Quotessence
Home / Quotes / Quote by Bubin Lantang

Quote by Bubin Lantang

“Seperti pohon... Di pokok kita masih satu, lantas kita berpisah di cabang. Ada yang ke kiri, ada yang ke kanan, ada yang terus ke atas, ada yang ke depan, ada yang ke belakang. Atau bilapun masih satu di cabang, kita nanti akan berpisah juga di ranting. Ke atas, ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang... Saat kita kecil dulu, kita masih satu, masih anak kecil. Lantas sedikit demi sedikit waktu kita bikin kita beda. Waktunya makin banyak, beda kita tambah banyak. Itulah kita.”

Quote by Bubin Lantang

Work

Jejak-Jejak

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Bubin Lantang

Browse famous quotes and profile details for Bubin Lantang. more

You May Also Like

“MANU-SIA Belum lelah bersalah Entah untuk apa, Belum juga lelah melupa Entah sebab apa, “Manusia tempat salah dan lupa. Jadi tak mengapa. Dibuat santai saja. Kita itu manusia. Jangan menjadi sia-sia. Mereka bukan manusia. Jadi tak mengapa, dibuat sia-sia saja.” Tuturnya. Manusia, Banyak yang menua dengan sia-sia Lebih banyak yang sia-sia namun tak merasa Sewon, November 2016”

“Jika ada yang ingin kuberikan untukmu, itu hanyalah sekotak Crayon. . . Untuk mewarnai langitmu yang kelabu. Dipagi hari. . .kamu bisa mewarnainya dengan merah muda yah langit dengan matahari terbit memang indah. Disiang hari buatlah banyak cahaya matahari dengan kuning keemasan dan campurkan juga biru yang menenangkan. Namun jika kau ingin cuaca sejuk segar, kau boleh gunakan warna perak dan putih untuk cahaya kilat dan hujan yang lebat. Ada apa dibalik hujan? kutemukan jawaban. . .mari gunakan semua warna yang kau punya, ciptakan Pelangi. Pita indah warna-warni. Biarkan harimu berseri. Dan senja datang. . . ayo gunakan sang Jingga yang jelita, ucapkan selamat tinggal pada bola cahaya raksasa. Hari menggelap?belum! mari kita torehkan Ungu dengan titik-titik cahaya . . .selanjutnya kau boleh menghitamkannya, biarkan gelap menemani mimpimu tapi jangan lupa simpan sebuah bintang díbawah bantal, bersama dengan kotak warnamu . . . Esok warnai lagi langitmu dengan warna apapun yang kau mau. . . Berjanjilah jangan biarkan langitmu kelabu!”