Quotessence
Home / Quotes / Quote by Shivanshu K. Srivastava

Quote by Shivanshu K. Srivastava

“A judge’s greatest duty is not merely to interpret laws but to ensure justice is delivered without fear or favour. Law must remain a shield for the vulnerable, not a weapon for the powerful. A fair courtroom is the soul of democracy.”

Quote by Shivanshu K. Srivastava

Author

Shivanshu K. Srivastava

Browse famous quotes and profile details for Shivanshu K. Srivastava. more

You May Also Like

“ASSertive, ill-informed, and misguided leadership at the expense of organizational morale, climate, soldier well-being, and taking care of a soldier's support system isn't leadership at all; it's the chemistry for eroded trust, values, warrior ethos, ethics, and discipline, which takes far longer to rebuild than it took to destroy”

“In the end, I realized that the things in life that I valued most—family, friends, integrity—weren't contingent on business outcomes and couldn't be taken away from me no matter what. Framed that way, all the challenges and risks of running a business were imminently more manageable. In that formulation, the riskiest proposition of all is to lose sight of who I was. To betray myself was the only way to truly fail. And for that reason, I left—with nothing but with everything.”

“Kusadari bahwa dunia telah memecah-mecah segalanya, memecah-mecah manusi amenjadi tuan dan budak, memecah perseorangan menjadi pikiran dan tubuh, dan memecah-mecah tubuh menjadi bagian yang terhormat dan yang tak terhormat. Kusadari bahwa dunia telah memecah-mecah segala sesuatu, kecuali diriku sendiri. Telah dipecah-pecahnya laki-laki, perempuan, anak-anak, penguasa dan yang dikuasai. Tak ada yang memisahkan pemecahan-pemecahan politik dari pemecahan-pemecahan seksual. Seniman yang jujur tahun dengan kejujurannya ke permainan politik dan tenggelam dengan seninya dalam jerat-jerat seks. Politik dan seks adalah musuh-musuh seni dan manusia. Tapi seorang seniman, yang dengan seninya, mengingatkan diri kepada jajaran orang-orang yang diperintah dengan nama apa saja atau negeri apa saja; yang, melalui kemanusiannya, menolak tubuh para penguasa dalam segala bentuk; yang, menurut pandangannya, tertarik kepada seks karena ilusi mengenai cinta; yang mengikatkan diri dengan dunia ini dan segala isinya, sementara diketahuinya dengan pasti bahwa dunia ini akan memecah-mecah dirinya, orang ini sama merasa pasti bahwa ia takkan dipecah-pecah.”