Quotessence
Home / Quotes / Quote by Titon Rahmawan

Quote by Titon Rahmawan

“SAKURA: Enam Luka, Enam Cara Mencintai yang tak Selesai. 1. Sakura di Ambang Yang Tak Tersentuh Kelopak gugur— nama kita terhapus sebelum tiba. Senja memudar. dalam hembusan angin, langit terdiam. Di batang tua, bayangmu menempel tanpa tubuhku. 2. Sakura di Atas Luka yang Tidak Sembuh Ada jalan kecil di mana dulu kau memanggilku tanpa suara. Sakura mekar di sana hari ini, menghadirkan wajahmu yang tak boleh kusentuh. Angin mengangkat kelopak seperti membawa rahasia kita yang bahkan langit pun malu menyimpannya. Aku berdiri lama, membiarkan gugurnya bunga menjadi satu-satunya sentuhan yang masih diizinkan dunia. 3. Sakura dalam Cekungan Piala Bulan Aku minum bersama bayangku, dan kau hadir sebagai aroma yang tak pernah sempat kupeluk. Di atas sungai malam, sakura jatuh satu-satu, setiap kelopak— janji yang tidak kita tepati. Angin membawa namamu hingga ke bintang paling dingin, dan aku tetap duduk di sini, mabuk oleh hal yang tidak boleh kucintai. Di kejauhan, bulan tertawa pelan— ia tahu sejak awal kita tak akan pernah dipersatukan dunia. 4. Sakura di Antara Dua Keheningan Sakura jatuh di trotoar basah kota tanpa siapa pun memperhatikan. Seperti kata terakhir yang tidak berani kita ucapkan, ia hilang sebelum sempat menyentuh. Aku berjalan melewati pohon itu mengira kau masih ada di sana— tapi cahaya sore memantulkan betapa tipisnya keberadaan. Mungkin cinta hanyalah kelopak yang runtuh terlalu cepat untuk kita tangkap, namun terlalu lambat untuk benar-benar dilupakan. 5. Sakura yang Tumbuh di Dalam Rongga Dada Aku membuka dadaku dan menemukan sebatang sakura kecil menggeliat di antara tulang rusuk. Setiap kelopaknya membawa wajahmu— wajah yang tidak boleh kusebut tanpa membuat dunia ini memuntahkan darah. Angin malam masuk melalui retakan luka, menggoyangkan pohon itu hingga menggugurkan rahasia yang kupendam terlalu lama. Sakura itu mekar bukan untuk dirayakan, melainkan untuk mengingatkan bahwa cinta yang dilarang selalu mencari jalan untuk tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Dan aku, menjadi taman gelap yang tidak pernah diakui matahari. 6. Sakura dalam Bahasa yang Berbeda Di halaman sunyi itu, sakura berdiri seperti sebuah kata yang kehilangan huruf pertamanya. Aku mencoba mengucapkan namamu— tapi udara membeku, mengubah suara menjadi debu. Kelopak jatuh sebagai tanda-tanda kecil dari sesuatu yang tidak pernah boleh dirumuskan. Kita adalah dua kalimat yang ditulis dalam bahasa berbeda di bawah langit yang sama. Angin membawa sakura pergi, dan aku memahami bahwa beberapa cinta ditakdirkan hanya menjadi metafora: indah, dingin, dan tidak pernah selesai. April 2014”

