Quotessence
Home / Quotes / Quote by Goenawan Mohamad

Quote by Goenawan Mohamad

Author

Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad, born on July 29, 1941, is a renowned Indonesian poet. His poetry is deeply influenced by Indonesian culture, showcasing rich emotions and profound thoughts. Goenawan Mohamad's works hold an important position in the Indonesian literary world and are considered one of the representatives of modern Indonesian poetry. more

You May Also Like

“Time can play all sorts of tricks on you. In the blink of an eye, babies appear in carriages, coffins disappear into the ground, wars are won and lost, and children transform, like butterflies, into adults. That's what happened to me. Once upon a time, I was a boy named Hugo Cabret, and I desperately believed that a broken automaton would save my life. Now that my cocoon has fallen away and I have emerged as a magician named Professor Alcofrisbas, I can look back and see that I was right. The automaton my father discovered did save me. But now I have built a new automaton. I spent countless hours designing it. I made every gear myself, carefully cut every brass disk, and fashioned every bt of machinery with my own hands. When you wind it up, it can do something I'm sure no other automaton in the world can do. It can tel you the incredible story of Georges Melies, his wife, their goddaughter, and a beloved clock maker whose son grew up to be a magician. The complicated machinery inside my automaton can produce one-hundred and fifty-eight different pictures, and it can wrote, letter, by letter, an entire book, twenty-six thousand one hundred and fifty-nine words. These words. THE END”

“Sebagaimana yang dikatakan tadi pintu-pintu yang terbuka untuk dimasuki oleh syaitan ke dalam hati adalah sangat banyak. Tetapi pintu untuk dimasuki oleh malaikat hanyalah sebuah sahaja. Sungguhpun demikian manusia masih terus terkeliru bila bedepan dengan pintu-pintu tersebut. Ianaya adalah sepeti seorang musafir yang sedang berada di tengah-tengah padang pasir yang mempunyai banyak jalan yang berliku-liku di tengah-tengah malam yang gelap gelita. Ia hanya dapat mengesan jalannya melalui mata hati dan terbitan matahari dengan sinarannya yang terang-benderang. Mata hati di sini ialah hati yang putih bersih bersalut taqwa, dan matahari yang terang-benderang ialah ilmu pengetahuan yang banyak diperolehi dari Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW yang mana memberinya petunjuk dan memimpinnya ke arah jalan lurus yang patut diikutinya.”

“Berjalanlah dan terus berjalanlah dengan niat kebaikan untuk mengejar restu dari Allah, bersama orang-orang yang kaucintai, lalu sematkan dalam hati dan pikiranmu akan perjalanan hidupmu tentang surga yang akan kaugapai. Maka seberat, sepanjang, dan sebesar apa pun halangan yang melintangi langkahmu, akan terbuka dengan sendirinya atas Izin-Nya. Ingatlah, Tuhan akan mengirim malaikat-malaikat-Nya yang mempunyai keringanan tangan tak bertepi untuk menyelamatkanmu manakala kau hendak terpeleset di ujung jurang yang curam. (123)”