Quotessence
Home / Quotes / Quote by Debasish Mridha

Quote by Debasish Mridha

“Often religious education teaches us to conform and creates a psychological prison which is difficult to escape.”

Quote by Debasish Mridha

Author

Debasish Mridha

Browse famous quotes and profile details for Debasish Mridha. more

You May Also Like

“She reached up and rubbed the four-leaf clover charm, saying a quick prayer for faith, hope, love, and luck. Faith that everything would turn out, hope that what was lost could be restored, gratitude that she had found the love of the woman who had born her, and at the end she tacked on a heartfelt request for a little bit of luck to smooth out these next uncertain, scary steps.”

“Sekularisme bukan hanya sebagai suatu faham yang memberi tumpuan kepada aspek-aspek keduniaan (kehidupan duniawi atau worldly life) tetapi sebagai program falsafah suatu aliran pemikiran yang cuba mentafsirkan realiti dan kebenaran hanya berdasarkan rasionalisme murni. Para ahli falsafah Barat yang sekular sejak zaman pencerahan (enlightenment) telah melakukan pensekularan manusia, alam dan agama sehingga hakikat, makna dan peranan manusia, alam dan agama telah berubah dari faham yang berasaskan pada agama kepada faham yang berasaskan kepada akal rasional semata-mata.”

“Pernyataan bahwa sekularisasi mempunyai akarnya di dalam kepercayaan Injil dan merupakan natijah dari ajaran Injil, tidak didukung oleh fakta sejarah. Akar sekularisasi bukan adlam kepercayaan kitab Injil, melainkan di dalam tafsiran manusia Barat terhadap kepercayaan kitab tersebut; ini bukanlah buah dari ajaran Injil, tetapi natijah dari sejarah panjang perseteruan dalam filsafat dan metafisika antara pandangan alam (worldview) manusia Barat yang bersandarkan agama dengan yang rasionalis murni.”

“Paradigma sekular dan liberal yang mencirikan peradaban Barat hari ini telah meruntuhkan semua kebenaran mutlak. Setiap dakwaan kebenaran telah menjadi relatif dari segi masa (historicization of truth); relatif dari segi geografi, budaya dan status sosial (sociology of knowledge); relatif dari segi sifat bahasa manusia yang terbatas (the limits of language); relatif dilihat dari perspektif hermeneutika kerana setiap pemerhati adalah juga pentafsir. Oleh yang demikian, dilihat dari sudut yang pelbagai itu, pemaknaan tentang sesuatu perkara selamanya bersifat sementara, terbatas, maka untuk mengatasi keterbatasan ini perspektif yang lain harus diambil kira. Di sinilah faham pluralisme dianggap penting untuk menghalang manusia dari kecenderungan mengabsolutkan yang relatif.”