Quotessence
Home / Quotes / Quote by Stephen Deck

Quote by Stephen Deck

“A German was looking through a blown-out window framed by red brick and seemed to be waving something. A block-headed Russian pulled up and shot him through the forehead. The blood ran down over his eye socket and dripped off his high cheekbone and seeped into the pulverized masonry fragments. ~ The Jackass in The Road”

Quote by Stephen Deck

Work

Land of the Story Tellers: 24 Stories and 7 Poems

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Stephen Deck

Browse famous quotes and profile details for Stephen Deck. more

You May Also Like

“If you kill yourself, then every minute of your life has been wasted.” “I don’t know how,” he said. “How to live anymore.” “When I got stuck or confused, you used to say, ‘We'll figure it out.’ I love you, Daddy. My mom did, too, and Gramma. I hate to admit it, but Trish does, your buddies do. With so many people loving you, I know we'll figure it out.”

“Preferably, I’d like to die a painless death, and how many times have I thought of it… but because it saddens the people around me, I was not able to say it. But that, too, is a lie. If I were given a chance, I would love to live. I do not want to be separated from my loving family. (From Dare ga Otome Game da to Itta! / Who Said This Was an Otome Game! / 誰が乙女ゲームだといった!)”

“Ikan yang bersedih memuntahkan kegelapan. Saya melihat Beliau mendekati gadis itu dan pelan-pelan membawanya ke dalam saya. Anak itu menapakkan kakinya, tapi hanya sedikit sekali yang ia ceritakan pada saya. Hanya ingatan terakhirnya: ditampar oleh ibunya, melarikan diri ke taman, bermainan ayunan berhari-hari sampai akhirnya dia berayun terlalu jauh dan terlempar ke luar angkasa. Saya tidak pernah tahu kalau luar angkasa dipenuhi anak-anak kecil yang terlempar dari ayunan. Tapi, kesedihan gadis ini begitu dalam. Begitu dalam, hingga matanya tak bisa melihat apa pun selain kegelapan. Dan, begitu gelap, hingga cahaya apa pun tidak bisa menembus selubung hitam yang melingkupi dirinya. Dan semua perasaan sedih itu tidak bisa keluar lagi; hanya semakin banyak luka yang masuk, tapi tidak bisa pergi, terjebak selamanya di dalam. Dan mereka terlempar pergi ke rongga angkasa, sebelum akhirnya, jika Beliau tidak datang menjemput, mereka sendiri akan menjadi rongga angkasa; menelan tanpa pernah memuntahkan, menolak semua jenis cahaya karena tak bisa lagi memercayai kebahagiaan.”