Quotessence
Home / Topics / Klinis Quotes

Klinis Quotes

Browse 2 quotes about Klinis.

Klinis Quotes

“Anatomi Sebuah Penolakan Aku menuliskanmu, lalu kau menatap balik tanpa meratap dengan sorot mata benda mati yang muak menjadi cermin bagi siapa saja. Kau berkata: Aku bukan puisi dan kau bukanlah penyair. Aku tak ingin menjadi ladang tempat manusia menanam duka, lalu memetik ketenangan palsu dari reruntuhannya. Dan aku terdiam— seperti algojo yang tiba-tiba disapa oleh tajam bilah pedangnya sendiri. Kau menolak metafora, menepis ritme, menghancurkan rima seolah semuanya adalah wajah-wajah palsu yang sengaja kupasangkan padamu agar dunia merasa nyaman membaca sakitku. Kau menudingku: “Kau ingin selamat, bukan? Kau ingin terlihat dalam, bijaksana, bercahaya— padahal kau hanya gemetar mencari alasan untuk membenarkan retak di dalam dirimu.” Kata-katamu membekukan. Tidak ada air mata. Tidak ada amarah. Hanya keheningan logam yang menancap ngilu pada tulangku. Lalu kau memutuskan diri: Aku tidak akan memeluk siapa pun. Aku tidak akan menjadi pelarian pembaca yang ingin merasa suci. Aku tidak akan memaafkan penulismu. Aku tidak akan memberi katharsis. “Aku hanya akan menjadi luka yang dituliskan ulang tanpa belas kasihan,” katamu. “Sebab luka yang terlalu sering dinyatakan pada akhirnya hanya akan menjadi perayaan kesedihan.” Dan aku berdiri di hadapanmu seperti tubuh yang kehilangan bayangan menyadari bahwa tak ada yang lebih kejam daripada sebuah puisi yang memilih untuk tidak menyelamatkan. Kau membalik halaman. Kau memadamkan seluruh api kemungkinan. Dan aku, untuk pertama kalinya, mengerti bahwa kepenyairan bisa menjadi bentuk penghakiman paling dingin atas keberadaanku sendiri. Puisi bukan untuk ditahbiskan, katamu. Puisi adalah tempat di mana penulis akhirnya ditaklukkan dan mati demi kesunyiannya sendiri. November 2025”

“ANATOMI CINTA (dingin, klinis, nihilistik) Aku masuk ruang autopsi itu dibayangi pretensi dan halusinasi. Aku nyalakan lampu neon dingin yang mengiris mata. Aku kenakan sarung tangan lateks dan pisau bedah #11. Ini tubuh yang harus dibedah dengan presisi dan tanpa empati. Aku mulai dari permukaan: kulit tipis yang dulu kau sebut rasa. Warnanya pucat, tak lebih dari jaringan mati yang dibentuk oleh harapan yang tak pernah terwujud. Dengan pisau mikro, aku membuka lapisan idealisasi— ia terkelupas dengan mudah, seperti cat murahan yang dikerat dari dinding lembap. Di bawahnya tidak ada otot kerelaan atau pengabdian, tidak ada tendon komitmen, tidak ada saraf yang merespon sentuhan. Hanya kepingan-kepingan fantasi yang mencair ketika terkena cahaya. Aku memeriksa tulang-tulangnya: rapuh, menyerupai serpihan, retak bahkan sebelum disentuh. Ini bukan kerangka cinta, ini bangkai ilusi yang dipoles dengan ingatan palsu. Aku membelah rongga dada: kosong. Tak ada jantung. Tak ada paru-paru. Tak ada vena yang menyalurkan kehangatan. Hanya gema langkahku sendiri, memantul seperti seseorang yang terjebak di lorong rumah sakit tua. Aku mengangkat kepalanya, mengupas kulit batok pikirannya: di sana kutemukan diriku— berkali-kali memahat wajahmu dengan imajinasi yang kupaksakan agar tampak suci dan tak tersentuh. Apa yang aku temukan: ternyata aku mencintai pantulanku sendiri lebih dari dirimu. Aku mengambil sampel terakhir: sisa-sisa asa yang tak pernah kau beri. Kumasukkan ke dalam tabung formalin— diam, mengambang, tanpa makna. Kesimpulan autopsi: Cinta ini mati bukan karena kehilanganmu. Cinta ini mati karena aku mengira ilusi bisa berubah menjadi manusia. Dan kini, dengan tangan yang masih berlumur darah dari nyala yang telah mendingin, aku menutup kembali tubuh yang tak pernah hidup itu. Pada labelnya kutuliskan: “Penyebab kematian: Idealisasi yang berlebihan. Subjek: Tidak pernah ada.” Desember 2025”