Quotessence
Home / Quotes / Quote by Hilari Bell

Quote by Hilari Bell

Work

The Sword of Waters

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Hilari Bell
Hilari Bell

Hilari Bell, born in 1958, is an accomplished author known for her diverse works that delve into social, cultural, and personal identity issues. Her distinctive literary style and profound insights have earned her recognition and awards. more

You May Also Like

“apa bezanya kezaliman dan kekejaman antara atas nama raja dan atas nama rakyat kedua-duanya adalah pembunuhan apa bezanya gulotin para raja dan gulitin para rakyat kedua-duanya adalah taring-taring setan yang mengangkat pembunuhan dan kezaliman lalu apa bezanya kerosakan yang dibuat atas nama rakyat dan kerosakan yang dibuat atas nama negara. (Perjalanan 19)”

“Di Bawah Matahari yang Menatap Balik Di bawah matahari yang meleleh seperti pupil dewa yang kelelahan, aku melihat bayanganku sendiri berlari sebelum aku sempat berpikir untuk bereaksi. Barangkali ini bukan dunia, barangkali ini adalah ingatan purba yang lupa pada tubuhnya. Seekor jam mencair di pundakku, menggelincir seperti sisa waktu yang tidak mau menjelaskan dirinya. Ia berbisik, bahwa keabadian hanyalah kegagalan ego dalam memahami detik yang perlahan hancur. Aku tertawa. Tawa itu memecah wajahku menjadi tiga: yang percaya, yang takut, dan yang tidak peduli lagi pada logika. Ketiganya saling mengancam untuk lahir, sementara aku — atau apa pun yang tersisa dariku — menyaksikan kelahiranku sendiri dari balik kabut. Jangan cari kebenaran di sini. Di tanah ini, kebenaran telah diseret oleh cahaya yang lumpuh, diseret ke dalam lubang di mana suara-suara masa lalu dibungkam berubah menjadi serangga kanibal yang memakan tubuhnya sendiri. Ada saat di mana aku hampir mengerti. Saat di mana absurditas itu menamparku seperti kilat: — semua upaya memahami diri adalah upaya membatalkan kelahiran. — ego adalah ranting pohon yang terus tumbuh bahkan ketika kita sudah membiarkannya mati. — pencerahan tidak datang dari kejernihan, melainkan dari ketidakpahaman yang dibiarkan membusuk sampai berlumut dan tiba-tiba menyala akibat radiasi. Kini aku tahu, matahari itu bukan sumber cahaya. Ia adalah luka yang didekap semesta sampai berubah menjadi lubang hitam di mana aku bisa pulang. Dan ketika akhirnya aku masuk ke dalamnya, aku tidak merasa utuh— aku merasa hilang… tapi justru dari kehampaan itu, aku dilahirkan lagi oleh kegelapan yang telanjur letih menampung raga dan jiwaku. November 2025”

“Di Ujung Kanvas, Para Malaikat Jatuh seperti Cermin Retak Pada hari ketika langit meniru sapuan kuas Dali, aku melihat tiga angsa menari di telaga yang tidak pernah ada. Tapi bayangan mereka menjelma jadi sekawanan gajah— yang memikul menara-menara mimpi yang kaki-kakinya memanjang seperti doa yang tak sampai. Di sana, waktu tidak berjalan. Ia tergantung seperti jam yang mencair, mengalir dari dinding kesadaranku menuju lubang kelam tempat malaikat dan iblis berdesakan mempertengkarkan siapa yang lebih dahulu menciptakan cahaya. Serafim mencabut bulunya sendiri dan bulu itu berubah menjadi ular yang menyebut dirinya dengan seribu nama: Ashmedai, Azazel, Ashtaroth— nama-nama yang dahulu kupelajari dengan rasa takut, namun kini bayangan itu datang kepadaku seperti bisikan seorang kawan lama yang ingin dipanggil pulang. Aku bertanya padanya: “Apakah kita sedang bermimpi, atau kita hanyalah mimpi yang sedang diingatkan kembali kepada dirinya sendiri?” Bayanganku menjawab dengan suara yang bukan suaraku: “Di sinilah eros dan tanathos menari. Di sinilah kelahiran selalu meminjam wajah kematian.” Dalam jeda itu, seekor harimau melompat keluar dari rahim buah delima yang meletus seperti planet kecil penuh kutukan. Dari balik taringnya, aku melihat wajahku sendiri— wajah yang telah lama ditinggalkan oleh logika. Dan ketika seekor badak berkaki laba-laba melintas di atas kepalaku, aku menyadari bahwa tuhan mungkin sedang tertidur, dan iblis sedang melukis-nya kembali dengan warna-warna yang terlalu jujur untuk kita mengerti. Malaikat-malaikat yang jatuh itu menabrak permukaan telaga, menjadi riak yang memanggil masa laluku keluar dari persembunyian. Aku mencoba menyentuhnya, namun jari-jari tangan ini berlubang seperti relik yang kehilangan alasan untuk diselamatkan. “Apa yang kau cari?” tanya seekor gajah yang muncul di tengah mimpi dengan mata penuh kesedihan purba. Aku tidak menjawab. Sebab seluruh jawabanku terbakar dalam pusat matahari yang ternyata bukan matahari, melainkan luka yang sedang berevolusi. Dan ketika akhirnya cahaya itu meledak, aku melihat diriku sendiri —telanjang, kehilangan nama— dilahirkan dari pertempuran yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku bukan lagi penyair. Aku bukan lagi kilasan mimpi. Aku hanyalah kesadaran yang menetas dari absurditas yang membunuh egoku berulang kali agar aku bisa melihat dengan mata yang tidak lagi meminta untuk dimengerti. November 2025”