“kamu seperti jarum jam yg bergerak pelan dan tetep kutunggui detik demi detik bahkan aku tidak peduli sebosan apa aku melewatinya, mataku tetap fokus menatap tanpa lepas aku hanya yakin akan sampe pada masa di mana satu titik ditempati dua jarum,laksana aku dan kamu, kalimatmu dan kalimatku yang seia sekata. namun kamu bukan jarum jam yang bergerak statis kakimu kadang berputar, berbelok, merenggang menjauhkan jarak walau tetap menangkap pandangku saat itulah dudukku mulai gelisah dan kamu tidak tau itu hingga aku putuskan untuk berdiri dan pergi meninggalkan kamu yang bergerak tanpa arah aku sudah berjalan menjauh,menahan diri untuk tidak menoleh ke arahmu dan tidak tau apa kamu memanggilku atau membiarkanku. yang aku tahu, matahati di ujung jalan masih berwarna kuning mengawalku _wasiman waz” ColorJamCallWaktuJarum JamUjung Jalan Author:WAZ
“Jarum jam seakan akan berputar kekiri, lalu tiba tiba aku menangis, kemudian tertawa. Nyatanya ini cuma imajinasi. Masa masa itu tetap tak kembali.” MenangisImajinasiKembaliTertawaJarum Jam Author:Rohmatikal Maskur