Quotessence
Home / Authors / Nawal El Saadawi Books
Nawal El Saadawi

Nawal El Saadawi Books

Writer

In Camera

A source page for quotes linked to Nawal El Saadawi.

0 quotes

Two Women in One

A source page for quotes linked to Nawal El Saadawi.

0 quotes

Related Quotes

“But when I was a prostitute I protected myself, fought back at every moment, was never off guard. To protect my deeper, inner self from men, I offered them only an outer shell. I kept my heart and soul, and let my body plat its role, its passive, inert, unfeeling role. I learnt to resist by being passive, to keep myself whole by offering nothing, to live by withdrawing to a world of my own. In other words, I was telling the man he could have my body, he could have a dead body, but he would never be able to make me react, or tremble, or feel either pleasure or pain. I made no effort, expended no energy, gave no affection, provided no thought. I was therefore never tired or exhausted.”

“Apakah sudah nasibku untuk menjadi lain daripada apa yang telah disuratkan nasib? Tidak menjadi perempuan (menurut pengertian kata ini yang diterima orang) dan tidak menjadi dokter (menurut gelarku dari sekolah kedokteran)? Atau memang sudah nasibku untuk menjadi orang sebelum menjadi perempuan, menjadi seorang seniman sebelum menjadi seorang dokter?”

“Seorang manusia tidak dapat bertahan terhadap kekalahan ganda. Itu adalah rahasia dari upaya mereka yang berkesinambungan untuk mendapatkan kekuasaan. Mereka mendapatkan suatu perasaan keunggulan dari kekuasaan mereka terhadap orang lain. Hal ini membuat mereka merasa menang daripada menderita kekalahan. Jadi tersembunyi kenyataan betapa kosongnya mereka itu dari dalam, sekalipun terhadap kesan kebesaran yang mereka usahakan menyebarluaskan ke sekeliling mereka. Satu-satunya hal yang mereka inginkan.”

“Dapatkah kukatakan bahwa seni adalah pilihanku dan keinginanku tapi bahwa aku kebetulan seorang perempuan? Bahwa sejak masa kanak-kanakku telah kutolak sifat keperempuananku karena sifat itu bukan diriku, bukan buatanku, tapi buatan dunia yang penuh dengan kejantanan tapi tanpa laki-laki? Dapatkah kukatakan bahwa kuhadapi hidup ini hanya dengan kecerdasannya sedikit, tapi dengan perasaan cinta yang banyak? Bahwa aku tidak memuji kecerdasan, walaupun kupunyai diploma-diploma kedokteran, karena dunia di sekitar kita yang mencetak kecerdasan kita? Dan karena dunia ini palsu, dunia ini telah membuat kecerdasan kita palsu pula. Dalam revolusi kita menentang dunia ini, harus kita lawan cerdasnya nalar kita sendiri. Dapatkah kukatakan semua ini? Dan seandainya aku harus mengatakannya, apakah akan ada orang yang memercayaiku?”

“Putriku, bagaimana kau tahan sedemikian banyak penderitaan dan kepedihan? Bagaimana aku menahannya bersamamu dulu? Selalu kurasa, putriku, bahwa engkau mampu melakukan apa saja, memindahkan gunung atau menghancurkan batu-batu karang, walaupun tubuhmu kecil dan lemah seperti juga diriku. Namun ketika kaki-kakimu yang kecil mungil menendang-nendang dinding lambungku, aku berkata kepada diriku: Tuhan, kekuatan yang apa ada dalam tubuhku ini? Gerakanmu kuat ketika kau masih sebuah janin dan mengguncangku dari dalam, sebagaimana gunung berapi yang mengguncang bumi. Namun kutahu bahwa engkau sekecil diriku, tulang-tulangmu kecil seperti tulang-tulang ayahmu, setinggi dan serampingnenekmu, sedangkan kedua kakimu sebesar kaki para nabi. Ketika kau lahir, nenekmu mengatupkan bibirnya dalam kesedihan dan berkata: Ah, seorang anak perempuan dan jelek lagi! Bencana ganda! Kutegangkan otot-otot lambungku untuk menahan rasa sakit di rahimku dan menghentikan darah dan sambil bernafas dengan sulit karena kelahiranmu sukar dan aku menderita seakan-akan kulahirkan sebuah gunung, kukatakan kepada nenekmu: Bagiku ia lebih berharga daripada seisi dunia ini! Kudekap engkau ke dadaku dan aku pun tertidur nyenyak. Dapatkah aku, Putriku, kembali menikmati saat tidur nyenyak ketika engkau berada di dalam diriku atau setidak-tidaknya dekat denganku sehingga dapat kuulurkan tanganku untuk menyentuhmu? Atau ketika engkau berada di kamarmu di sebelah kamarku sehingga aku dapat berjingkat untuk menjengukmu waktu kau tidur?”

