Quotessence
Home / Books / موت معالي الوزير سابقاً

موت معالي الوزير سابقاً

Book by Nawal El Saadawi · 6 quotes · Art, Arts, Category

Filter quotes by topic

موت معالي الوزير سابقاً Quotes

“Apakah sudah nasibku untuk menjadi lain daripada apa yang telah disuratkan nasib? Tidak menjadi perempuan (menurut pengertian kata ini yang diterima orang) dan tidak menjadi dokter (menurut gelarku dari sekolah kedokteran)? Atau memang sudah nasibku untuk menjadi orang sebelum menjadi perempuan, menjadi seorang seniman sebelum menjadi seorang dokter?”

“Dapatkah kukatakan bahwa seni adalah pilihanku dan keinginanku tapi bahwa aku kebetulan seorang perempuan? Bahwa sejak masa kanak-kanakku telah kutolak sifat keperempuananku karena sifat itu bukan diriku, bukan buatanku, tapi buatan dunia yang penuh dengan kejantanan tapi tanpa laki-laki? Dapatkah kukatakan bahwa kuhadapi hidup ini hanya dengan kecerdasannya sedikit, tapi dengan perasaan cinta yang banyak? Bahwa aku tidak memuji kecerdasan, walaupun kupunyai diploma-diploma kedokteran, karena dunia di sekitar kita yang mencetak kecerdasan kita? Dan karena dunia ini palsu, dunia ini telah membuat kecerdasan kita palsu pula. Dalam revolusi kita menentang dunia ini, harus kita lawan cerdasnya nalar kita sendiri. Dapatkah kukatakan semua ini? Dan seandainya aku harus mengatakannya, apakah akan ada orang yang memercayaiku?”

“Tapi aku lebih beruntung daripada laki-laki lain. Sebagian lelaki meninggalkan dunia ini sambil tetap percaya bahwa mereka adalah satu-satunya lelaki di bumi ini. Apa katamu? Perempuan tahu akan hal ini sejak semula? Ya, sayangku. Perempuan lebih cerdik daripada laki-laki. Seorang perempuan selalu tahu bahwa ia bukanlah perempuan satu-satunya di bumi ini.”

“Kusadari bahwa dunia telah memecah-mecah segalanya, memecah-mecah manusi amenjadi tuan dan budak, memecah perseorangan menjadi pikiran dan tubuh, dan memecah-mecah tubuh menjadi bagian yang terhormat dan yang tak terhormat. Kusadari bahwa dunia telah memecah-mecah segala sesuatu, kecuali diriku sendiri. Telah dipecah-pecahnya laki-laki, perempuan, anak-anak, penguasa dan yang dikuasai. Tak ada yang memisahkan pemecahan-pemecahan politik dari pemecahan-pemecahan seksual. Seniman yang jujur tahun dengan kejujurannya ke permainan politik dan tenggelam dengan seninya dalam jerat-jerat seks. Politik dan seks adalah musuh-musuh seni dan manusia. Tapi seorang seniman, yang dengan seninya, mengingatkan diri kepada jajaran orang-orang yang diperintah dengan nama apa saja atau negeri apa saja; yang, melalui kemanusiannya, menolak tubuh para penguasa dalam segala bentuk; yang, menurut pandangannya, tertarik kepada seks karena ilusi mengenai cinta; yang mengikatkan diri dengan dunia ini dan segala isinya, sementara diketahuinya dengan pasti bahwa dunia ini akan memecah-mecah dirinya, orang ini sama merasa pasti bahwa ia takkan dipecah-pecah.”

“Dulu aku takut akan dua hal: kekelaman dan maut. Aku akan menyelinap keluar dari tempat tidurku yang kecil pada tengah malam dan mengendap masuk ke tempat tidur ibuku. Kususupkan tubuhku ke tubuhnya yang hangat dan aku tak mau berpisah dari ibuku. Kulengkungkan tubuhku agar menjadi lebih kecil dan kucoba untuk menciutkan diriku hingga ukuran janin yang dapat kembali ke rahim ibuku. Segenap tubuhku bergetar dengan keinginan yag kuat ini dan getar seperti dalam demam. Kupikir tak ada yang dapat menyelamatkan diriku dari maut yang mendekat dalam kelam kecuali jika aku menghilang ke dalam rahim yang hangat dan lembut itu yang akan membungkus diriku sendirian di sana.”