“Seperti dinding kamar yang retak dan mulai berlumut, pagar besi yang merapuh oleh noda karat dan daun daun mangga yang luruh di pekarangan rumah, demikianlah kita membaca kehidupan. Begitu banyak kata yang seringkali susah untuk ditafsir seperti "nasib", "kebahagiaan" dan "kesempurnaan". Entah mengapa, Bunda masih berasa gamang saat berjalan di atas tangga batu yang menuju ke ruang tamu di rumah barumu. Serasa mendengar dering suara alarm yang bergelayut di dalam mimpi. Menyibak kabut dan pagi juga. Bukankah kadang kadang kita merasa larut dalam kesunyian, meski riuh jalan raya bersicepat melawan waktu? Meninggalkan jejak langkah dalam segala ketergesaannya. Memaksa kita memungut semua peristiwa yang berhamburan di atas trotoar. Memaksa semua orang menitikkan air mata. Mengapa dalam momen momen serupa itu, kebersamaan dengan orang yang kita cintai justru berasa semakin berarti? Mengapa justru di tengah keramaian, kita bisa merasa begitu kesepian? Begitulah, jarum jam berputar di sepanjang perjalanan berusaha keras mengabadikan semua peristiwa. Mentautkan satu angle dengan angle yang lain, memotret semua kejadian dari mata seekor jengkerik. Menatap tak berkedip gedung gedung megah yang angkuh berdiri, serupa monster monster yang siap merengkuh apa saja; Lautan manusia berjejal keluar dari bandara, kerumunan lalat di atas tumpukan sampah di pasar, kelejat pikiran yang berlari lari mengejar matahari, kebimbangan yang tergugu di pojok terminal, harapan yang terkantuk kantuk di dalam bus kota dan seringai kerinduan akan masa depan yang belum pernah mereka lihat. Apa yang mereka cari? Apa yang mereka kejar, Nak? Sementara ada ribuan etalase dan pintu pintu mall yang terbuka dan tertutup setiap kali. Serupa mulut lapar menganga yang rakus mengunyah dan menelan semua kecemasan dan kegalauan yang bersliweran di balik pendar neon papan reklame. Bagaimanakah mereka -orang orang tanpa identitas ini- bisa menafsirkan takdir, relativitas waktu, dan mungkin juga mimpi?” AnakKesepianKebersamaanBundaKecemasanKesendirianKesunyianKebimbanganKeramaian Author:Titon Rahmawan
“REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 1. RITUS BENING YANG RETAK (Abstraksi Kesadaran) Aku menemukan pecahan itu di dalam ruangan tanpa pintu: bersih, presisi, seperti bukti awal sebuah kesalahan yang tidak memerlukan saksi. Bening itu—yang pernah kusangka hidup— kini hanya memantulkan jarak antara tangan yang gemetar dan kehendak yang keliru menghitung gravitasi. Athalia, namamu masih menempel pada permukaan kaca, seperti sebutir nadi yang menolak menjadi tubuh. Tidak ada tragedi di sini. Hanya perhitungan yang meleset dari sesuatu yang sedari awal terlalu rapuh untuk kuasaku yang terbiasa mengukur dunia dengan ketidakpastian. Darah di jari-jari— itu pun bukan pengakuan, melainkan residu dari percobaan yang belum selesai. Tubuhku sekadar catatan kaki bagi retakan yang bekerja lebih cermat daripada perasaan. Aku mencatat: bahwa bening tidak dapat dipanggul seperti gagasan. Bahwa harapan tidak memiliki sendi untuk menahan tekanan. Bahwa cinta, pada saat tertentu, adalah objek yang menolak takdirnya sendiri. Kau jatuh, Athalia, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai fenomena: gerakan singkat cahaya yang gagal mempertahankan bentuknya. Dan aku— aku hanya pewaris sunyi yang diam-diam menimbang apakah retakan ini adalah bukti rusaknya dirimu, atau rusaknya aku yang percaya sesuatu dapat disembuhkan hanya dengan sekadar memegangnya. 2. DI RUANG YANG TAK PERNAH SEMPAT MENUTUP PINTU (Abstraksi Kesunyian) Ada jejak cahaya di lantai yang mengingat langkahmu lebih baik daripada diriku. Pagi tadi, aku menemukan secuil bening yang pernah memantulkan wajahmu. Ia diam saja, seperti hendak mengatakan bahwa pecah tak selalu harus bersuara. Athalia, aku memanggilmu dalam hati —dan seperti biasa— angin yang datang menjawab. Ia membawa sedikit debu, yang menempel pada namamu di kaca yang perlahan mengabut. Aku tidak menyalahkan siapa pun. Kadang benda yang rapuh memilih retak sebelum kita sempat menjaganya. Kadang hati lebih dahulu mengerti apa yang tidak ingin ia akui. Sejak itu, aku belajar duduk lebih pelan di ruangan yang kau tinggalkan terbuka. Tidak ada yang berubah di sini, kecuali cahaya yang semakin tipis lurus menyusuri tembok, mencari sesuatu yang tak bisa kembali. Aku masih menyimpan suaramu di sela napas yang lewat begitu saja. Dan jika aku meletakkan telapak tanganku di atas serpihan itu, aku tahu yang terasa bukan sakit— melainkan ingatan yang belum selesai pergi. Begitulah cinta bekerja, bukan? Ia tinggal lebih lama daripada mereka yang pernah merawatnya. Dan pada akhirnya, kita adalah dua nama yang saling kehilangan secara perlahan, tanpa pernah benar-benar mengucapkannya.” RitualPuisiKesadaranPengakuanViseralitasAbstraksiKesunyian Author:Titon Rahmawan
“Manusia berasumsi bahwa mereka adalah makhluk sosial lantaran mereka sadar bahwa mereka ditakdirkan untuk merasakan kesepian, dan tak seorang pun dari mereka sanggup menghadapi pahitnya kenyataan itu.” KesedihanKritik SosialKutipan KehidupanKesunyian Author:Robi Aulia Abdi