“Tapi aku lebih beruntung daripada laki-laki lain. Sebagian lelaki meninggalkan dunia ini sambil tetap percaya bahwa mereka adalah satu-satunya lelaki di bumi ini. Apa katamu? Perempuan tahu akan hal ini sejak semula? Ya, sayangku. Perempuan lebih cerdik daripada laki-laki. Seorang perempuan selalu tahu bahwa ia bukanlah perempuan satu-satunya di bumi ini.”

“In our country we use different words [than feminism] which mean the liberation or the emancipation of women. Of course I believe in the emancipation of women. It will change a lot of things in society for the better. But, you know, the class patriarchal system under which we live oppresses men too and the discrimination from which women suffer is not good for the life of men. Don’t you think so?”

“Kusadari bahwa dunia telah memecah-mecah segalanya, memecah-mecah manusi amenjadi tuan dan budak, memecah perseorangan menjadi pikiran dan tubuh, dan memecah-mecah tubuh menjadi bagian yang terhormat dan yang tak terhormat. Kusadari bahwa dunia telah memecah-mecah segala sesuatu, kecuali diriku sendiri. Telah dipecah-pecahnya laki-laki, perempuan, anak-anak, penguasa dan yang dikuasai. Tak ada yang memisahkan pemecahan-pemecahan politik dari pemecahan-pemecahan seksual. Seniman yang jujur tahun dengan kejujurannya ke permainan politik dan tenggelam dengan seninya dalam jerat-jerat seks. Politik dan seks adalah musuh-musuh seni dan manusia. Tapi seorang seniman, yang dengan seninya, mengingatkan diri kepada jajaran orang-orang yang diperintah dengan nama apa saja atau negeri apa saja; yang, melalui kemanusiannya, menolak tubuh para penguasa dalam segala bentuk; yang, menurut pandangannya, tertarik kepada seks karena ilusi mengenai cinta; yang mengikatkan diri dengan dunia ini dan segala isinya, sementara diketahuinya dengan pasti bahwa dunia ini akan memecah-mecah dirinya, orang ini sama merasa pasti bahwa ia takkan dipecah-pecah.”

“Dulu aku takut akan dua hal: kekelaman dan maut. Aku akan menyelinap keluar dari tempat tidurku yang kecil pada tengah malam dan mengendap masuk ke tempat tidur ibuku. Kususupkan tubuhku ke tubuhnya yang hangat dan aku tak mau berpisah dari ibuku. Kulengkungkan tubuhku agar menjadi lebih kecil dan kucoba untuk menciutkan diriku hingga ukuran janin yang dapat kembali ke rahim ibuku. Segenap tubuhku bergetar dengan keinginan yag kuat ini dan getar seperti dalam demam. Kupikir tak ada yang dapat menyelamatkan diriku dari maut yang mendekat dalam kelam kecuali jika aku menghilang ke dalam rahim yang hangat dan lembut itu yang akan membungkus diriku sendirian di sana.”

“Saya tahu apa sebabnya mereka itu begitu takutnya kepada saya. Saya lah satu-satunya perempuan yang telah membuka kedok mereka dan memperlihatkan muka kenyataan buruk mereka. Mereka menghukum saya sampai mati bukan karena saya telah membunuh seorang lelaki —beribu-ribu orang yang dibunuh tiap hari— tetapi karena mereka takut untuk membiarkan saya hidup. Mereka tahu bahwa selama saya masih hidup mereka tidak akan aman, bahwa saya akan membunuh mereka. Hidup saya berarti kematian mereka. Kematian saya berarti hidup mereka. Mereka ingin hidup. Dan hidup bagi mereka berarti semakin banyak kejahatan, semakin banyak perampokan, perampasan yang tak terbatas. Saya telah memang atas keduanya, kehidupan dan kematian, karena saya sudah tidak lagi mempunyai hasrat untuk hidup, juga tidak lagi merasa takut mati. Saya tidak mengharapkan apa-apa. Saya tidak takut apa-apa. Karena selama hidup itu adalah keinginan, harapan, ketakutan kita yang memperbudak kita. Kebebasan yang saya nikmati membuat mereka marah. Mereka ingin mengetahui, bahwa bagaimanapun juga ada sesuatu yang saya inginkan, harapkan, dan takutkan. Kemudian mereka akan tahu bahwa mereka dapat memperbudak saya lagi.”

