan. rah— mah— dum— hening runtuh jatuh perlahan langit buta ke dalam dada retak. Rumi tersenyum di balik tirai menggores langit dengan rindu yang suci: “yang kau cari, sedang mencari dirimu…” suara pecah, menjelma hujan menyambar dedaunan dari ada menjelma tiada. raga rapuh— seperti mantra hilang napas, menggelinding jatuh ke dalam jurang tak berdasar. III. Hilang: Peleburan penanggalan diri Kebenaran berjalan sebagai getar tanpa wujud: nyeri yang lembut, sepi yang menggulung, darah yang berzikir nadi yang menggigil. Hallaj datang serupa mimpi, membawa luka yang menyala seperti taring serigala. ia berkata dengan mulut terbungkam: “hilanglah, biar kau ditemukan.” dan aku pun larut— dari wajah, dari ingatan, dari seluruh nama yang pernah kupanggul sebagai takdir. IV. Fana: Puncak fana adalah ruang bening di mana gelap dan terang tidak lagi bertengkar. fa— na— fa— na— fa— pantulannya menggulung diriku seperti kain kafan yang lapar. aku lenyap pelan-pelan, tanpa pamit, tanpa kubur. V. Wahdatul Wujud: Kekekalan dan Pewahyuan ambang baqa dengung lembut menyusup tulang— ia bukan kata, bukan doa: ia adalah diri yang memanggil namanya sendiri melalui aku yang bukan aku. “engkau— adalah aku— yang kusebut— melalui dirimu—” dan sufi-sufi yang hilang itu menari di udara patah, seperti bayang yang lupa siapa yang menyalakan api di dada mereka. aku berdiri di garis tipis antara debu dan cahaya, antara hilang dan pulang, antara fana dan baka. dan ketika langkahku pecah menjadi gelombang menyalakan kegelapan— aku tahu: yang kembali bukan padaku, melainkan rahasia kecil yang Kau biarkan menjadi mantra agar dunia bisa mendengar sedikit saja dari sunyi yang selamanya abadi. November 2025”

“Zoyya Ada yang luput tertangkap dalam binar mata Zoyya Usia muda yang ingin nyatakan dirinya sendiri Seekor ayam berbulu merah tak kasat mata Sebuah rahasia yang sengaja ia sembunyikan, Tertutup rapat dalam pintu kamar terkunci Dan lubang menganga dari separuh dunia Siapa melihat Zoyya di sana asyik dengan pikiran sunyi? Membuat tangga ke surga untuk meraih kebahagiaan Apakah kau lihat Zoyya dalam dirimu, sebagaimana aku menemukan Zoyya dalam diriku? Ada kepahitan yang gemetar seperti daun hijau tersentuh angin Seperti riak air di danau yang menggigil kedinginan Betapa tikaman senyap itu terasa sangat menyakitkan Betapa aum kegelisahan itu terdengar sangat menakutkan. Mungkin, kau tak akan pernah melihat dia menangis Sepintas, ia hanya tertawa-tawa gembira dalam semesta kecilnya. Mengubur semua kisah dalam layar ponsel yang tak henti berkedip Dalam ratusan tanda cinta yang beterbangan ke udara Kita memuja Zoyya seperti memuja masa kanak-kanak kita yang polos dan mungkin naif Ketelanjangan yang tak pernah ditutup-tutupi Hanya bisa menduga-duga berapa usia Zoyya saat ini Sekali lagi lepas dari tatapan mata berang mama dan papa Luka yang ia samarkan dari sinar matahari pagi Dan segala kemungkinan apa yang bisa terjadi di sekolah; Nama yang sengaja ia lupakan, Identitas yang tak ingin ia bagi Tapi betapa... Betapa usia belia tak berarti apa-apa baginya Harapan yang tak lagi ia dambakan, kerinduan yang sepertinya tak ia kehendaki. Ia telah menembus kegelapan itu dengan caranya sendiri Mungkin ia lupa pulang Mungkin ia lupa jalan untuk kembali Sebab rumah hanyalah sebuah kenangan sedih yang sudah lama ingin ia tinggalkan. Oktober 2025”

