Quotessence
Home / Topics / Kekayaan Quotes

Kekayaan Quotes

Browse 11 quotes about Kekayaan.

Kekayaan Quotes

“Banyak orang ingin mengubah hidupnya, tapi sedikit yang mau mengubah dirinya. Mereka lupa bahwa hidup hanyalah cermin, dan cermin tak pernah berdusta. Jika wajahmu tampak kusam di pantulan cermin, bukan kaca yang harus dibersihkan — melainkan wajahmu sendiri. Demikianlah pula kekayaan: ia bukan hadiah dari luar, melainkan refleksi dari dalam. Siapa yang menata batinnya dengan rapi, bersih, memberi kenyamanan akan melihat dunia tersenyum kembali padanya.”

“Ketika makan malam selesai, sang saudagar berkata dengan nada bangga, “Guru, lihatlah semua ini — rumahku, perusahaanku, hartaku yang berlimpah. Katakan padaku, apa lagi yang harus kulakukan agar dunia mengagumiku lebih dari ini semua?” Sang guru tersenyum samar. “Apakah engkau ingin dikagumi, atau ingin dihargai?” Saudagar itu terdiam sejenak. “Apa bedanya?” “Yang dikagumi mengundang iri hati dan kecemburuan, yang dihargai menumbuhkan respek dan rasa hormat. Yang dikagumi seringkali hidup dalam panggung sandiwara, sementara yang dihargai hidup dalam keheningan yang jauh lebih bermakna.”

“Jangan mencari cara menjadi kaya, temukanlah dulu kesadaran untuk melayakkan dirimu, bahwa kekayaan itu memang pantas untuk kamu miliki. Karena orang yang tidak siap, akan kehilangan bahkan setiap kali diberi. Karena dalam setiap anugerah Tuhan itu ada makna dan amanah yang Ia titipkan.” “Kesadaran, anakku, adalah pintu pertama menuju kelimpahan. Bukalah pintu itu, dan kau akan menemukan bahwa segala yang kau cari di luar sebenarnya telah lama menunggu di dalam dirimu sendiri.”

“Ada dua gagasan yang hidup di dalam pikiran manusia: yang satu dilingkupi rasa cukup, yang lain dibungkus rasa takut." Yang pertama berkata, “Aku bisa mencipta, karena dunia ini penuh kemungkinan.” Yang kedua berbisik, “Jika orang lain mendapat, maka bagianku akan berkurang.” Orang yang hidup dalam kelimpahan melihat peluang di tengah kekurangan, sementara mereka yang hidup dalam ketakutan melihat kekurangan di tengah peluang. Mereka berjalan di jalan yang sama, namun yang satu menatap langit penuh bintang, dan satu hanya melihat tanah berbatu yang tidak rata di bawah kakinya. Yang satu berpikir bagaimana caranya untuk jadi pemenang Sementara yang lain terperangkap dalam ketakutannya sendiri sebagai pecundang.”

“Kesadaran bukan sekadar berpikir positif. Ia adalah keheningan batin yang memahami hukum semesta: bahwa apa yang kau tanam dalam pikiran, akan tumbuh dalam kenyataan. Bila benihmu adalah rasa syukur, maka hidupmu akan berbuah kedamaian, kegembiraan dan kebahagiaan. Namun bila tanah hatimu engkau taburi rasa takut, kekhawatiran, keengganan dan seribu alasan, maka segala yang tumbuh akan terasa pahit dan menyakitkan. Oleh karena itu setiap pagi, sebelum dunia menuntut perhatianmu, tanyalah pada dirimu sendiri: “Apakah pikiranku hari ini menciptakan kelimpahan, atau kekurangan?” Karena seperti matahari yang tak perlu diingatkan untuk terbit, demikian pula kesadaran yang benar — ia akan memancarkan terang, semangat, harapan, optimisme, antusiasme bahkan tanpa disuruh.”

“Uang datang kepada mereka yang tahu bagaimana memberi arah kepada prosesnya. Mulai dari niat, motif dan fokus pada tujuan. Ia seperti aliran air: mengalir dari sumber mata air yang jernih mencari tempat berlabuh, menjauh dari yang keruh. Bila hatimu penuh syukur, uang akan mendekat dengan cara-cara yang tak terduga. Namun bila hatimu penuh keluh kesah, uang pun takut menetap — ia bisa saja datang sebentar, lalu pergi tanpa pamit. Kalau ingin menangkap ayam, jangan kejar ayamnya. Ia akan lari menjauh. Demikian pula; jangan kau kejar uang; karena ia akan terbang menjauh. Melainkan kejarlah pemahaman tentang bagaimana menciptakan nilai. Sebab nilai adalah bahasa yang dimengerti oleh semesta, dan mereka yang mendoakannya dengan penuh kesungguhan, mengupayakannya dengan ketekunan dan menuturkannya dengan tulus, takkan pernah kekurangan rezeki.”