“Kebenaran itu selalu mudah dan sederhana. Dan dalam kesederhanaannya itu terletak kekuasaan yang ganas. Karena, jarang sekali orang dapat mencapai kebenaran primitif dan mengagumkan dari suatu kehidupan setelah bertahun-tahun penuh perjuangan. Karena, memang jarang sekali orang tiba pada kebenaran hidup, yang sederhana, tetapi menakutkan dan penuh kekuatan, setelah hanya beberapa tahun. Dan untuk sampai pada kebenaran berarti bahwa seseorang tidak lagi merasa takut mati. Karena kematian dan kebenaran adalah sama dalam hal bahwa keduanya mensyaratkan keberanian yang besar bila seseorang ingin menghadapi mereka. Dan kebenaran adalah seperti kematian dalam arti membunuh. Ketika saya membunuh, saya lakukan hal itu dengan kebenaran bukan dengan sebilah pisau. Itulah yang menyebabkan mereka takut dan tergesa-gesa untuk melaksanakan hukumannya terhadap saya. Mereka tidak takut kepada pisau saya. Kebenaran saya itulah yang menakutkan mereka. Kebenaran yang menakutkan ini telah memberikan kepada saya kekuatan yang besar. Ia melindungi saya dari rasa takut mati, atau takut kehidupan, rasa lapar, atau ketelanjangan, atau kehancuran. Adalah kebenaran yang menakutkan ini yang mencegah saya merasa takut kepada kekurangajaran penguasa dan para petugas kepolisian.”

“Mungkinkah engkau tidak di ruangan ini, Ibu? Apakah Ayah masih sakit? Hidungnya pun terus bergerak ke sana ke mari, mencari-cari bau yang dikenalnya, bau dada yang hangat penuh susu, bau matahari dan hujan rintik di atas rumput. Namun hidungnya tak bisa menangkap bau itu. Yang dapat ditangkapnya hanya bau tubuhnya yang meringkuk di tempat duduknya dan luka yang menganga di antara kedua pahanya. Bau nanah dan darah dan bau busuk dan amis nafas dan keringat sepuluh lelaki, yang tanda-tanda goresan kukunya masih ada di tubuhnya, dengan suara-suara kasar mereka, ludah mereka dan bunyi mereka mendengus. Salah seorang dari kesepuluh laki-laki itu, ketika masih menindihnya, berkata: Beginilah caranya kami menyiksa engkau perempuan -- kami rampas sesuatu yang paling berharga yang kau punyai. Tubuhnya yang berada di bawah tubuh laki-laki itu sedingin mayat, tapi ia mampu membuka mulutnya dan berkata: Kalian tolol! Sesuatu yang paling berharga yang kupunyai bukan yang terletak di antara kedua tungkaiku ini. Kalian semua tolol. Dan yang paling tolol di antara kalian semua adalah dia yang memimpin kalian.”

“Prostitution means sexual intercourse between a man and a woman aimed at satisfying the man's sexual and the woman's economic needs. It is obvious that sexual needs, even in a male dominated system, are not as urgent and important as economic needs which, if not satisfied, lead to disease and death. Yet society considers the woman's economic need as less vital than the man's sexual one.”

“Motherhood goes back in history to a time when a father had no way of knowing his children. Fatherhood only became known when class patriarchal society had established itself and imposed monogamous marriage on women. Motherhood is like sun and rain and plants, a quality and product of nature which does not require laws or systems in order to exist.”

“Thus, after a period of about two thousand years the greatest crime became to worship a god other than the God of Moses, whereas injustice became a minor sin. I began to ask myself how this change had come about. Was it linked to a new order in which the female goddesses had been replaced by one male god?”