Quotessence
Home / Quotes / Quote by Jennifer L. Armentrout

Quote by Jennifer L. Armentrout

Work

A Kingdom of Flesh and Fire

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Jennifer L. Armentrout

Browse famous quotes and profile details for Jennifer L. Armentrout. more

You May Also Like

“Via Dolorosa Mari kita berhenti sejenak untuk menghela napas, setelah perjalanan ke Golgotha yang menyiksa tubuh dan batin. Kayu salib yang kau pikul itu menyerap seluruh inti dosa, seperti menatap jauh ke pusat matahari dan membaca kucuran darah dalam goresan sejarah: tubuh rapuh anak manusia. Sebab biji-biji rosario yang kau daraskan dalam lantunan doa bukanlah sekadar wujud dosa atau penyesalan; itu adalah teologi batinmu yang utuh, penebusan dalam pernyataan iman yang tak pernah kau ucapkan terang-terangan. Dan Sang Mesias—dalam ketelanjangan yang tak mungkin ditutup-tutupi— bukanlah karakter rekaan dari kabut kebodohan atau kebohongan. Ia adalah kebenaran yang memutuskan menampakkan diri. Bukan raga leta yang dibungkus sebagai fiksi agar kebenaran dapat ditanggung, agar cahaya dapat diterima sebagai pijar pengetahuan sejati. Meski untuk itu, setiap yang percaya harus rela membiarkan sebagian dirinya hangus. Maka aku mengetuk pintu rumahmu, memohon menjadi tamu agar dapat membaca kedalamanmu tanpa prasangka, bukan melalui tafsir yang menyesatkan, melainkan atas kehendakmu sendiri. Dan kau izinkan aku menjumpai Sang Anima— bukan siluet samar pada kaca yang retak, melainkan kesadaran yang mengenakan raga hanya untuk mengajar kita apa arti sesungguhnya menjadi manusia. Ternyata ia adalah: tubuh yang terluka, ruh yang berdoa, jiwa yang menopang derita, kebenaran yang terus dicari, kesadaran yang paling jujur, luka yang akhirnya diakui, cinta yang bersembunyi— pengakuan yang tak sanggup kita lafalkan dalam ritus mana pun. Itulah jalan salib psikologis yang tak seorang pun ingin tempuh sendirian: pengampunan yang getir, simbol penebusan yang belum selesai, roh suci penuntun arah, ruang rekonsiliasi yang tertunda, arena duel antara jiwa dan masa lalu, perkamen sejarah yang menulis ulang dirinya sendiri. Dan meski berat, kau telah mengungkapkan perasaanmu dengan ketelanjangan yang tak mungkin kaupalsukan. Sebab pada ujung perhentian, malaikat akan bertanya kepadamu: apakah engkau akan berdiri di sana sebagai saksi— atau sebagai jiwa yang menunggu giliran untuk diadili? Via Dolorosa yang membentang di hadapanmu adalah sebuah persimpangan: ke mana engkau hendak menuju— salib atau kebangkitan? Lihatlah bagaimana Ia menyerahkan luka-lukanya untuk dilihat dunia tanpa tabir. Kita menyebutnya radikal, kita menyebutnya rapuh, kita menyebutnya pengorbanan— padahal mungkin itu hanyalah cara kebenaran mengundang kita untuk jujur pada diri sendiri. Keraguan yang kini menggantung di udara: siapa yang menghujat? siapa yang memukul dada sambil memohon ampun? Sampai akhirnya kita tiba pada pertanyaan yang tak bisa lagi ditunda: Setelah semua ini, apakah kau dan aku akan bangkit bersama-Nya? Apakah pada akhirnya, kita akan diselamatkan? November 2025”

“The family is the cradle of the world’s misinformation. There must be something in family life that generates factual error. Over-closeness, the noise and heat of being. Perhaps even something deeper like the need to survive. Murray says we are fragile creatures surrounded by a world of hostile facts. Facts threaten our happiness and security. The deeper we delve into things, the looser our structure may seem to become. The family process works towards sealing off the world. Small errors grow heads, fictions proliferate. I tell Murray that ignorance and confusion can’t possibly be the driving forces behind family solidarity. What an idea, what a subversion. He asks me why the strongest family units exist in the least developed societies. Not to know is a weapon of survival, he says. Magic and superstition become entrenched as the powerful orthodoxy of the clan. The family is strongest where objective reality is most likely to be misinterpreted. What a heartless theory, I say. But Murray insists it’s true.”

“Je doute que toute la philosophie du monde parvienne à supprimer l'esclavage : on en changera tout au plus le nom. Je suis capable d'imaginer des formes de servitudes pires que les notre parce que plus insidieuses : soit qu'on réussisse à transformer les hommes en machines stupides et satisfaites, qui se croient libres alors qu'elles sont asservies, soit qu'on développe chez eux, à l'exclusion des loisirs et des plaisirs humains, un goût du travail aussi forcené que la passion de la guerre chez les races barbares. A cette servitude de l'esprit, ou de l'imagination humaine, je préfère encore notre esclavage de fait.”

“Je doute que toute la philosophie du monde parvienne à supprimer l'esclavage : on en changera tout au plus le nom. Je suis capable d'imaginer des formes de servitudes pires que les nôtres parce que plus insidieuses : soit qu'on réussisse à transformer les hommes en machines stupides et satisfaites, qui se croient libres alors qu'elles sont asservies, soit qu'on développe chez eux, à l'exclusion des loisirs et des plaisirs humains, un goût du travail aussi forcené que la passion de la guerre chez les races barbares. A cette servitude de l'esprit, ou de l'imagination humaine, je préfère encore notre esclavage de fait.”