“HELIANTHUS: MINIATUR 7 METAMORFOSIS I. Bunga yang Melihat Api Helai-helai matahari berputar di dalam tengkoraknya. Seekor singa tidur dalam dadanya, menggeram pada warna yang menolak lahir dari tangannya. Malam tertawa biru— sebuah parodi langit yang meminum kenangan. Ia mendengar bintang jatuh seperti gigi-gigi patah dari langit yang demam. Telinganya pecah. Darah menyala seperti obor kecil di pintu sebuah rumah kuning yang tak pernah selesai dibangun. II. Litani Rumah Kuning I Di lorong-lorong sunyi Arles sebuah kuas jatuh— dan dunia berubah menjadi almanak yang hilang. II Bayang telinga, sehelai saputangan, nama yang tak kembali dari jendela. III Dalam malam penuh bintang hanya debu yang mengingatkan kita bahwa ia pernah memilih cahaya. IV Di Saint-Remy, ruang-ruang putih menghafal langkahnya lebih baik dari siapa pun. III. Telinga, Matahari, Abu Telinga jatuh. Sebuah malam mengatup. Batu meminum darahnya. Kelopak— abu kuning di antara dua nadi. Cahaya patah, menggigil. Ia berjalan tanpa tubuh, meninggalkan namanya pada angin yang beku. IV. Matahari yang Memeluk Luka Ada matahari yang tumbuh dari dadanya— lambat, panas, seperti buah yang ingin pecah. Kelopak-kelopak cahaya mengusap wajahnya dengan kelembutan yang putus asa. Dalam darahnya berdenyut ladang-ladang kuning, dan malam menunduk untuk mencium keringatnya. Ia mencintai cahaya seperti orang lapar mencintai roti. V. Cermin Matahari yang Terbelah Ia berdiri di depan kanvas— kini, dulu, nanti— waktu melingkar pada ujung kuasnya. Setiap warna yang gagal adalah pintu menuju dirinya sendiri. Telinganya— sebuah jam rusak yang terus memanggil cahaya. Ia mati dan tidak mati di saat yang sama, karena setiap garis adalah bekas langkah dari masa lalu dan masa depan. VI. Ruang Tempat Telinga Itu Jatuh Kamar itu terlalu sunyi untuk menampung napasnya. Ia menekan kornea matanya pada kanvas yang dingin, mencari sedikit alasan untuk tetap tinggal. Darah dari telinganya mengalir ke lantai— membentuk peta kecil tentang semua yang ia takuti. Ia memberi hadiah paling lembut: potongan dirinya yang tak lagi sanggup ia simpan. VII. Senja di Rumah Kuning Senja yang berat berdiri di atas rumah kuning. Sepatu bot tua, angin lembab, bau anggur membusuk di meja kayu retak. Di luar jendela, bunga matahari menggelap perlahan— seperti seseorang yang mengantuk dalam penderitaannya sendiri. Ia berjalan ke hutan, dan daun-daun kering jatuh satu per satu seperti pikiran yang terluka. Desember 2025”
Quote by Titon Rahmawan
Author
You May Also Like
Source: Invisible Man