Quotessence
Home / Quotes / Quote by Rajen Jani

Quote by Rajen Jani

Work

Gorin no Sho & Dokkodo: Miyamoto Musashi

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Rajen Jani

Browse famous quotes and profile details for Rajen Jani. more

You May Also Like

“PUISI YANG MENYALAK DI DALAM KUIL Aku datang sebagai suara yang tidak diundang, mengganggu arak-arakan para penyair suci yang mengenakan jubah kaftan fedora yang melangkah dengan medali penghargaan bergantung di lehernya. Mereka menyanyi tentang keindahan seperti imam-imam tua yang lupa bahwa dunia pertama-tama adalah luka. Aku bukan bagian dari mereka. Aku tidak ingin menjadi bagian dari mereka. Aku adalah PUISI yang berteriak di ambang pintu, yang menolak sujud pada altar klasik, yang tidak mau dicatat dalam sejarah karena sejarah terlalu sering memilih untuk memaafkan penguasa dan melupakan rakyat jelata yang mati terkubur. Aku memanggil Rilke— bukan rilkian yang halus dan haus pujian tapi Rilke yang meradang dalam keterasingan, yang bertanya kepada malam: “Haruskah aku meronta ketika kata-kata tak lagi sanggup menampungku?” Dan malam menjawab dengan kehampaan tanpa tepi. Aku melawan kehampaan itu dengan gigiku sendiri. Aku menggigit batas-batas puisi yang dibangun para kurator yang merasa tinggi yang menentukan mana yang layak disebut puisi, mana yang harus dibuang ke kolong rak antologi. Aku menolak semuanya. Sebab aku lahir bukan dari estetika, melainkan dari ketegangan di dada: napas yang hampir patah, lutut yang hampir rubuh, kesadaran yang hampir retak. Para akademisi akan mencoba mengukurku dengan teori yang rapuh, menganalisaku seperti fosil masa lalu. membelahku dengan mata pisau kritik yang tidak pernah menyentuh penderitaan nyata. Aku menatap mereka— dan menertawakannya sebagai kekosongan yang menggelikan. Aku tidak ingin jadi kanon. Aku tidak ingin jadi trofi kebanggaan. Aku tidak ingin berdiri di podium penghargaan. Yang kuinginkan hanya satu: menjadi kebenaran telanjang yang membuat siapa pun yang membacanya merasakan getaran pertama kelahiran manusia— ketakutan, keterkejutan, kesunyian yang menganga. Aku adalah PUISI, bukan yang kalian rayakan, melainkan yang kalian hindari. Aku adalah puisi yang menolak dipoles, yang menolak dirapikan, yang menolak dimandikan dalam metafora indah agar tampak seperti karya seni. Aku tidak ingin indah. Aku hanya ingin benar. Dan kebenaran itu ganas, tajam, kejam: biar manusia menulis bukan untuk menjadi abadi, tetapi untuk menyelamatkan sisa-sisa peradaban yang hampir tenggelam oleh pengapnya kehidupan. Jadi aku berdiri di sini— sebagai catatan perlawanan terhadap segala yang ingin menjinakkanku. Jangan sebut aku puisi jika itu berarti tunduk. Sebut aku PUISI yang kembali ke akar pertama: jeritan batin, teriakan luka pengakuan yang tak bisa dibohongi, suara yang terbit dari jurang dalam diri manusia. Jika dunia menolakku, itu berarti aku hidup. Jika sejarah menyingkirkanku, itu berarti aku benar. Aku adalah PUISI yang tidak meminta tempat— aku akan merebutnya. Sebab siapa yang layak adalah ia yang paling jujur pada diri sendiri. November 2025”

