Quotessence
Home / Quotes / Quote by Goenawan Mohamad

Quote by Goenawan Mohamad

“Kita umumnya gampang termakan desas-desus karena kita hidup bertahun-tahun tak terlatih untuk menganalisis dan berpikir empiris. Dan berkibarlah sumber pengetahuan kita lewat dogma, desas-desus, dan dukun.”

Quote by Goenawan Mohamad

Work

Catatan Pinggir 5

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad, born on July 29, 1941, is a renowned Indonesian poet. His poetry is deeply influenced by Indonesian culture, showcasing rich emotions and profound thoughts. Goenawan Mohamad's works hold an important position in the Indonesian literary world and are considered one of the representatives of modern Indonesian poetry. more

You May Also Like

“Seorang guru; penjelajah kehidupan. Yang menyimpan kata kata bijak dalam mulutnya, seperti minyak yang menghidupkan pelita. Ia lah detak jantung yang menggerakkan kehidupan. Seorang pemikir sejati, yang tak menafikan keringat dan air mata. Sang pengumpul embun di pagi hari, penjala ikan di sungai, dan penakluk samudra raya. Dialah kavi yang menciptakan kata kata penghiburan, pelantun tembang suka cita. Seorang penabur benih kebajikan dan penggarap ladang yang tekun. Tapi ia juga penuai yang rajin dan pengganda talenta yang mahir. Setiap ucapannya adalah obat yang manjur dan penyembuh duka lara. Namun, di luar semua itu, ia lah sang juru kunci pembuka jalan pengetahuan dan penunjuk arah pada kebenaran.”

“HELIANTHUS: MINIATUR 7 METAMORFOSIS I. Bunga yang Melihat Api Helai-helai matahari berputar di dalam tengkoraknya. Seekor singa tidur dalam dadanya, menggeram pada warna yang menolak lahir dari tangannya. Malam tertawa biru— sebuah parodi langit yang meminum kenangan. Ia mendengar bintang jatuh seperti gigi-gigi patah dari langit yang demam. Telinganya pecah. Darah menyala seperti obor kecil di pintu sebuah rumah kuning yang tak pernah selesai dibangun. II. Litani Rumah Kuning I Di lorong-lorong sunyi Arles sebuah kuas jatuh— dan dunia berubah menjadi almanak yang hilang. II Bayang telinga, sehelai saputangan, nama yang tak kembali dari jendela. III Dalam malam penuh bintang hanya debu yang mengingatkan kita bahwa ia pernah memilih cahaya. IV Di Saint-Remy, ruang-ruang putih menghafal langkahnya lebih baik dari siapa pun. III. Telinga, Matahari, Abu Telinga jatuh. Sebuah malam mengatup. Batu meminum darahnya. Kelopak— abu kuning di antara dua nadi. Cahaya patah, menggigil. Ia berjalan tanpa tubuh, meninggalkan namanya pada angin yang beku. IV. Matahari yang Memeluk Luka Ada matahari yang tumbuh dari dadanya— lambat, panas, seperti buah yang ingin pecah. Kelopak-kelopak cahaya mengusap wajahnya dengan kelembutan yang putus asa. Dalam darahnya berdenyut ladang-ladang kuning, dan malam menunduk untuk mencium keringatnya. Ia mencintai cahaya seperti orang lapar mencintai roti. V. Cermin Matahari yang Terbelah Ia berdiri di depan kanvas— kini, dulu, nanti— waktu melingkar pada ujung kuasnya. Setiap warna yang gagal adalah pintu menuju dirinya sendiri. Telinganya— sebuah jam rusak yang terus memanggil cahaya. Ia mati dan tidak mati di saat yang sama, karena setiap garis adalah bekas langkah dari masa lalu dan masa depan. VI. Ruang Tempat Telinga Itu Jatuh Kamar itu terlalu sunyi untuk menampung napasnya. Ia menekan kornea matanya pada kanvas yang dingin, mencari sedikit alasan untuk tetap tinggal. Darah dari telinganya mengalir ke lantai— membentuk peta kecil tentang semua yang ia takuti. Ia memberi hadiah paling lembut: potongan dirinya yang tak lagi sanggup ia simpan. VII. Senja di Rumah Kuning Senja yang berat berdiri di atas rumah kuning. Sepatu bot tua, angin lembab, bau anggur membusuk di meja kayu retak. Di luar jendela, bunga matahari menggelap perlahan— seperti seseorang yang mengantuk dalam penderitaannya sendiri. Ia berjalan ke hutan, dan daun-daun kering jatuh satu per satu seperti pikiran yang terluka. Desember 2025”