Quote by Titon Rahmawan

Author

Titon Rahmawan

Browse famous quotes and profile details for Titon Rahmawan. more

You May Also Like

“LITANI MAKHLUK DI DALAM PERUT PELANTANG (Dongeng Singkat Tentang Seekor Anjing yang Mimpi Menjadi Mikropon, dan Sebuah Mikropon yang Diam-diam Ingin Menjadi Anjing) I. Retakan Kausa Dari atap takdir yang menggigil, hujan turun bukan sebagai air, melainkan sebagai serpih ingatan yang ditinggalkan generasi yang percaya bahwa pengeras suara lebih suci daripada detak jantung sendiri. Angin menghafal nama-nama yang diteriakkan— tetapi kini nama-nama itu berubah menjadi bulu-bulu halus yang mengelupas dari makhluk yang belum sempurna bentuknya. Ia berjalan pincang, mengendus karat, mendengarkan doa yang mendesis seperti minyak panas dari dasar kuali. II. Tubuh yang Menjadi Simbol dan Simbol yang Menjadi Makhluk Di museum moralitas, patung-patung pendosa tertawa. Namun malam itu, satu patung retak; dari celahnya keluar seekor anak anjing berwarna ungu kebiruan yang terlalu pucat untuk disebut hidup. Ia meminjam moncong dari sejarah nenek moyangnya, meminjam telinga dari debu pendiangan, dan meminjam suara dari mikropon yang lupa kapan ia berhenti bernyanyi. “Biarkan aku menjadi lidahmu,” katanya, “agar kata-kata yang kau lempar ke langit tak lagi memantul sebagai propaganda yang kehilangan ibu.” III. Doa dalam Dapur Penghakiman Dalam mimpimu, ia muncul sebagai penghibur yang lelah— alas bedaknya retak, gincunya belepotan di pipi, kakinya gemetar, tetapi matanya menyimpan tahapan-tahapan kesedihan yang jauh lebih tua daripada artefak yang kau yakini suci. Ia melihatmu mencari bayangan sendiri di dekat api yang tak pernah benar-benar menyala, dan tersenyum jenaka: “Barangkali kau benci bukan pada tubuhku, tapi pada suara yang tak berani kau sebutkan namanya.” Mikropon itu mendengar, dan getarannya menjadi litani— tanpa tuduhan, tanpa penghakiman, hanya gema dari mulut tanah yang gemetar. IV. Wajah Luka yang Tidak Dipamerkan Ketika kau akhirnya menyingkap wajah makhluk itu, kulitnya mengelupas, darahnya meletup; ia mengalir sebagai sungai merah yang sangat panjang, hampir seperti selendang yang menutup dunia setiap kali manusia kelelahan menipu dirinya sendiri. Di balik selendang itu, mikropon tua menunduk: “Apakah ini tubuhmu? Atau tubuhku? Atau tubuh semua kata yang tak pernah kita izinkan hidup?” V. Jalan Sunyi yang Menganga ke Dalam Tanah Makhluk itu—entah anjing, entah kesaksian— tak terbang ke langit. Ia menyelam ke lapisan bumi paling pekat, ke lorong-lorong di mana gema doa tak lagi memohon keselamatan tetapi memohon untuk dikenali. Di sana, telinganya mekar sebagai kaktus hijau berduri, tunggal, lapar, menunggu disentuh tetapi tak pernah mengizinkan dipetik. VI. Nyanyian Mikropon yang Tak Lagi Menguasai Apa Pun Di permukaan, mikropon itu masih terus bernyanyi. Namun kini suaranya serak— bukan karena kehilangan kuasa, tetapi karena ia akhirnya mendengar dirinya sendiri sebagai makhluk yang juga ingin disembuhkan. Ia menyanyikan nama-nama yang angin pernah hafal, yang langit pernah kutuki, yang bumi pernah telan: suara-suara yang hanya ingin satu hal sederhana— tidak menjadi yang paling benar, tidak menjadi yang paling suci, hanya menjadi lirih terdengar tanpa harus menggantikan suara siapa pun. VII. Litani Terakhir Dan di sela-sela jeda itu, kau mungkin menangkap bisikan: bahwa tidak ada anjing yang benar-benar mati, tidak ada mikropon yang benar-benar berkuasa, tidak ada doa yang benar-benar berbohong— hanya makhluk-makhluk yang terus belajar menerima wujudnya tanpa harus menutup mata kepada siapa pun atau menyalakan api yang dapat membakar siapa saja. Litani selesai. Tidak ada amin. Yang tersisa hanya gema yang mengingatkan bahwa kebenaran— kadang-kadang— membutuhkan seekor anjing yang terlahir dari lumpur dan sebuah mikropon berkarat untuk saling menyelamatkan. Desember 2025”

“REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 5. NYANYIAN GELAS YANG PECAH (Abstraksi Teatrikal) Malam ini angin membawa kabar pahit. Seperti suara kampung yang kehilangan lampu, sepotong gelas kristal pecah di tengah rumah hatiku. Ah, Athalia… namamu seperti burung kecil yang dulu hinggap di jemariku dengan percaya. Kini bulunya rontok satu per satu dan aku hanya bisa menatap, tak mampu menangkapnya kembali. Aku pernah menjaga harapanmu seperti petani memeluk benih di dada tanah yang tandus. Tetapi hujan tak datang. Dan tanganku sendiri tanpa sengaja menggugurkan musim itu. Darah menetes pelan— bukan dari luka yang kau buat, tetapi dari marah yang lama kubiarkan mengeras seperti batu sungai. Aku merasa sangkakala kesunyian menderu di ruang dada. Ada pertarungan antara percaya dan putus asa: dua kuda liar saling berkejaran meninggalkan jejak debu di tenggorokan. Namun, wahai diri… siapa yang dapat melawan nasib ketika ia mengetuk pintu seperti tamu tak diundang? Maka kuterima kepedihan dengan langkah pelan seperti aktor tua yang masih menghafal naskah yang tak selesai. Gelas itu pecah. Harapan itu retak. Tapi dari serpih kepingannya aku melihat langit kecil yang masih mau memantulkan cahaya. Dan itulah sebabnya meski dada ini bergetar seperti genderang perang, aku tetap menulis, menamai luka, melagukan sepi. Karena hanya dengan begitu aku tahu aku masih hidup. 6. RUMAH KECIL TEMPAT KENANGAN BERISTIRAHAT (Abstraksi Keintiman Psikologis) Athalia, aku menulis namamu pelan-pelan seperti seseorang yang menyalakan lilin di ruangan yang ingin ia lupakan tapi tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Ada saat-saat tertentu di mana kenangan berjalan kembali seperti tamu yang tahu letak gelas dan di mana aku menyembunyikan kerapuhan. Mereka mengetuk pintu, masuk tanpa kuundang, duduk di kursi yang pernah kau pilih sambil menanyaiku hal-hal yang tak sanggup kujawab. Aku ingin berkata semua baik-baik saja. Tapi aku tahu kata-kata itu adalah jembatan rapuh yang dibangun dari cuaca yang serba tak menentu. Ketika gelas kristal itu pecah, tak ada doa yang sanggup memperbaikinya. Tetapi serpihannya masih menyimpan pantulan wajahmu— pelan, nyaris kabur, tapi tetap membuatku berhenti bernapas. Aku marah pada diriku sendiri karena tidak cukup baik menjadi seseorang yang bisa kau percayai. Marah pada waktu karena selalu melangkah lebih cepat dari yang bisa kuikuti. Marah pada nasib karena sering memotong jalan tanpa memperingatkan. Namun paling sering, aku hanya diam. Diam yang panjang. Diam yang mengendap, berat seperti hujan yang enggan jatuh ke tanah. Aku belajar memahami bahwa beberapa luka tidak ingin sembuh. Mereka hanya ingin ditemani. Dan jika ada satu hal yang tak sanggup kuhapus, itu adalah cara kau menatap dunia yang membuatku ingin menjadi versi terbaik dari seseorang yang bahkan belum kukenal dalam diriku. Athalia, ruangan itu masih terbuka. Tidak untukmu kembali, tidak pula untukku berharap. Hanya untuk membiarkan cahaya masuk sedikit lebih jauh agar aku bisa melihat jelas bahwa mencintaimu adalah cara paling lembut untuk belajar tentang luka. Desember 2025”

