Quotessence
Home / Quotes / Quote by Ashlan Chidester

Quote by Ashlan Chidester

Work

Looking forward to the Spring Framework

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Ashlan Chidester

Browse famous quotes and profile details for Ashlan Chidester. more

You May Also Like

“. In 1289 Kublai Khan sent ambassadors to Java, demanding tribute and submission to the Yuan dynasty. Kertanegara arrested the envoys, branded their faces, cut off their ears and sent them back to China. As will be revealed later, what happened next had profound consequences for the Majapahit empire. ” “. In 1289 Kublai Khan sent ambassadors to Java, demanding tribute and submission to the Yuan dynasty. Kertanegara arrested the envoys, branded their faces, cut off their ears and sent them back to China. As will be revealed later, what happened next had profound consequences for the Majapahit empire.”

“The whole of Java is immediately subject to the Netherlands. There is no question of tribute, or levy, or alliance. The Javanese is a Dutch subject. The King of the Netherlands is his king. The descendants of his former princes and lords are Dutch officials. They are appointed, transferred, promoted, dismissed by the Governor-General, who rules in the name of the King. The criminal is convicted and sentences under a law made in The Hague. The taxes the Javanese pays flow into the Exchequer of the Netherlands.”

“Kelak, sendainya ketika pulau Jawa tak lagi punya hiasan berupa musim semi yang berlangsung sepanjang masa, tak lagi punya panorama alam yang memesona, juga tak lagi punya rimbanya yang perawan, pula tak lagi ada kota-kota yang ramai oleh beragam suku bangsa, di mana bisa kau jumpai perpaduan keanggunan ala India dan kemewahan khas Eropa; atau pada akhirnya ketika pulau itu bisa bersih dari para bidadarinya yang menggairahkan, dan menyisakan hanya kawanan burung gelatik, maka sudah seharusnya kunjungan ziarah ke tanah Jawa tetap dilakukan demi mempelajari samai pada tingkat mana alam liar ini bisa menandingi kemampuan manusia dalam mencipta irama.”

“Malangnya, aku adalah seorang yang teramat buruk dalam hal ilmu alam, karenanya aku kerap mengabaikan banyak peristiwa ajaib melalui pengamatan yang hanya sepintas. Aku tak bisa menceritakan padamu berapa jumlah bulu sayap makhluk nan puitis ini, tak pula bisa menjelaskan di mana persisnya letak lubang hidung dalam paruhnya, atau apakah kedua rahangnya terhubung baik maupun bagaimanakah wujud tulang kakinya. Tapi bagaimanapun juga, gelatik ini adalah milikku...! Dia punyaku. Hanya aku yang mampu mendengar dan mengerti. Betul, burung ini, paling tidak pada kicauannya, adalah sebentuk rahasia antara jiwaku dan langit, seperti syair sendu terlukis dalam catatan Webber yang tetap menyimpan misteri antara dua orang yang saling mencintai.”