“...tapi apakah kau akan membiarkan jiwamu kosong begitu?" "Maksudmu?" "Sendirian dengan kesibukanmu, seorang diri dengan suka dan dukamu dan terpencil dari kehidupan manusia normal?" "Kau betul Subroto, kalau kau hanya melihatnya dari luar. Tapi apakah kita harus mendasarkan hidup kita pada penilaian orang lain dengan caranya yang dangkal begitu?” HappinessSolitude Book:Wanita Itu Adalah Ibu Source: Wanita Itu Adalah Ibu
“Atas dasar apa kau mengatakan aku terpencil dari kehidupan manusia normal dan mengatakan jiwaku kosong?" "Karena prinsipmu yang telah usang itu. Manusia normal hidup dalam nilai-nilai. Manusia yang jiwanya tidak kosong masih punya pegangan. Agama adalah pegangan yang paling kokoh. Kau telah mengenyampingkan kedua faktor yang kusebutkan itu." "Kita semua hidup dalam nilai-nilai dengan konsekuensi bersedia menerima pergeseran. Aku telah bergeser dari nilai yang secara mayoritas telah melembaga, kalau soal kawin yang kau maksudkan. Tapi mengatakan aku tidak punya pegangan, aku tidak dapat menerimanya. Aku masih beragama. Karena itu tadi aku masih berani mengatakan, aku melanjutkan kelangsungan hidupku dengan menumpuk dosa.” LifeHappinessReligionBeliefDefianceNormalcyValues In Life Book:Wanita Itu Adalah Ibu Source: Wanita Itu Adalah Ibu