“Topeng Kemunafikan Mengapa kau tanam mawar itu di pinggir jalan Kay? Apakah sengaja, agar semua orang bisa memungut atau pura pura mencintainya? Tapi bukankah kau tahu, tak ada rasa kagum semurah itu? Seperti semua harapan palsu yang kau tabur di atas ranjangmu. Bunga mawar merah jambu yang mekar sejenak sebelum layu dibakar waktu. Masih banyak cinta yang sesungguhnya tak kau mengerti. Apakah cuma itu satu-satunya cara untuk membunuh kesendirian dan rasa sepi? Luka parut di dada dan jantung yang perlahan hilang detaknya. Sudah berapa lama engkau merasa jemu dengan rutinitas yang itu-itu juga. Seperti pikiran dangkal yang terus menghantui kita dengan potongan kata dusta. Apakah kesedihan semacam ini yang ingin engkau abadikan? Dari satu frame ke frame yang lain. Dari satu video ke video berikutnya. Cuma untuk menampilkan ingatan yang sudah kau hafal di luar kepala dan senyum getir yang susah payah kau sembunyikan dari dunia. Atau barangkali, itulah caramu untuk mengejek dan mencemooh kami, karena terlanjur terjebak dalam ritual yang menghinakan ini. Ritual memuja ego dan menipu diri sendiri. Sebab harus kami akui, cuma engkau yang sesungguhnya paling murni di antara kita. Cuma engkau satu satunya yang telanjang dan tidak menutup diri dengan topeng kemunafikan. 2024 - 2025”

“Adakah Kau Temukan Separuh Ilusi dalam 7 Bait Sajakku Ini? (Transcendence–Existentialist–Mystical–Bartesian) /1/ Di ambang cahaya yang gagal menemukan dirinya, aku melihat riak kuning yang tampak seperti sisa doa yang kehilangan tuannya. Seekor angsa liar melintas tanpa tahu apakah ia burung atau hanya gema dari sesuatu yang tak pernah selesai menjadi makna. /2/ Jangan percayai hening yang menggantung di dahan dadap itu. Ia bukan sunyi, melainkan mata ketiga dari kesadaran yang menatap balik pada penafsirnya. Seekor burung hantu buta menjadi penanda yang terlantar— simbol yang dibuang dari mulut bahasa. /3/ Aku bersaksi tentang rusa totol indigo yang lahir dari tawa kanak-kanak, bukan sebagai hewan, tetapi sebagai fragmen kosmik yang melampaui tubuh, sejarah, dan dilatasi waktu. Rumput kelabu bening di kakinya mengajarkan bahwa setiap permainan adalah ritual kecil dari keberadaan yang mencari arti sendiri tanpa pernah menemukan. /4/ Karena sajakmulah, aku melihat hujan yang sempat ragu turun ke dalam cangkir para sufi— bukan sebagai air, melainkan sebagai niat kata yang gagal menjelma doa. Di antara lipatan sorban putih itu ada jeda panjang tempat Tuhan pernah sembunyi untuk melupakan nama-Nya sendiri. /5/ Di pelupuk matamu kutemukan bilah luka yang tak tunduk pada bahasa mana pun. Heran luruh menjadi serpihan kaca, mengiris senyum para penjaja cinta. Barangkali itu bukan kesedihan, melainkan alfabet purba yang kehilangan suaranya sebelum sempat menjadi kata. /6/ Ada selaput tipis takjub yang tak pernah disentuh oleh jari Nizhami atau siapa pun yang mencoba menafsirkan asmara. Ia bukan cinta, melainkan bayangan semu— penanda yang tersesat di lorong gelap kesadaran yang menolak direstorasi. /7/ Langit keruh kelabu tampak jenuh oleh seluruh tangisanku, tangis yang bernaung di ceruk terdalam jantung kita seperti embun yang takut menjadi air. Barangkali memang begitu cara ilusi bekerja: menyamar sebagai kesunyian saat dahaga merayap jauh ke gurun paling sunyi di dalam diri. November 2025”

“JENAWI I. Kincah Belanga Di antara gemeretak lentik kayu api                                                                                                                             gamang tualang di atas tempaan besi                                                                                                                         gabak mata di balik tungku pembakaran                                                                                                                          dan bayang kuasi samudra air mata                                                                                                              teraduk sempurna dalam kincah belanga.                                                                                          Adakah sebuah perasaan lain yang mungkin,                                                                                     selain cinta? Jerih sebatang besi atau mungkin                                                                                            perih kersani yang niscaya beradu di antara hati                                                                          dan jantung maut, saat keduanya bertaut? Duhai pemutus rantap, jangan sekali-kali mata                                                                                   ditentang nyata, sebab kena tuahnya mati Belanda                                                                                                           Duhai engkau penetak leher lembu betina.                                                                                       Akankah kaubawa keping secuil hatiku                                                                                                     ke mana pun engkau pergi berkelana? Seperti                                                                                         kerat jangat dalam bungkus selampai putih                                                                                             Pada tajam mulut atau garit luka dingin parasmu                                                                            yang hadir dalam ruap mimpi dan balau igauanku.                                                                         Engkau mungkin saja sekadar fatamorgana                                                                                     di mana aku mengada dalam tiap tetes                                                                                            bening air mata rembulan, tempat di mana                                                                                   dulu aku melabuhkan segala kerinduan.”