“Firewall Kesedihan yang Tidak Bisa Ditembus (Posthuman Alt. Version 5.0) Kesedihan menghentikanku di ambang—antarmuka yang menolak memuat dirinya sebagai memori retak. Jurang di hadapanku adalah server gelap yang menelan amarah sebagai syntax error. Aku mengabaikan perintah; walau telah di-root seperti komputer tua menolak reboot. Yang aku mau adalah: menjadi sebuah menara gereja yang menyala seperti sinyal nirkabel, atau gapura tua yang tetap bertahan meski di-scan ribuan kali oleh penglihatan yang tidak mengenali kaca matanya sendiri. Setiap gerbang mengarahkan algoritmaku kembali ke rumah ibu— kerinduan yang menetes seperti paket data yang bocor. Tidak ada yang berubah, hanya versiku yang lain yang terus memperbarui diri tanpa permisi. Mimpi lelaki perkasa yang terbang ke bulan dengan kuda ego yang ia optimasi dari imajinasi. Sekalipun absurd: kesedihan hampir menjadikanku bug dalam diriku sendiri. Hidup bukan fitur mewah. Kebahagiaan bukan update terbaru. Yang kupunya hanya pilihan— dan Tuhan (bukan), ia adalah Stack Developer yang memproses kehadiran-nya dalam format data yang paling rendah: sebatang lilin, dengan cahaya yang gagal render. November 2025” PuisiHorizontalBugMesinError SistemFuturistik Author:Titon Rahmawan
“Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?” ManusiaIlmuBangsaCeritaPengetahuanIndividuMesin Book:Jejak Langkah Source: Jejak Langkah