Quotessence
Home / Quotes / Quote by Titon Rahmawan

Quote by Titon Rahmawan

“TONY, ISAP NAPAS TERAKHIR KOTA INI (Frank Booth Reconstruction — Gasoline Erotics) Pintu itu tidak dibuka. Pintu itu diterjang, seperti kota ini tidak pantas memiliki sekat, seperti dinding adalah penghinaan personal yang harus dihancurkan. Tony masuk dengan langkah yang terdengar seperti pukulan jantung yang dipaksa berdetak oleh seseorang yang membencinya. Ia mengenakan topeng oksigen. Bukan untuk bernapas— untuk menyembur kegilaan ke paru-parunya sebelum kata pertama jatuh dari bibirnya. Hssssssss— “Jangan bergerak.” Suaranya adalah listrik yang kehilangan kesabaran, dan aku yakin ia berkata seperti itu bukan karena aku akan kabur melainkan karena ia ingin melihatku membeku dalam ketakutan paling murni. Ia menghirup gas lagi. Hssssssss— lelaki itu kini adalah badai kecil yang mencari seseorang untuk dihancurkan demi alasan yang hanya dimengerti oleh tubuhnya. “LIHAT AKU!” Kata itu bukan permintaan. Itu adalah ajakan berperang. Lampu berkedip dan berubah merah seolah ruangan ini memutuskan untuk mengakui siapa yang berkuasa. Tony mendekat begitu cepat hingga udara mundur. Ia meraih kerah bajuku dengan gerakan yang cepat dan brutal pada saat yang sama, seperti seseorang yang memetik bunga yang sebenarnya adalah granat. “Kau pikir kota ini milikmu?” Ia menggertak—pendek, tajam. “Kau pikir cinta itu kelembutan? Kebijaksanaan? Ritual bahagia?” Hssssssss— Napasnya berubah menjadi dengus binatang buas. “CINTA ITU GAS, BANGSAT!” “Cinta itu benda yang kau hirup sampai matamu melihat warna yang tidak ada dalam spektrum optik.” Ia menepuk pipiku— bukan lembut, bukan keras— tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa sentuhan itu bisa menjadi ancaman yang menyakitkan. Dari sakunya, ia mengeluarkan sepotong beludru gelap. Tidak biru— tapi hitam basah, seperti bulu raven yang mencuri cahaya dari mataku. “Pegang ini,” katanya. “Pegang pelan.” “Lebih pelan.” “Ya.” Nadanya berubah sultry, seolah kekerasan dan erotika adalah bahasa yang sama baginya. “Dengar, aku akan bilang satu hal padamu,” Ia mendekatkan wajahnya. Aroma gas, logam, dan sesuatu yang manis— seperti permen yang dicampur racun— mengisi ruangan. “Kota ini adalah perempuan telanjang yang dipaksa bernyanyi di depan semua fantasi manusia.” Ia tertawa— tawa yang tidak punya ritme moral. “Dan aku…” Ia memegang wajahku di kedua tangannya. “...adalah orang yang mengajar kota ini bagaimana caranya menjerit.” Hssssssss— Tony menendang meja, gelas-gelas pecah, bayangan jatuh ke lantai seperti tubuh. Ia menatapku dengan mata yang tidak lagi mengenali perbedaan antara hasrat dan kekejaman. “AKU TUNJUKKAN CINTA VERSI SEJATI,” katanya. Ia mendekat, menekan beludru hitam itu ke dadaku sambil berbisik di telingaku: “Dalam dunia ini, siapa pun bisa mencintai. Tapi hanya sedikit yang berani mencintai sampai menghancurkan sesuatu.” Hssssssss— Ia menarik topengnya, menatapku dengan kekosongan yang sempurna, dan berkata: “Inikah bagian tubuhmu yang paling kau butuhkan untuk merasa hidup?” “Karena aku… ingin mengambilnya darimu!” Lalu ia merenggut hatiku dengan sekali cabut. November 2025”

Quote by Titon Rahmawan

Author

Titon Rahmawan

Browse famous quotes and profile details for Titon Rahmawan. more

You May Also Like

“Haramis.” Harami, meaning a “sinner, thief, someone born illicitly.” The word carries a lot of meaning and the Iranians adopted it as well from the Arabic language. Tara was unzipping her suitcase, ready to take some clothes to take a shower. “Tell that to a trader and he might get a chuckle out of what you said,” Tara said. “Huh?” Amir had no idea what she meant. “The word harami, it’s a candlestick pattern.” “A candlestick pattern? What are you talking about?” Amir was now even more dumbfounded. “I was bored one day so I read and learned about trading. Stock trading,” Tara said as she started to take a set of clothes out of her suitcase. “Candlestick charts are patterns used by traders to look at price movements in stocks and stuff.” She closed her suitcase up and looked up at Amir. “Harami is a candlestick pattern. It means “skirt steak” in Japanese but it also derives its meaning from the word pregnant. And it basically shows one candlestick engulfing a smaller one. A pattern for traders to analyze which direction the stock or security will go.”

“The profit-first, profit-only view of business under the Reagan Revolution raised new concerns about the social obligations of corporations beyond shareholders to constituencies like employees, creditors, customers, and local communities. This was motivated in part by the fact that despite significant stock market increases and income growth for the wealthy, many working-class Americans were left behind in the economic growth.”

“Contentious social issues like racial justice, income inequality, gun violence, immigration reform, gender equality, and climate change have all become part of many corporate agendas. Silence and indifference are becoming less the norm. The days of simply ignoring social issues or writing a check are gone. Corporations are now frequently expected to engage in social issues through public statements, sponsorships, partnerships, and policies supporting a position or a cause. Being a socially responsible corporation now also means being a socially active corporation.”