“Sidik ibu jari sang Putra Mahkota dan sidik ibu jari istrinya dalam warna emas, bersatu membentuk hati.” HatiIbuIstriPangeranEmasBersatuIbu JariPutraPutramahkotaSidik Book:Berlabuh di Lindoeya Source: Berlabuh di Lindoeya
“Ketahuilah, nilai itu tidak ditentukan oleh pasar, melainkan oleh kesadaran kemanusiaan kita sendiri. Harga mengikuti suara massa, tapi nilai yang sesungguhnya mengikuti suara hati. Jika engkau hidup hanya untuk mengikuti pasar, maka nilaimu akan naik turun seperti grafik yang kehilangan arah. Tapi jika engkau hidup dari pusat kesadaranmu—dari karya, niat, kesungguhan dan kejujuran—maka engkau menjadi seperti emas sejati: ia mungkin terpendam dalam tanah, tapi tak pernah berkarat.” KemanusiaanKesadaranNilaiHargaEmas Author:Titon Rahmawan
“Untuk menjadi jujur pun perlu kecerdasan. Kebaikan tanpa kebijaksanaan hanya akan jadi korban keserakahan, kekikiran dan ketamakan. Tapi kebijaksanaan tanpa kebaikan akan menjadi racun. Manusia harus punya keduanya: nurani yang bening, dan akal yang tajam.” KemanusiaanKesadaranNilaiHargaNuraniEmasKecerdasan Author:Titon Rahmawan
“Di musim dingin, semuanya akan tertutup salju. Batang-batang mereka akan mongering, keriput, dan mati. Di musim semi mereka tampak seperti orang kurus yang botak. Kalaupun ada tunas-tunas daun yang meruak di antara keriput tangkai anggur, hasilnya seperti orang kurus yang mencoba berkumis, tapi rambutnya jarang. Di musim panas daun hijau segar tertutup oleh bonggol-bonggol anggur yang montok. Seperti orang yang kebanyakan makan dengan baju nyaris robek karena gemuk yang meledak. Sementara di musim gugur, ketika daun berubah kuning keemasan dan bonggol anggur sudah raib dipanen, mereka akhirnya mendapat kesempatan untuk menunjukkan kecantikan sejati mereka.” CantikDinginEmasGugurAnggurGemukKuningKurusMusimPanenRobekSejati Book:Blue Vino Source: Blue Vino