Quotessence
Home / Quotes / Quote by Syed Hussein Alatas

Quote by Syed Hussein Alatas

“Dr Mahathir mengatakan bahawa peradaban telah menekan segi peribadi Melayu ini, iaitu mengamuk. Walaupun demikian katanya, unsur ini merupakan bahagian daripada peribadi Melayu. (Halaman 118). Sebetulnya unsur mengamuk yang diakui oleh kebudayaan bukanlah yang dimaksudkan oleh Dr Mahathir. Dalam tulisan sejarah terdapat huraian tentang peristiwa mengamuk yang ertinya lain sama sekali. Yang dimaksudkan dengan mengamuk ialah suatu cara bertempur melawan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar. Pahlawan yang mengamuk itu menyerang musuh, dengan cepat, membinasakannya, menimbulkan huru-hara dalam kalangannya, menunjukkan keberanian yang luar biasa. Keadaan jiwanya tidak terganggu. Ingatannya tidak hilang. Ia tidak menyerang anak, isteri, atau sebarang orang di jalan. Amuk pahlawan yang dilukiskan dalam sejarah Melayu adalah perbuatan yang waras, satu peribadi pahlawan Melayu di masa yang lampau, bukan letupan jiwa yang sangat tertindas merupakan perbuatan gila membinasakan manusia lain secara membabi buta. Daripada siasat dan tipu daya pertempuran perbuatan yang gila dan tidak teratur itu merugikan. Tidak pernah tenttera Melayu dahulu menggunakan pahlawan yang mengamuk secara gila.”

Quote by Syed Hussein Alatas

Work

Siapa Yang Salah: Sekitar Revolusi Mental dan Peribadi Melayu

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Syed Hussein Alatas

Browse famous quotes and profile details for Syed Hussein Alatas. more

You May Also Like

“Jarak Bagaimana mungkin kupertaruhkan kebahagiaanku dalam namamu, Kay? Bukankah kau cuma jeda setelah pertunjukan? Langit yang menolak menjadi tua dan waktu yang urung menjemput pagi. Percakapan kita terhenti entah sampai di mana. Luka yang terus menerus kau torehkan di dada; Tangisan penyesalan dan nasib tak berketentuan. Apakah masih ada pengharapan di setiap renyah tawa yang kau tebarkan? Ataukah itu hanya seringai palsu di balik sebuah senyuman? Tentu saja kita tak pernah sungguh-sungguh saling mencintai. Aku hanya mengagumi keberanianmu untuk tak berpura-pura ingin menjadi matahari. Sedang tak akan kau dapati kebahagiaan yang engkau impikan dalam diriku serupa laut biru. Kita hanya saling menatap kekosongan dari balik layar ponsel yang tak lagi mampu menyatakan perasaan. Sambil barangkali menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya di antara kita. Bukankah jarak sesungguhnya hanyalah sehembus nafas? Demikian pun perasaanku padamu, yang sayangnya tak pernah kau pedulikan. Oktober 2025”

“Jika seorang lelaki mencintai seorang wanita. Dia akan mengakui keberadaan wanita itu, memenuhi kebutuhannya, melindunginya. Jika dia sungguh sungguh mencintainya, pengakuan tertingginya adalah "ini istri saya”