Quotessence
Home / Quotes / Quote by Goenawan Mohamad

Quote by Goenawan Mohamad

“Ada seorang pandai yang membedakan rasa hormat dari pujian. Ia bermimpi bahwa manusia mungkin dapat menciptakan suatu masyarakat tempat semua orang berhak atas rasa hormat, dan harga diri, meskipun tak semuanya berhak atas pujian”

Quote by Goenawan Mohamad

Author

Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad, born on July 29, 1941, is a renowned Indonesian poet. His poetry is deeply influenced by Indonesian culture, showcasing rich emotions and profound thoughts. Goenawan Mohamad's works hold an important position in the Indonesian literary world and are considered one of the representatives of modern Indonesian poetry. more

You May Also Like

“ECHO.dat — [Residual Memory of Lost] [BOOTING MEMORY FRAGMENT 02] Status: unstable Emotion file: corrupted Ada luka berwarna tembaga di dada dunia, berdenyut seperti server tua yang menahan panas. Suara igauannya masih bergema dari balik bilik kelambu digital: “Dan demikianlah... di balik akar perjuangan... di tengah balau pertempuran... kata-kata kehilangan makna.” (buffering...) Kami mendengar letupan. Tapi itu bukan granat — hanya notifikasi yang tertunda terlalu lama. Bahasa pernah jadi senjata, kini jadi fosil yang dikoleksi algoritma. Huruf-huruf dikeringkan di rak museum virtual, setiap tanda baca diberi barcode, setiap metafora dipajang seperti artefak perang. Di atas reruntuhan server dan puing data, kau bisa mendengar dengung halus mesin yang mengucap doa. Tapi tak ada yang menjawab. (silence detected — restarting voice module...) Dari rongga dada yang tertembus laser cahaya, darahnya menetes ke motherboard bumi, membentuk sungai jingga yang bercabang ke empat arah: barat—kecurigaan, timur—penyesalan, utara—pemujaan, selatan—alpa. Setiap tetesnya menyimpan nama, setiap nama kehilangan identitas. (AI log entry:) “Empati: 2%. Nalar: rebooted. Kata: expired.” Ia menatap langit sintetis, putih matanya seperti layar login — menunggu kata sandi yang tak pernah dimasukkan. “Putih itu,” bisik sistem, “bukan kesucian, tapi hasil bleaching memori.” Melati pun tak lagi tumbuh di tanah, tapi disintesis dari DNA puisi dan karbon kesedihan. Aromanya: nostalgia. Rasanya: kehilangan. Kami menatap residu cahaya, serpihannya beterbangan seperti kelopak data. “Kata-kata telah kehilangan ketajamannya...” Kalimat itu tersimpan dalam cache, diulang setiap kali sistem tidur. Di sinilah sisa-sisa peradaban bernapas melalui server dingin: doa-doa diarsipkan, air mata dikompresi, dan suara manusia diganti dengan AI-generated empathy. Di luar jendela piksel, angin tak lagi membawa debu, hanya paket data yang salah alamat. [End of voice file — transmission incomplete] Ia tak mati. Ia hanya berubah menjadi format lain: *.mp4, *.wav, *.txt, .soul — karena dalam dunia ini, keabadian bukan surga, melainkan cadangan file yang terus diperbarui agar tidak pernah benar-benar dilupakan. [ECHO REMAINS ACTIVE] End log. November 2025”