“KAMAR MAYAT KATA-KATA Aku membuka dadaku seperti Sylvia membuka oven tempat ia hendak membakar dirinya: tanpa upacara, tanpa metafora, tanpa perhiasan bahasa yang berusaha menutupi bau tubuh yang sudah terlalu lama membusuk. Inilah luka yang tidak berkafan. Aku menulis bukan untuk sembuh— hanya memastikan, rasa sakit itu benar-benar nyata, ia tidak bersembunyi di balik diksi yang manis, goresan pisau yang tidak menyamar sebagai harapan demi membuat dunia merasa nyaman. Nyaman adalah kebohongan. Aku ingin mereka melihat bagaimana kata-kata itu bergetar di bawah ketiadaan cahaya, bagaimana kenyataan menyeret dirinya melewati undakan tangga, memecahkan cermin, meretakkan rahang kesadaran, mencabuti kuku-kuku yang tersisa dari ibu jari batin. Ini bukan kamar hotel mewah. Ini kamar mayat tempat jasad puisi diotopsi. Setiap kata yang kau baca adalah organ yang baru dipotong: masih hangat, masih berdarah, masih membawa jejak ketakutan terakhirnya. Aku meletakkannya di atas nampan logam tanpa penutup, tanpa formalin, tanpa doa. Lihatlah: — ketakutan yang dikikis sampai tersisa tulang — kemarahan yang dipaksa menelan lidahnya sendiri — rasa bersalah yang dipakukan ke dinding — harapan yang dibakar hingga tak berbentuk. Ini bukan metafora, ini pembersihan. Penyembelihan kasar. Eksorsisme penuh sadar. Aku akan mengulang ritual Sylvia menulis dengan pisau; biar aku tajamkan pisaunya dan memasukannya lebih dalam. Aku tidak mencari atribut indah. Keindahan hanya membuat luka terasa sopan. Aku ingin luka ini menatapmu tanpa kulit, tanpa nama, tanpa riasan. Karena hanya ketika tubuh bahasa dikeluarkan dari kulitnya, barulah kebenaran berdiri tanpa takut, tanpa gemetar. Maka inilah kebenaran itu: bahwa aku telah menghabiskan hidup menjadi aktor dalam drama rasa sakitku sendiri, mengecat wajahku dengan metafora agar tampak seperti seni, padahal aku hanyalah manusia yang tidak pernah selesai melawan hegemoni teror sendiri. Hari ini aku mengakhiri sandiwara itu menanggalkan semua ornamen. membiarkan yang tersisa hanya daging mentah yang masih berdarah. Dan jika kau merasa ngeri, bagus! Rasa ngeri adalah bukti bahwa kau masih hidup. Inilah tandanya: ruang putih, dingin besi, bau anyir logam, kesunyian yang menyalak, jiwa yang dibaringkan telanjang tanpa penutup, tanpa belas kasihan, tanpa penjelasan. Tubuh remuk puisi yang tidak menuntut dipahami hanya menuntut jujur. Karena kadang, satu-satunya cara untuk tetap hidup adalah membiarkan sebagian dari dirimu mati di atas halaman kertas kosong tanpa tulisan. November 2025”

“In those cultures lacking unfamiliar challenges, external or internal, where fundamental change is unneeded, novel ideas need not be encouraged. Indeed, heresies can be declared dangerous; thinking can be rigidified; and sanctions against impermissible ideas can be enforced -- all without much harm. But under varied and changing environmental or biological circumstances, simply copying the old ways no longer works. Then, a premium awaits those who, instead of blandly following tradition, or trying to foist their preferences on to the physical or social Universe, are open to what the Universe teaches.”

“Oh, but being American has less to do with one’s proficiency in English and more with the assumptions you hold dear and true—your inalienable rights, your pursuit of happiness. I, sad to say, don’t possess those assumptions. I cannot undertake the pursuit.” “Well, you understand us,” Bennie said. “So that makes you at least an honorary American.” “Why is it such an honor?” Wendy said peevishly. “Not everyone wants to be an American.” Although Bennie was annoyed, he laughed. Walter, ever the diplomat, said to Bennie, “Well, I’m flattered that you consider me to be one of your own.”

“Life was good until the putges came. After that, there was nothing to do except flee into the jungle, high up, where it was so thick only wold things grew. When the putgest stopped Black Spot and his grids and cousin went quietly to the town of Nyang Shwe, where they were not known. They procured black-market identity cards of dead people with good reputations. After that they lived two ways: in the open life of the dead, and in the hidden life of the living.”