Quotessence
Home / Quotes / Quote by Aishah Madadiy

Quote by Aishah Madadiy

“Selesa" ialah fasa yang boleh berubah, namun seharusnya tidak perlukan penjelasan. Jika kau selesa dengan seseorang, kau selesa. Itu saja. Tiada sebab lain.”

Quote by Aishah Madadiy

Author

Aishah Madadiy

Browse famous quotes and profile details for Aishah Madadiy. more

You May Also Like

“Tidak ada teman SD. Masa kecil hanya seperti permainan bola. Seru. Setelah selesai, semua pulang dan melupakan. Teman SMP hanya satu-dua dan hanya menelepon jika ingin mengajak reuni. Teman SMU bertemu karena berpapasan tak sengaja. Teman kuliah sibuk dengan pekerjaan. Bukankah persahabatan sering kali disepak waktu? Persahabatan menjadi usang, hanya menjadi foto lapuk yang menghias album kenangan.”

“Masih ingat ikrar kita dulu. Mulai hari ini kita berempat adalah sahabat. Layaknya saudara sedarah, tak ada rahasia di antara kita meski itu hanya hal kecil yang tak kasat mata. Tak boleh ada yang disembunyikan meski itu menyakitkan. Dan tak ada pula yang boleh bertengkar hebat, karena itu sama saja dengan menyakiti tubuhnya sendiri.” Ujar Toni panjang lebar sembari mengingatkan kembali ikrar kami berempat dulu saat pertama kali mengucapkan janji sedarah. “Kita punya cita-cita agung, tumbuh sukses dengan kehidupan yang tenang.” Sambung Ilham kemudian sambil meletakkan tangannya di atas punggung tangan Toni. “Tampil brilian, dengan saling menutupi kekurangan yang lain tanpa perlu belas kasihan.” Lanjutku yang ikut meletakkan tangan kanan di atas tangan mereka berdua. “Berani maju karena kita ada untuk saling menopang.” Ucap Reza kemudian melengkapi formasi empat tangan yang telah bersusun rapi. “Kita adalah saudara tak sedarah. Fantastic Four yang siap mengguncang dunia. Eaaaa,” sahut kami berempat kompak dilanjutkan dengan rangkulan hangat.”

“Kita telah berjanji untuk tidak terlalu bertingkah mesra, tidak pula berjanji untuk mengatakan pada dunia bahwa kita adalah sahabat, tidak! Tidak perlu dan tidak berguna. Kita hanya perlu mengulurkan tangan, merangkul, menangis, dan berjuang bersama ketika salah satu dari kita menghadapi kekalahan, duka, dan kesulitan. Serta tertawa, menyiapkan hidangan kemenangan, saling memberi selamat, ketika salah satu dari kita berhasil melakukan sebuah kemenangan sekecil apa pun itu.”

“Persahabatanku dengan kata-kata tidak jauh beda dari persahabatan sang pelukis dengan lukisannya, sang pelari dengan kakinya, sang ilmuwan dengan bukunya, sang penerjemah dengan kamusnya, sang dokter dengan alat-alat kedokterannya, sang akuntan dengan kalkulatornya, sang pemimpi dengan impiannya, aktivis dengan pemikiran serta orasinya, sang Edison dengan lampunya, sang pemimpin dengan kebijaksanaannya, sang penyusun skripsi dengan jurnal serta analisisnya, sang koki dengan masakannya, sang putri tidur dengan gulingnya.”