Quotessence
Home / Quotes / Quote by Dwiesha johnson

Quote by Dwiesha johnson

“My family and I really enjoyed this book. We loved the characters and the illustrations in the book. It gives great insight to what those first days of school can be like. It's just a very fun and entertaining book to read. I recommend this book to all families it will not disappoint.”

Quote by Dwiesha johnson

Author

Dwiesha johnson

Browse famous quotes and profile details for Dwiesha johnson. more

You May Also Like

“During the rainy seasons, life sprang up all over the place, and in the ponds and rivers life was abundant. Hoppy was born on a day in May in what was considered to be spring rain. Early in his froghood, Hoppy's identity was like all others, and what he wanted most was to have his own identity.”

“Once the individual has learned to dissociate in the context of trauma, he or she may subsequently transfer this response to other situations and it may be repeated thereafter arbitrarily in a wide variety of circumstances. The dissociation therefore “destabilizes adaptation and becomes pathological.”[6] It is important for the psychiatrist to accurately diagnose DDs and also to place the symptoms in perspective with regard to trauma history.”

“My initial response on being told I suffered Dissociative Identity Disorder all those years earlier had been denial. I'd denied it to Rob Hale, I'd denied it to Valerie Sinason, to Evelyn Laine and John Morton. You could have lined up everyone from Lady Gaga to the Queen of Sheba and I'd have denied it to them as well. There was absolutely no way I shared my body with other personalities.”

“NASA are idiots. They want to send canned primates to Mars!" Manfred swallows a mouthful of beer, aggressively plonks his glass on the table: "Mars is just dumb mass at the bottom of a gravity well; there isn't even a biosphere there. They should be working on uploading and solving the nanoassembly conformational problem instead. Then we could turn all the available dumb matter into computronium and use it for processing our thoughts. Long-term, it's the only way to go. The solar system is a dead loss right now – dumb all over! Just measure the MIPS per milligram. If it isn't thinking, it isn't working. We need to start with the low-mass bodies, reconfigure them for our own use. Dismantle the moon! Dismantle Mars! Build masses of free-flying nanocomputing processor nodes exchanging data via laser link, each layer running off the waste heat of the next one in. Matrioshka brains, Russian doll Dyson spheres the size of solar systems. Teach dumb matter to do the Turing boogie!”

“Melting Pot: Litani untuk Tantangan Tiga Jurang (Intertekstual — Neo-Sufistik Digitalism) I Di tepi, dua jurang saling membelai saling melukai— satu gelap seperti malam sebelum nama Tuhan disebut, satu berderak seperti server yang lupa bahwa ia sedang sekarat. Aku berdiri di antara keduanya, akar menancap dalam retakan; akar itu mengirim bisikan ke tulang, lalu sinyal ke motherboard. Di sinilah Agustinus menunduk dan Nietzsche tersenyum: yang satu berdoa agar kesunyian kembali bermakna, yang lain mengangkat palu untuk memahat makna dari kekosongan. Sementara Camus mengetuk jarinya pelan pada kaca realitas, menanyakan: apakah kita memilih untuk terus menanti jawaban, atau memilih absurditas sebagai lampu penerang jalan? Aku menolak belas kasihan orang lain; lebih baik jadi pohon yang berdiri—rentan, bengkok, keras kepala— atau jadi menara yang menuntun doa seperti gelombang radio. Gapura? Ya, gapura juga, tempat orang lewat tanpa tahu alamat tinggalnya. Di tiap gerbang aku melihat rumah ibu: bocor, berderit, rapuh, setia menunggu. Kerinduan menetes, paket data bocor, hujan yang mengunduh rindu dalam format .wav. II Di dalam kabel di bawah tanah, ada lagu yang tak pernah diindeks: ritme akar yang seperti mantra, glitch yang bergumam seperti zikir. Di frekuensi itu, domba-domba trauma berbisik—tidak hening, hanya tergeser: jeritan yang kita bungkus dengan pekerjaan, selfie, dan janji-janji kecil. Ada Lecter di kursi bayanganku, berbisik: "Kembalilah ke ladang yang kau tinggalkan, Clarice." Bukan untuk menghakimi, tapi untuk menunjukkan bahwa luka tak akan mati bila kau tak pulang hari ini. Kesedihan tidak berwujud satu format; ia multi-protokol: kadang menjadi bug, kadang menjadi palimpsest doa. Aku rooted—akarku telah di-root oleh sejarah—tapi aku masih bisa reboot rasa. Namun reboot tidak membersihkan semua log: beberapa pesan terus menunggu status "read". Dan lelaki perkasa dalam mimpiku? Ia terbang, punggungnya kuda ego—sebuah patch tanpa dokumentasi, meninggalkan jejak yang menjadi gema di sumur-sumur batin. III Maka aku merespon dengan sebuah litani yang terprogram rapi: buka—hapus—simpan—tutup—ulang—(echo)… Suara itu bukan dengung mesin belaka dan bukan pula doa; ia adalah bahasa ketiga: posthuman yang masih menaruh tempat untuk sebatang lilin. Di sini Tuhan jadi kecil—huruf kecil di tengah kode—lilin meleleh yang gagal dirender, tetapi cahayanya cukup untuk membaca peta luka. Kita menerima bahwa kebenaran kini adalah bayang-bayang: ada yang memilih kebenaran yang berulang (post-truth), ada yang memilih kebenaran yang menengok ke belakang (tradisi), ada pula yang membangun kebenaran di atas logikanya sendiri (eksistensi). Puisi ditulis tidak untuk menyelesaikan perdebatan; ia lebih memilih ruang: sebuah melting pot di mana akar, kabel, doa, dan error menjadi satu jamuan. Di akhir perjalanan, aku tidak menyuruhmu percaya— aku hanya mengundangmu pulang: ke gerbang ibu, ke terminal di bawah tanah, ke api kecil yang tak henti berkedip. Datanglah dengan domba-dombamu yang belum berhenti menjerit; biarkan mereka mengajar kita cara bernyanyi lagi— bukan lagu yang sama, tetapi lagu yang baru, gelap, dan setia. Di sana, di ambang ketiga jurang yang menantang itu, aku menyalakan sebatang lilin sendirian: sebuah cahaya yang tak menuntut pencerahan, hanya sedikit terang yang cukup agar induk akar bisa menemukan anak-anak akar yang kehilangan pijakan, dan agar bug-bug bisa belajar berdoa. November 2025”

