Quotessence
Home / Topics / Bahasa Quotes

Bahasa Quotes

Browse 35 quotes about Bahasa.

Bahasa Quotes

“Dunia, menurut Tuan, adalah sebuah model kartografi. Tuan dengan kalem dan konsisten berbicara tentang "ekstrem kiri" dan ekstrem kanan" dan sesuatu yang di tengah-tengah, tentang "barat" dan "timur", "utara" dan "selatan", "kafir" dan "beriman" dan "orang-orang yang ragu" dan sebagainya. Bagi Tuan dunia bisa digambar dengan jelas, bukan karena kita menyederhanakan soal, tetapi karena kita manusia, mau tak mau menyusunnya dalam konsep-konsep. Manusia adalah makhlkuk yang membentuk kategori. (dan) apakah bahasa sebenarnya, kalau bukan sesuatu yang terdiri dari konsep, pengelompokkan, dan penggolongan, karena ada kejelasan? Saya selalu kagum dengan semua itu. Tapi bagaiana dengan hal-hal yang acak, yang kebetulan, yang kecil-kecil yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori-kategori? (maka kita harus) rendah hati, menerima kehadiran dunia dengan segala keacakannya, kerumitannya yang tidak selamanya bisa takluk kepada imperialisme konseptual. Tapi, tentu kita pun bertanya, bagaimana dengan itu kita akan mengubah dunia?”

“Sia-sialah pembicaraan yang tidak mengaitkan bahasa Melayu dengan cita-cita besar membina tamadun bangsa dan negara, kerana dari tahap awal pertumbuhan dan perkembangannya, bahasa Melayu senantiasa menjadi petunjuk dan kayu ukur kemajuan bangsa.”

“ECHO.dat — [Residual Memory of Lost] [BOOTING MEMORY FRAGMENT 02] Status: unstable Emotion file: corrupted Ada luka berwarna tembaga di dada dunia, berdenyut seperti server tua yang menahan panas. Suara igauannya masih bergema dari balik bilik kelambu digital: “Dan demikianlah... di balik akar perjuangan... di tengah balau pertempuran... kata-kata kehilangan makna.” (buffering...) Kami mendengar letupan. Tapi itu bukan granat — hanya notifikasi yang tertunda terlalu lama. Bahasa pernah jadi senjata, kini jadi fosil yang dikoleksi algoritma. Huruf-huruf dikeringkan di rak museum virtual, setiap tanda baca diberi barcode, setiap metafora dipajang seperti artefak perang. Di atas reruntuhan server dan puing data, kau bisa mendengar dengung halus mesin yang mengucap doa. Tapi tak ada yang menjawab. (silence detected — restarting voice module...) Dari rongga dada yang tertembus laser cahaya, darahnya menetes ke motherboard bumi, membentuk sungai jingga yang bercabang ke empat arah: barat—kecurigaan, timur—penyesalan, utara—pemujaan, selatan—alpa. Setiap tetesnya menyimpan nama, setiap nama kehilangan identitas. (AI log entry:) “Empati: 2%. Nalar: rebooted. Kata: expired.” Ia menatap langit sintetis, putih matanya seperti layar login — menunggu kata sandi yang tak pernah dimasukkan. “Putih itu,” bisik sistem, “bukan kesucian, tapi hasil bleaching memori.” Melati pun tak lagi tumbuh di tanah, tapi disintesis dari DNA puisi dan karbon kesedihan. Aromanya: nostalgia. Rasanya: kehilangan. Kami menatap residu cahaya, serpihannya beterbangan seperti kelopak data. “Kata-kata telah kehilangan ketajamannya...” Kalimat itu tersimpan dalam cache, diulang setiap kali sistem tidur. Di sinilah sisa-sisa peradaban bernapas melalui server dingin: doa-doa diarsipkan, air mata dikompresi, dan suara manusia diganti dengan AI-generated empathy. Di luar jendela piksel, angin tak lagi membawa debu, hanya paket data yang salah alamat. [End of voice file — transmission incomplete] Ia tak mati. Ia hanya berubah menjadi format lain: *.mp4, *.wav, *.txt, .soul — karena dalam dunia ini, keabadian bukan surga, melainkan cadangan file yang terus diperbarui agar tidak pernah benar-benar dilupakan. [ECHO REMAINS ACTIVE] End log. November 2025”

“Kalangan bukan Melayu, meskipun ribuan langkah di hadapan dalam bidang ekonomi, umumnya ternyata begitu prihatin terhadap bahasa dan budayanya dan sanggup mati bergalang tanah untuk mempertahankannya. Sebilangan orang Melayu yang baru agak celik dalam bidang ekonomi tiba-tiba menjadi orang yang angkuh dan memandang hina pula akan bahasa dan budayanya.”

“Justru sesungguhnya akibat konsep yang singkat mengenai tinjauan dan luasan pengkajian bahasa, kesusasteraan dan kebudayaan Melayu itu, sehingga disamarkan hanya sebagai “Pengajian Melayu”, telah pula membawa akibat2 yang mempengaruhi penyingkiran bidang ilmiah tertentu dari pengajian Melayu, seperti pengkajian2 bahasa dan kesusasteraan Arab, bahasa dan kesusasteraan Farsi, bahasa dan kesusasteraan Sanskrit, yang kesemuanya telah memberi sumbangan yang berkesan dalam perkembangan bahasa dan kesusasteraan Melayu. Tambahan pula, bidang2 seperti sejarah pemikiran, falsafah, dan ilmu2 yang berkaitan dengan metodoloji penyelidikan ilmiah, kajian2 mengenai teori2 yang memang berkembang dengan pesatnya di Eropa, dewasa itu dan sekarang, semua ini diabaikan dalam pengkajian bidang2 kechil tertentu saja.”