Quotessence
Home / Quotes / Quote by S.M. Zakir

Quote by S.M. Zakir

“ini zaman semangat kebebasan dari cerita purba bangun sebagai bangkai helang dari masalalu berdiri dan bangkit atas dasar pencerahan baru dan akal diagungkan semula (Perjalanan 3)”

Quote by S.M. Zakir

Work

Perjalanan Sang Zaman

Browse quotes and source details for this work. more

Author

S.M. Zakir

Browse famous quotes and profile details for S.M. Zakir. more

You May Also Like

“Protokol Keberadaan // (Dekonstruksi: Sartre · Camus · Derrida) Di ruang tanpa tripod penyangga— aku berdiri sendirian, kata-kata bergetar. Kebebasan? kata itu berdaki pada bibirku seperti tinta lama yang telah mengering. Kudeklarasikan: aku memilih— lalu sistem membaca ulang pilihanku, menemukan trace yang tak pernah kuketik: jejak-jejak luka, différance yang tersisa. Camus menaruh batu di pangkuanku; aku menolak mengangkatnya. Ia bilang: lakukan pemberontakan, hidup menuntut upaya menanggung absurditas. Aku bertanya: siapa yang menulis perintah itu dalam log jam; apakah log memberi status: sah atau hanya pesan error yang terulang? Sartre berbisik: kau adalah keputusan; kau bukan takdir. Tapi siapa yang menyetujui keputusan itu ketika kata 'aku' sendiri adalah naskah yang dapat dipanggil ulang, dikopi, di-paste ke tubuh lain? Kebebasan itu jadi modul: terinstal, terhapus, di-restore oleh cinta dan kerinduan. Derrida tersenyum dalam bayangannya—bukan menghina, melainkan menyodorkan sebilah pisau: “Bongkar premisnya. Baca ulang tanda-tanda. Perhatikan sisipan yang kau anggap pasti.” Sekali kuteruskan kata “hak”, ia menjadi pantulan: hak untuk memilih 》 hak yang dimaknai 》 hak yang dibaca ulang. Selalu ada kemungkinan lain di balik tiap premis—sebuah residu yang tak bisa dimusnahkan. Jadi aku menulis dengan alfabet yang tak terikat: kata seperti partikel, seperti byte; mereka bergerak, meninggalkan jejak, membentuk makna bukan sebagai titik, tapi sebagai radiasi—gelombang yang menunda kehadiran. Aku menunggu diferensiasi itu: makna yang datang telat, menunda, menggoda, melepaskan diri. Ketika aku menolak keabadian—aku merdeka; ketika aku menuntut makna—aku terjerat. Absurd bukanlah lubang kecil; ia adalah kondisi komputasi yang terus-menerus crash. Kita reboot, kita mencari error log, kita menambal dengan mitos, doa, slogan, retorika— lalu satu baris kode lagi menghapus semuanya, meninggalkan prompt: > Siapa kamu? Maka puisi bukanlah jawaban—ia adalah protokol: baca—hapus—tunda—ulang. Dalam ritme itu aku menemukan sebuah rahmat sirkuler: kebebasan yang diakui sebagai kebebasan untuk tetap ragu atau selamanya ambigu. Aku menapaki ruang antara kata dan bisikan. Di sana, warna hitam bukan nihil; ia adalah pagar yang memaksa pandang. Di sana, doa bukanlah mukjizat; ia menjadi setitik delay yang menyelamatkan kita dari aksi. Di sana, aku mengakui: aku mungkin hanya efek samping dari keputusan yang belum kumengerti. Tapi ada pula sesuatu yang tak bisa di-deconstruct: getar tak terbaca di dada, ketika aku memilih untuk menanggung, bukan hanya berargumen tentang siapa yang harus menanggung. Ada keberanian yang tidak perlu diideologikan—hanya dipraktikkan: memilih lagi, meski tahu teks bisa berubah rupa di saat kita membacanya. Di ujungnya, kita tidak akan menemukan definisi yang bertahan seutuhnya; kita menemukan sebuah kebiasaan: berani membuka kata, menunggu trace, mendengar gema. Itu bukan absurd semata; itu adalah ritual perulangan yang membawa kita pada perjumpaan— bukan dengan kebenaran yang tunggal, melainkan dengan kebenaran yang berkorelasi: kebenaran yang bersedia menjadi ruang tunggu tempat bertemu, bukan batu yang membebani. Jadi datanglah, pilih: tetap berpegang pada batu yang membuatmu runtuh, atau berdiri di ambang uraian, tempat kata-kata menjadi medan peperangan, dan kebebasan adalah aktivitas terus-menerus— sebuah kerja pikiran, bukan klaim monumental. Di sana, antara deklarasi dan keraguan, kita mendirikan puisi ini: sebuah protokol kecil untuk hidup yang tidak puas dengan kepastian, sebuah doa yang bisa di-debug, namun tak pernah sepenuhnya dapat dimusnahkan. November 2025”

“De andersdenkende mag de andere niet de mond snoeren, anders zal hij hem op zijn beurt ook ooit de mond snoeren en verdrukken. Telkens wanneer hij er zich toe verlaagt een mening te onderdrukken in plaats van haar te weerleggen, moet die beseffen dat zijn eigen opinie ooit ook onderdrukt zal worden. Laat de doctrines ontstaan en ontwikkelen zonder obstakels, we dienen slechts de vrijheid te verdedigen als die alleen geld voor alle burgers. Ook die van diegene die een doctrine hebben die volkomen tegengesteld is aan de onze.”