Quotessence
Home / Quotes / Quote by Sukarno

Quote by Sukarno

Work

Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Sukarno
Sukarno

Sukarno, born on June 6, 1901, and died on June 21, 1970, was the first President of the Republic of Indonesia. He was a prominent leader in the Indonesian independence movement, leading the nation to independence from Dutch colonial rule and serving as the first president of the newly formed Republic of Indonesia. more

You May Also Like

“Kami memang belum mampu bicara banyak di sepakbola. Namun atlit kami kami berhasil meraih podium tertinggi di event bulutangkis tertua di dunia,” sahutku bangga menahan air mata yang tinggal menunggu waktu untuk pecah. Merah putih pun berkibar dengan gagahnya beriring kumandang Indonesia Raya. (I am an Indonesian and I am proud, Dunia Tanpa Huruf R)”

“Apa arti kata pribadi dan keyakinan pribadi dan keyakinan harga diri dan nasion dan ibu dan segala istilah abstrak itu? Apa beda tentara dan gerombolan bandit? Apa beda seni kesatria dan nafsu membunuh? Apa perbedaan pahlawan kemerdekaan yang gugur dan serdadu penjajah yang mampus? Jelasnya, bagi yang mati itu? Nama harum, noda nasib? Semua jenderal yang menang disebut pahlawan, semua jenderal yang kalah disebut penjahat perang. Oleh siapa sebenarnya nama harum dan pujaan itu sebetulnya dibutuhkan? Oleh yang mati atau yang menjadi ahli waris ataua kelompok yang membutuhkan legitimasi? Pemerkokoh ideologi yang ditentukan apriori?”

“La démocratie vit de mouvements, de changements, d’agencements contractuels, de temps fluides, de dynamiques permanentes, de jeux dialectiques. Elle se crée, vit, change, se métamorphose, se construit en regard d’un vouloir issu de forces vivantes. Elle recourt à l’usage de la raison, au dialogue des parties prenantes, à l’agir communicationnel, à la diplomatie autant qu’à la négociation. La théocratie fonctionne à l’inverse : elle nait, vit et jouit de l’immobilité, de la mort et de l’irrationnel. La théocratie est l’ennemie la plus à craindre de la démocratie, avant-hier à Paris avant 1789, hier à Téhéran en 1978, et aujourd’hui chaque fois qu’Al-Quaïda fait parler la poudre.”