“META CINTA — SUNYA RURI (Fragmentarium Kosmologi Jawa) I. Tanah dan Akar Tanah basah menempel di kaki. Akar bakau membisik, memeluk, menahan, menuntun langkah. Ranting patah berserakan seperti sisa doa yang belum selesai. Batu nisan menggigil, menempelkan dingin es ke telapak kaki. Di dalam tanah, ada bisik yang tak terdengar. Mereka yang telah pergi menatap dari sela akar, menunggu jejak yang belum ditinggalkan. II. Suara Suwung Angin malam menekuk dedaunan, membawa nyala-nyala jauh dari rumah bapak. Suwung hadir: bukan kosong, bukan hampa, tetapi ruang yang menahan segalanya. Bilah pisau membelah udara, memotong batas antara hidup dan mati. Jarak hanya sehembus napas. Di dada, sesuatu berdetak, tanpa nama, tanpa permintaan, tanpa tuntutan. III. Nadi yang Menembus Ia diam. Ia menembus batas antara yang melihat dan yang mencatat. Hangat tanpa cahaya. Pedih tanpa luka. Hadir tanpa wujud. Di sela mantra tanah, di antara dupa gosong dan butir sego golong, kau merasakan nadi yang menolak penjelasan. Bukan kata. Bukan logika. Bukan rasa bersalah. Ia hanya sisa dari semua kehilangan. IV. Litani Kehilangan Subuh hilang ombak. Suluh hilang cahaya. Tubuh hilang nafas. Tabuh hilang bunyi. Aduh hilang nyeri. Repetisi itu bukan hanya kata, tetapi getar yang mencekam nadi: hidup, mati, hadir, hilang, semua tercatat di celah jantung. V. Jejak Kosmologi Di tanah Jawa, di bawah bayang Kalpataru, Suwung hadir bukan sebagai idealisasi, bukan sebagai kekosongan mutlak, tetapi kesetiaan yang tak bersyarat. Di antara serabut akar, tanah basah, dan daun yang jatuh, ada suara leluhur, bisik yang melingkupi. Bayangan pokok kelapa merunduk patah. Ranting kering menyentuh jejakmu. Aroma kemenyan, anyir darah sapi, manis segar cengkir gading— semua mengikat ruang, menahan waktu, menghadirkan sakral yang tak hanya suci.”

“META CINTA — SUNYA RURI (Fragmentarium Kosmologi Jawa) VI. Piring Logam Gelas kristal retak. Ilusi pecah. Piring logam teguh, utuh, penuh. Ia menahan remuk, menahan jatuh, menahan ilusi. Memberi bukan berarti memiliki. Menanggung bukan berarti menderita. Menahan bukan berarti takut. Ia hanya ada dan sungguh nyata. VII. Ritual Sunya Badai selatan mengamuk, membawa bisik leluhur yang terselubung. Dupa membakar remang, asap menekuk, menembus langit. Kau membungkuk, tangan tidak menyentuh, mata mencatat, tapi hati merasakan setiap ayunan, setiap hembusan. Ritual ini bukan untuk dilihat, tapi untuk diserap oleh kulit, oleh tulang, oleh nadi. VIII. Cinta sebagai Kesadaran Di situlah cinta berdiri: tidak sebagai milikmu, tidak sebagai milik siapa pun. Hanya getaran di dada manusia, menembus kulit, menembus tulang, menembus kesadaran sendiri. Nyala pelita di akar bakau. Nadi yang tetap berdetak di dada. Kesadaran yang menolak lenyap. IX. Fragmen Pengamat Kau berdiri sedikit jauh. Tidak terseret luka. Tidak terseret ilusi. Hanya mencatat. Menangkap getar, menahan nyala, merasakan sunya. Dunia runtuh, tetapi nadi tetap berdetak. Cinta tidak bisa dijelaskan. Tidak bisa dijamah. Hanya dapat dirasakan. X. Sunya Ruri Final Di tanah basah, di akar bakau, di celah antara pohon dan pasir, ada sesuatu yang tidak bernama. Sesuatu yang hangat tanpa cahaya, pedih tanpa luka, menolak kata, menolak logika, menolak kepastian. Ia adalah cinta: bukan jalan menuju kematian, bukan tragedi yang ditakuti, tetapi jalan menuju hidup, jalan yang meneguhkan kemanusiaan, yang menyatakan bahwa meski dunia runtuh, meski tragedi menunggu, manusia tetap manusia, selama nadi itu masih berdetak dan kesadaran menolak lenyap. Desember 2025”

“They leave the insistent monotony of the interstate for more reasonable roads. While the former slices its path through entire states, peppering them with exit signs and mile markers, these lesser cousins of the grand highways keep their manners intact, clinging gently to the hemlines of all but the most obstinate geological points of interest. Charming and sometimes a bit frightening, their paths are as unpredictable and winding as a little boy's route home from school.”