“Sutra Hening: Jalan Tengah di Antara Ada dan Tiada” Di titik ketika suara tak lagi membutuhkan gendang telinga, aku duduk—bukan untuk mencari terang, melainkan untuk melihat siapa yang paling gigih merindukan cahaya. Hampa menyelimuti seperti udara pagi; tidak dingin, tidak hangat— hanya ada. Bodhidharma duduk di depanku, wajahnya setegas gunung purba. Ia berkata tanpa suara: “Jika pikiran tak tenang, siapa yang ingin kau tenangkan?” Aku terdiam—bukan karena tak mengerti, tapi karena aku melihat tanganku sendiri hilang ketika hendak menggenggam pertanyaan itu. Lalu Huineng datang, bukan sebagai guru, melainkan sebagai angin yang menyingkap tirai: “Tak ada cermin. Tak ada debu. Siapa yang membersihkan apa?” Sekali lagi aku mencoba menjawab, dan sekali lagi jawabanku runtuh seperti bayang yang kehilangan tubuh. Thich Nhat Hanh datang sebagai mimpi, mengajarkan cara menatap embun tanpa menginginkan arti. Ia bilang: “Tersenyumlah pada kehadiranmu sendiri. Kesadaran itu bukan menahan apa pun, tetapi membiarkan semuanya lewat.” Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa napas bisa menjadi jembatan antara dunia yang retak dan hati yang ingin pulang. Alan Watts mengangguk, tertawa, seolah tahu bahwa tawa adalah pintu gerbang paling rahasia. “Kau bukan penumpang di dalam tubuhmu,” katanya, “kau adalah tarian antara bentuk dan kekosongan.” Aku melihat gelombang naik dan turun bukan sebagai metafora kehidupan melainkan sebagai bukti bahwa kehilangan dan penemuan selalu saling memasuki tanpa konflik. Lalu aku bertanya—dalam diam yang membungkus semuanya: Jika aku bukan murni ada dan bukan murni tiada, apa sebutan untuk jarak tipis yang senantiasa berubah antara keduanya? Jawaban yang datang bukan kata, bukan isyarat, melainkan kejernihan: bahwa paradoks bukan masalah yang harus diselesaikan melainkan lanskap yang harus ditapaki dengan sepenuh hati. Bahwa kekosongan bukan lubang tetapi ruang untuk segala kemungkinan. Bahwa kehadiran bukan beban tetapi kelahiran ulang pada setiap kedipan mata. Bahwa penyerahan bukan pasrah tetapi melihat bahwa tidak ada musuh selain cengkeram cakar sendiri. Aku menutup seluruh panca inderaku, dan untuk pertama kalinya aku memandang tanpa melihat. Aku membuka tangan, dan untuk pertama kalinya aku memiliki tanpa menggenggam. Aku membiarkan diriku diam, dan untuk pertama kalinya aku menjadi gema dari sesuatu yang jauh lebih besar dari kata “aku”. Di titik itu aku tahu: puitika paling terang lahir bukan dari hasrat yang ingin hebat, melainkan dari kalimat yang rela lenyap agar makna dapat muncul tanpa penjara. Dan di dalam lenyap itu, sebuah pertanyaan lain mengalir: Jika keheningan adalah guru yang paling jujur, siapa lagi yang harus kita dengarkan? November 2025”

“...I often wondered just how far back my girls - or any of us - would have to trace to stop the flow of regrets. 'If we hadn't let our guard down...,' one might confess. But history no doubt contained many pages before that moment. Leaving thoughts unchecked. Challenging the edges of danger, not recognizing that the cliff edge is not solid granite but crumbling sandstone. Entertaining, if only for a flash, risk's possibility. Opening the door to opportunity. Not looking away when sin's bribe was offered, as if the agreement held no consequences. How far back would we have to go to find the blink of time in which a wiser choice - a different choice - would have changed everything? I learned and taught that a person doesn't burn to death by falling on the fire, but by staying there. I learned, too, that grace heals scars, massages the stiffness out of losses, creates purpose out of pain. And that the deeper the mine of shame, the richer the vein of gratitude.”

“The destruction of sight, wherever the injuries be sustained, follows the same law: all colours are affected in the first place, and lose their saturation. Then the spectrum is simplified, being reduced to four and soon to two colours; finally a grey monochrome stage is reached, although the pathological colour is never identifiable with any normal one. Thus in central as in peripheral lesions ‘the loss of nervous substance results not only in a deficiency of certain qualities, but in the change to a less differentiated and more primitive structure’.”

“For possibly the first time in three decades, I’m not weighed down by trying to read someone’s colors and their facial expression and their body language and their tone and their words and also look out for jokes and sarcasm and flirting and secret insults and what is implied and what is left unspoken and somehow simultaneously filter out the chatter around me and the milk frother and the sensation of the chair under my bum and the movement of my fingers and position of my own feet and the breeze on my face and the sound of the doorbell ringing and the sound of my own heart and breath and the muscles in my own face. For just a few seconds of my life I get to just be present, and it is joyful.”

“They don't tell you about the curse of travelling. You went out there and saw the colors, tasted the wine, saw the chaos. You expanded our minds until they couldn't fit back into these little boxes people call ‘NORMAL lives.' Now, the local gossip feels petty. The 9-to-5 feels like a cage. It’s the curse of the wanderer. You fit in everywhere, so you don't fit in anywhere.”