“HELIANTHUS: DARK MANUSCRIPT (7 Luka Vincent, yang Tak Pernah Selesai Dibaca Cahaya) I. Asal Cahaya Kuning adalah luka paling tua yang menetes dari tubuh matahari ke nadi seorang lelaki yang tak pernah sanggup menanggung pagi. Setiap tetesnya menggores helai urat syaraf retak dan denyut seperti lonceng gereja yang kehilangan doa. Arles memanggilnya dengan suara serak dari tembok lembab sebuah rumah kuning yang lebih mirip mulut cacing yang menelan sepi. II. Anatomi Sebuah Telinga Di tubuhnya tumbuh seekor singa yang menggigiti dagingnya dari dalam ke luar. Orang-orang menyebutnya “gila” karena mereka takut pada binatang yang selalu lapar. Namun ia tahu: yang mengaum itu adalah cahaya yang tak sanggup ia jinakkan. Cahaya yang mengelupas kulit seperti kuku Gauguin yang meninggalkan jejak garam di punggung. Maka ia memotong telinganya sebagai tumbal— segumpal daging kecil yang ia bungkus rapi dalam sapu tangan putih dan ia persembahkan kepada suara yang ia kejar sejak kanak-kanak. III. Perjamuan Orang-Orang yang Tak Selesai Theo hanya memandangnya seperti memandang sumur retak tak berair. Gachet mengukur nadinya seperti menakar jarak antara iman dan putus asa. Gauguin menutup pintu dan membiarkan lorong panjang itu menjerit sendiri. Di sudut café, sebotol anggur pecah seperti pecahnya bintang di langit malam yang murung. Nama-nama kalender tergantung di dinding seperti kepala-kepala yang terpenggal. Tak satu pun cukup tajam untuk menebas sunyi yang bergema di benaknya. IV. Kanvas yang Tak Menghendaki Jiwa Pemiliknya Ia menatap bunga-bunga matahari itu yang rontok satu per satu seperti gigi para martir. Kuning di situ bukan warna. Kuning adalah jeritan. Kuning adalah mimpi buruk yang merayap ke pori-pori dan memakan tidur malamnya hingga tak bersisa. Setiap helai kelopak adalah surat yang tak pernah ia kirim kepada Tuhan yang ia yakini sedang bersembunyi di balik sepotong cermin retak. V. Ladang Gandum dengan Langit yang Tak Mengampuni Pistol di tangannya lebih dingin dari Saint-Remy. Ia menembak bukan untuk mati. Ia menembak untuk menutup suara yang terus berbisik dari sisi lain cahaya. Asap kecil itu terhenti di udara seperti doa yang ragu-ragu. Namun maut menolak. Bahkan kematian pun tak ingin menginap di tubuh seorang lelaki yang terluka oleh cahaya. Ia berjalan pulang sambil menyeret bayangannya yang terbelah dua. VI. Epilog di Bawah Cahaya yang Makin Pucat Pada akhirnya, lelaki itu hanya ingin membiarkan cahaya menembus tubuhnya tanpa menyisakan nama. Kanvas yang koyak mengapung di udara seperti burung-burung gagak yang terlambat pulang. Dunia tak akan pernah mengerti mengapa seseorang mencintai cahaya lebih dari jiwanya sendiri. Di liang lembab itu, kelopak-kelopak bunga matahari yang ia bawa sepanjang hidup luruh satu demi satu seperti mantra yang kehilangan tuhan. Desember 2025”