Quotessence
Home / Quotes / Quote by Nawal El Saadawi

Quote by Nawal El Saadawi

“Saya tahu apa sebabnya mereka itu begitu takutnya kepada saya. Saya lah satu-satunya perempuan yang telah membuka kedok mereka dan memperlihatkan muka kenyataan buruk mereka. Mereka menghukum saya sampai mati bukan karena saya telah membunuh seorang lelaki —beribu-ribu orang yang dibunuh tiap hari— tetapi karena mereka takut untuk membiarkan saya hidup. Mereka tahu bahwa selama saya masih hidup mereka tidak akan aman, bahwa saya akan membunuh mereka. Hidup saya berarti kematian mereka. Kematian saya berarti hidup mereka. Mereka ingin hidup. Dan hidup bagi mereka berarti semakin banyak kejahatan, semakin banyak perampokan, perampasan yang tak terbatas. Saya telah memang atas keduanya, kehidupan dan kematian, karena saya sudah tidak lagi mempunyai hasrat untuk hidup, juga tidak lagi merasa takut mati. Saya tidak mengharapkan apa-apa. Saya tidak takut apa-apa. Karena selama hidup itu adalah keinginan, harapan, ketakutan kita yang memperbudak kita. Kebebasan yang saya nikmati membuat mereka marah. Mereka ingin mengetahui, bahwa bagaimanapun juga ada sesuatu yang saya inginkan, harapkan, dan takutkan. Kemudian mereka akan tahu bahwa mereka dapat memperbudak saya lagi.”

Quote by Nawal El Saadawi

Work

Woman at Point Zero

This novel delves into the life of a woman living in poverty in Egypt, highlighting her struggles and resilience in the face of adversity. more

Author

Nawal El Saadawi
Nawal El Saadawi

Nawal El Saadawi is an Egyptian writer, physician, and feminist. Her works widely address themes such as women's status, gender equality, and social justice. Born on October 27, 1931, her works have had a profound impact in the Arab world and globally. more

You May Also Like

“We know exactly what we need to do in order to avert climate breakdown. We need to mobilise a rapid rollout of renewable energy – a global Green New Deal – to cut world emissions in half within a decade and get to zero before 2050. Keep in mind that this is a global average target. High-income nations, given their greater responsibility for historical emissions, need to do it much more quickly, reaching zero by 2030. It is impossible to overstate how dramatic this is; it is the single most challenging task that humanity has ever faced. The good news is that it is absolutely possible to achieve. But there’s a problem: scientists are clear that it cannot be done quickly enough to keep temperatures under 1.5°C, or even 2°C, if we keep growing the economy at the same time. Why? Because more growth means more energy demand, and more energy demand makes it all the more difficult – impossible, in fact – to roll out enough renewables to cover it in the short time we have left.”

“The child of a poor farmer or a construction worker has as much right to a healthy and happy life, as the child of a billionaire - and till we make it happen, not a single day can go without our involvement to lift our society with our own two hands. This very involvement is the very lifeblood of a functional democracy.”

“Inequality may not be fair but is necessary for progress. When resources are distributed to people equally, you establish equality of outcome. If you photograph for a living or build rockets to colonize solar system - equality of outcome will establish the same value for both. It does not reward for resource-intensive and risky operations and discourages the development & progress because it's as valuable as photographing. Any reasonable person will do less complicated things if he is compensated in the same way. BUT, when resources are unequally distributed - it distributes values too. It means it systemically designs 'rich & poor' people. It means if you are poor, then you can become rich. To complete this transformation, you must do something valuable. In this way, minor and huge progress happens. No matter if you are rich or poor - you will need opportunities. It is the way we interact with opportunities constructs inequality.”

“Kebenaran itu selalu mudah dan sederhana. Dan dalam kesederhanaannya itu terletak kekuasaan yang ganas. Karena, jarang sekali orang dapat mencapai kebenaran primitif dan mengagumkan dari suatu kehidupan setelah bertahun-tahun penuh perjuangan. Karena, memang jarang sekali orang tiba pada kebenaran hidup, yang sederhana, tetapi menakutkan dan penuh kekuatan, setelah hanya beberapa tahun. Dan untuk sampai pada kebenaran berarti bahwa seseorang tidak lagi merasa takut mati. Karena kematian dan kebenaran adalah sama dalam hal bahwa keduanya mensyaratkan keberanian yang besar bila seseorang ingin menghadapi mereka. Dan kebenaran adalah seperti kematian dalam arti membunuh. Ketika saya membunuh, saya lakukan hal itu dengan kebenaran bukan dengan sebilah pisau. Itulah yang menyebabkan mereka takut dan tergesa-gesa untuk melaksanakan hukumannya terhadap saya. Mereka tidak takut kepada pisau saya. Kebenaran saya itulah yang menakutkan mereka. Kebenaran yang menakutkan ini telah memberikan kepada saya kekuatan yang besar. Ia melindungi saya dari rasa takut mati, atau takut kehidupan, rasa lapar, atau ketelanjangan, atau kehancuran. Adalah kebenaran yang menakutkan ini yang mencegah saya merasa takut kepada kekurangajaran penguasa dan para petugas kepolisian.”